KOMPAS.com - Jumlah hari dengan cuaca panas, kering, dan berangin yang dinilai ideal untuk memicu kebakaran hutan ekstrem, telah meningkat hampir tiga kali lipat dalam 45 tahun terakhir di seluruh dunia, menurut studi terbaru.
Bahkan, tren peningkatan lebih tinggi terjadi di Amerika Serikat. Lebih dari separuh peningkatan itu disebabkan krisis iklim yang dipicu aktivitas manusia.
Baca juga:
Studi mengungkap hari cuaca panas, kering, dan berangin pemicu kebakaran hutan ekstrem meningkat hampir tiga kali lipat sejak 1979.Seiring dengan pemanasan global, semakin banyak tempat di seluruh dunia yang lebih rentan terbakar. Hal ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya tempat dengan kondisi ideal untuk terbakar.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini memperkirakan, negara-negara kemungkinan tidak memiliki cukup sumber daya untuk memadamkan semua kebakaran yang muncul.
Pada tahun 1979 dan selama 15 tahun berikutnya, rata-rata dunia mengalami 22 hari cuaca yang memicu kebakaran secara serentak. Pada tahun 2023 dan 2024, angka itu meningkat menjadi lebih dari 60 hari per tahun.
“Perubahan-perubahan seperti yang telah kita lihat ini meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran di banyak daerah yang akan sangat sulit untuk dipadamkan,” ujar salah satu penulis studi dan ilmuwan kebakaran di Universitas California Merced, John Abatzoglou, dilansir dari AP, Kamis (19/2/2026).
Sementara itu, penulis utama studi sekaligus peneliti kebakaran di Universitas California Merced, Cong Yin mengatakan, meski hanya salah satu dimensi, cuaca ideal tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran yang meluas.
"Bahan-bahan penting lainnya dalam kebakaran adalah oksigen, bahan bakar seperti pohon dan semak, dan pemicu seperti petir, pembakaran disengaja, atau kecelakaan yang disebabkan manusia," tutur Yin.
Ilmuwan kebakaran dari Thompson Rivers University di Kanada, Mike Flannigan mengangap studi ini penting karena cuaca ekstrem menjadi faktor utama meningkatnya dampak kebakaran di seluruh dunia.
"Ini juga penting karena wilayah yang dulunya memiliki musim kebakaran pada waktu yang berbeda dan dapat berbagi sumber daya sekarang mengalami tumpang tindih," ucap Flannigan yang tidak terlibat dalam studi ini.
Baca juga:
Studi mengungkap hari cuaca panas, kering, dan berangin pemicu kebakaran hutan ekstrem meningkat hampir tiga kali lipat sejak 1979.Menurut Yin, lebih dari 60 persen kenaikan jumlah hari dengan cuaca ideal pemicu kebakaran secara serentak di tingkat global erat kaitannya dengan krisis iklim.
Sebagian besar penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar penyebab krisis iklim adalah pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam.
Yin dan rekan-rekannya mengetahui hal ini usai memakai simulasi komputer untuk membandingkan apa yang telah terjadi dalam 45 tahun terakhir dengan dunia fiktif tanpa peningkatan emisi GRK dari pembakaran bahan bakar fosil.
Selama periode 1979-1988, Amerika Serikat mengalami rata-rata 7,7 hari cuaca yang memicu kebakaran secara serentak setiap tahunnya. Dalam satu dekade terakhir, rata-rata tersebut meningkat menjadi 38 hari per tahun.
Namun, kondisi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bagian selatan Amerika Selatan. Wilayah itu rata-rata mengalami 5,5 hari cuaca yang memicu kebakaran secara serentak setiap tahun dari 1979-1988.
Selama dekade terakhir, angka itu meningkat menjadi 70,6 hari per tahun, termasuk 118 hari pada tahun 2023.
"Dari 14 wilayah global, hanya Asia Tenggara yang mengalami penurunan cuaca kebakaran serentak, mungkin karena kelembapan di sana meningkat," tutur Yin.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya