Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 6 Agustus 2023, 19:23 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Namun, pasar telah gagal untuk mengimbangi lonjakan permintaan yang tiba-tiba ini, menyebabkan lithium kekurangan pasokan yang bukan karena langka tapi lambatnya ekstraksi dan penyempurnaan.

Daur ulang baterai lithium-ion akan memberikan pasokan lithium tambahan ke pasar, memungkinkan bisnis memproduksi baterai dan kendaraan listrik ramah pelanggan serta ramah lingkungan dengan harga lebih murah.

Proses daur ulang

Daur ulang limbah elektronik jauh lebih rumit daripada daur ulang limbah konvensional. Biasanya, langkah pertama dari proses daur ulang adalah penyortiran manual.

Setelah limbah elektronik dikumpulkan dan diangkut ke fasilitas daur ulang, pekerja memilah limbah elektronik ke dalam kategori sesuai dengan jenis dan modelnya.

Baca juga: Sepatu Lari Ini Terbuat dari 90 Persen Material Daur Ulang 

Kemudian, semua perangkat elektronik akan diperiksa, dan bagian mana yang masih berfungsi akan diekstrak untuk digunakan kembali.

Bagian-bagian ini dapat dijual sebagai bagian individu atau digabungkan untuk membentuk telepon atau komputer baru. E-waste yang tertinggal dan tidak berfungsi akan dikirim ke proses daur ulang.

Di sini, e-waste dibuang ke mesin yang sangat besar dan dicabik-cabik menjadi potongan-potongan kecil, namun sebelumnya harus melalui proses yang disebut de-manufacturing, yaitu tindakan membongkar produk menjadi komponen-komponen.

Prosedur ini untuk menghilangkan semua bahan yang berpotensi berbahaya dalam perangkat elektronik yang akan merusak mesin atau mencemari lingkungan setelah dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Sebagai contoh, toner yang terdapat pada mesin fotokopi sangat mudah terbakar dan meledak, dan tentunya dapat meledakkan peralatan pengolah, mengingat banyak hal yang dapat menjadi sumber bahan bakar, seperti plastik.

Baca juga: Bergantung Daur Ulang Saja Tak Cukup Atasi Sampah Plastik

Proses ini sangat penting dan harus dilakukan oleh pekerja terampil. Setelah limbah diparut (diserut), logam, bagian berharga yang membuat daur ulang limbah menjadi industri yang menguntungkan, akan dipisahkan.

Berbeda dengan sesi sebelumnya, proses ini tidak memerlukan penyortiran manual. Magnet raksasa pertama-tama akan menarik semua bahan feromagnetik, seperti besi dan baja, yang memiliki kerentanan tinggi terhadap magnetisasi.

Kemudian, proses mekanis lebih lanjut memisahkan logam dan paduan lain berdasarkan hukum fisika yang disebut Eddy Current, bahan (paramagnetik) yang tertarik lemah dengan magnet akan terpental ketika arus listrik diinduksi oleh medan magnet bolak-balik dengan gaya tolak. Sementara bahan non-magnetik lainnya, seperti plastik, akan terus berjalan.

Selanjutnya, limbah tersebut dipisahkan dengan air. Pada tahap ini, hampir semua yang tersisa adalah bahan non-magnetik.

Mereka akan melewati mesin lain yang berisi air, di mana material dengan kerapatan relatif rendah, kebanyakan plastik, akan mengalir, sedangkan material lain, seperti kaca, akan tenggelam.

Terakhir, sebelum bahan daur ulang dijual, adalah mengecek apakah ada sisa bahan berharga yang menempel di plastik.

Baca juga: Tetra Pak Fokus Bisnis Berkelanjutan, Daur Ulang Kemasan Bekas Minum

Namun, menurut Statista hanya 17,4 persen limbah elektronik yang terdokumentasi didaur ulang pada tahun 2019. Ini sebagian dapat dikaitkan dengan fakta, banyak perangkat elektronik saat ini tidak dirancang untuk didaur ulang.

Gawai pintar menjadi lebih ringan dan ramping, dan baterainya tidak lagi dapat dilepas, membuat daur ulang jauh lebih sulit dan padat karya.

Penyortiran manual mengharuskan pekerja untuk terus-menerus terpapar zat beracun, meskipun pada tingkat rendah, dalam jangka waktu lama.

Masalah lain yang dihadapi industri daur ulang adalah, hanya 10 dari 60 unsur kimia yang ada dalam limbah elektronik yang dapat didaur ulang melalui pemrosesan mekanis: emas, perak, platina, kobalt, timah, tembaga, besi, aluminium, dan timbal. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
LSM/Figur
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia 'Happy' karena Rekan dan Budaya Perusahaan
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia "Happy" karena Rekan dan Budaya Perusahaan
LSM/Figur
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
LSM/Figur
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
LSM/Figur
WVI Galang Dana untuk Tingkatkan Literasi 3.000 Anak di Papua
WVI Galang Dana untuk Tingkatkan Literasi 3.000 Anak di Papua
LSM/Figur
Sistem Peringatan Dini Sudah Ada, tapi Tindak Lanjut Mitigasi di Indonesia Masih Lemah
Sistem Peringatan Dini Sudah Ada, tapi Tindak Lanjut Mitigasi di Indonesia Masih Lemah
LSM/Figur
Limbah Kulit Kacang Bisa Jadi Material Terkuat di Bumi, Baik untuk Alat Elektronik
Limbah Kulit Kacang Bisa Jadi Material Terkuat di Bumi, Baik untuk Alat Elektronik
Pemerintah
Emisi Karbon Kursi Kelas Bisnis di Pesawat Lebih Banyak dari Kelas Ekonomi
Emisi Karbon Kursi Kelas Bisnis di Pesawat Lebih Banyak dari Kelas Ekonomi
LSM/Figur
Banjir Berulang di Jawa Barat, Ahli Sebut Butuh Solusi Lebih dari Tindakan Viral
Banjir Berulang di Jawa Barat, Ahli Sebut Butuh Solusi Lebih dari Tindakan Viral
LSM/Figur
Brasil Minta Dunia Susun Roadmap Transisi Energi Jelang COP31
Brasil Minta Dunia Susun Roadmap Transisi Energi Jelang COP31
Pemerintah
AI Jadi Pisau Bermata Dua dalam Krisis Perusahaan, Bisa Bantu atau Hancurkan Reputasi
AI Jadi Pisau Bermata Dua dalam Krisis Perusahaan, Bisa Bantu atau Hancurkan Reputasi
BUMN
Diam Bisa Jadi Strategi, Ini Cara PR Tanggapi Isu dan Cegah Krisis di Media Sosial
Diam Bisa Jadi Strategi, Ini Cara PR Tanggapi Isu dan Cegah Krisis di Media Sosial
LSM/Figur
Padang Rumput Hilang 4 Kali Lebih Cepat dari Hutan, Ini Penyebabnya
Padang Rumput Hilang 4 Kali Lebih Cepat dari Hutan, Ini Penyebabnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau