Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuaca Pemicu Kebakaran Hutan Naik 3 Kali Lipat, Bagaimana di Asia Tenggara?

Kompas.com, 19 Februari 2026, 14:05 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AP

KOMPAS.com - Jumlah hari dengan cuaca panas, kering, dan berangin yang dinilai ideal untuk memicu kebakaran hutan ekstrem, telah meningkat hampir tiga kali lipat dalam 45 tahun terakhir di seluruh dunia, menurut studi terbaru. 

Bahkan, tren peningkatan lebih tinggi terjadi di Amerika Serikat. Lebih dari separuh peningkatan itu disebabkan krisis iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Baca juga:

Cuaca pemicu kebakaran hutan naik tiga kali lipat

Studi mengungkap hari cuaca panas, kering, dan berangin pemicu kebakaran hutan ekstrem meningkat hampir tiga kali lipat sejak 1979.pixabay.com Studi mengungkap hari cuaca panas, kering, dan berangin pemicu kebakaran hutan ekstrem meningkat hampir tiga kali lipat sejak 1979.

Seiring dengan pemanasan global, semakin banyak tempat di seluruh dunia yang lebih rentan terbakar. Hal ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya tempat dengan kondisi ideal untuk terbakar.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini memperkirakan, negara-negara kemungkinan tidak memiliki cukup sumber daya untuk memadamkan semua kebakaran yang muncul. 

Pada tahun 1979 dan selama 15 tahun berikutnya, rata-rata dunia mengalami 22 hari cuaca yang memicu kebakaran secara serentak. Pada tahun 2023 dan 2024, angka itu meningkat menjadi lebih dari 60 hari per tahun.

“Perubahan-perubahan seperti yang telah kita lihat ini meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran di banyak daerah yang akan sangat sulit untuk dipadamkan,” ujar salah satu penulis studi dan ilmuwan kebakaran di Universitas California Merced, John Abatzoglou, dilansir dari AP, Kamis (19/2/2026). 

Sementara itu, penulis utama studi sekaligus peneliti kebakaran di Universitas California Merced, Cong Yin mengatakan, meski hanya salah satu dimensi, cuaca ideal tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran yang meluas.

"Bahan-bahan penting lainnya dalam kebakaran adalah oksigen, bahan bakar seperti pohon dan semak, dan pemicu seperti petir, pembakaran disengaja, atau kecelakaan yang disebabkan manusia," tutur Yin.

Ilmuwan kebakaran dari Thompson Rivers University di Kanada, Mike Flannigan mengangap studi ini penting karena cuaca ekstrem menjadi faktor utama meningkatnya dampak kebakaran di seluruh dunia.

"Ini juga penting karena wilayah yang dulunya memiliki musim kebakaran pada waktu yang berbeda dan dapat berbagi sumber daya sekarang mengalami tumpang tindih," ucap Flannigan yang tidak terlibat dalam studi ini.

Baca juga:

Krisis iklim

Studi mengungkap hari cuaca panas, kering, dan berangin pemicu kebakaran hutan ekstrem meningkat hampir tiga kali lipat sejak 1979.SYIFA YULINNAS Studi mengungkap hari cuaca panas, kering, dan berangin pemicu kebakaran hutan ekstrem meningkat hampir tiga kali lipat sejak 1979.

Menurut Yin, lebih dari 60 persen kenaikan jumlah hari dengan cuaca ideal pemicu kebakaran secara serentak di tingkat global erat kaitannya dengan krisis iklim.

Sebagian besar penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar penyebab krisis iklim adalah pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam.

Yin dan rekan-rekannya mengetahui hal ini usai memakai simulasi komputer untuk membandingkan apa yang telah terjadi dalam 45 tahun terakhir dengan dunia fiktif tanpa peningkatan emisi GRK dari pembakaran bahan bakar fosil.

Selama periode 1979-1988, Amerika Serikat mengalami rata-rata 7,7 hari cuaca yang memicu kebakaran secara serentak setiap tahunnya. Dalam satu dekade terakhir, rata-rata tersebut meningkat menjadi 38 hari per tahun.

Namun, kondisi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bagian selatan Amerika Selatan. Wilayah itu rata-rata mengalami 5,5 hari cuaca yang memicu kebakaran secara serentak setiap tahun dari 1979-1988.

Selama dekade terakhir, angka itu meningkat menjadi 70,6 hari per tahun, termasuk 118 hari pada tahun 2023.

"Dari 14 wilayah global, hanya Asia Tenggara yang mengalami penurunan cuaca kebakaran serentak, mungkin karena kelembapan di sana meningkat," tutur Yin.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bappenas: ASN 'Kerja Main-Main Tapi Gajinya Serius' Warisan Masa Lalu
Bappenas: ASN 'Kerja Main-Main Tapi Gajinya Serius' Warisan Masa Lalu
Pemerintah
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
LSM/Figur
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Pemerintah
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Swasta
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Pemerintah
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Pemerintah
Mengenal 'Micromanagement', Gaya Kepemimpinan 'Tirani' yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
Mengenal "Micromanagement", Gaya Kepemimpinan "Tirani" yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
LSM/Figur
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Pemerintah
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Swasta
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau