Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?

Kompas.com, 27 Maret 2026, 13:14 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) bisa jadi alternatif penganti kendaraan konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM), di tengah gejolak harga minyak saat ini. Namun, infrastruktur dan industri EV di Indonesia dinilai masih belum siap.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menjelaskan, hal itu karena sebagian besar komponen EV masih impor dari negara lain.

Baca juga: 

"Perlu ada pengembangan mobil listrik secara mandiri, jangan seperti sekarang yang sangat tergantung dari negara-negara seperti China, Korea, yang kebijakannya bisa impor dalam keadaan build up," ujar Fahmy saat dihubungi Kompas.com, Kamis (26/3/2026).

EV bisa jadi alternatif, tapi bagaimana industrinya di Indonesia?

Kebijakan tidak konsisten jadi salah satu penyebab

Kendaraan listrik (EV) di Indonesia hadapi tantangan terutama industri produksi dan infrastruktur, di tengah gejolak perang AS-Israel vs Iran. Kindel Media Kendaraan listrik (EV) di Indonesia hadapi tantangan terutama industri produksi dan infrastruktur, di tengah gejolak perang AS-Israel vs Iran.

Fahmy menilai, minimnya material lokal dalam produksi EV berpotensi menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar bagi produk luar negeri.

Kondisi tersebut pun dikhawatirkan mengulang ketergantungan pada industri otomotif konvensional, yang hingga saat ini masih didominasi merek asing terutama dari Jepang.

"(Presiden) Prabowo sudah menekankan itu maka harus dikembangkan sendiri mobil listrik, jangan kemudian seluruhnya bisa diimpor, kita hanya jadi pasar," tutur dia.

Menurut Fahmy, kebijakan yang tidak konsisten menjadi salah satu penyebab utama belum siapnya infrastruktur EV seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menghentikan insentif impor utuh atau completely built up (CBU) mobil listrik sejak akhir 2025 lalu.

Selanjutnya, dari awal Januari 2026 hingga akhir Desember 2027, para produsen wajib memproduksi mobil listrik di Indonesia dengan jumlah setara kuota impor CBU.

Kewajiban ini mencakup penggunaan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sesuai aturan yang berlaku, seusai masa impor tersebut berakhir.

Produsen yang sebelumnya mengimpor 10.000 unit wajib berinvestasi dan memproduksi minimal jumlah yang sama.

Kebijakan ini bertujuan untuk mempercepat industrialisasi EV serta memastikan investasi tidak berhenti pada perdagangan impor saja.

Baca juga:

Nasib bahan bakar nabati

Ilustrasi biodiesel. Kendaraan listrik (EV) di Indonesia hadapi tantangan terutama industri produksi dan infrastruktur, di tengah gejolak perang AS-Israel vs Iran. esdm.go.id Ilustrasi biodiesel. Kendaraan listrik (EV) di Indonesia hadapi tantangan terutama industri produksi dan infrastruktur, di tengah gejolak perang AS-Israel vs Iran.

Di sisi lain, pengembangan bahan bakar nabati seperti biodiesel dan bioetanol juga masih berjalan lambat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
BUMN
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
LSM/Figur
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
LSM/Figur
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Pemerintah
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Pemerintah
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Swasta
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
LSM/Figur
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Swasta
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
LSM/Figur
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
LSM/Figur
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Pemerintah
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Swasta
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau