Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Danur Lambang Pristiandaru
Asisten Editor Global

Mengawali karier sebagai jurnalis di media lokal Solopos pada tahun 2016. Bertugas meliput berbagai desk mulai dari daerah hingga olahraga.

Pada tahun 2018 melanjutkan studi magister di Universitas Pertahanan jurusan Ketahanan Energi.

Pada tahun 2020, bergabung sebagai Asisten Editor kanal Global Kompas.com. Sempat menggawangi kanal Lestari pada tahun 2023 dan kembali lagi ke kanal Global sebagai Asisten Editor pada tahun 2025.

Meminati dan mendalami sejumlah isu seperti geopolitik, hubungan bilateral dan regional, energi terbarukan, transisi energi, keamanan energi, dan lingkungan.

Beberapa kali mendapat beasiswa liputan mendalam dan investigasi dari berbagai institusi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Google News Initiative, Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), CLASP, Forest Watch Indonesia (FWI), Institute for Essential Services Reform (IESR), Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), hingga Purpose.

Manusia Membakar Bumi

Kompas.com, 4 Agustus 2024, 17:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

ALKISAH, di ruang angkasa yang sangat luas, hiduplah spesies reptil cerdas bernama Zorgon. Mereka berkelana di antariksa dengan pesawat ulang-alik canggih, mencari apa pun yang bisa dibakar untuk dijadikan energi.

Zorgon adalah makhluk yang rakus energi. Mereka bahkan rela membakar planet sendiri untuk dijadikan sumber energi karena tidak ada lagi yang bisa dibakar di sana.

Kelakuan itu membuat mereka menjadi makhluk terkutuk, terusir dari planet mereka atas ulahnya sendiri. Zorgon akhirnya menjadi "gelandangan" antariksa yang mencari apa pun untuk dibakar agar menjadi energi.

Penggalan cerita tersebut merupakan bagian dari film Zathura yang dirilis pada 2005 lampau. Saya menontonnya ketika masih bocah. Adegan Zorgon membakar planetnya sendiri sangat membekas di ingatan.

Ada satu pertanyaan yang membuat saya sangat penasaran kala itu. Bagaimana bisa membakar sesuatu bisa menghasilkan energi hingga Zorgon begitu tega sampai membakar planetnya sendiri?

Semakin dewasa, pertanyaan tersebut terjawab dengan sendirinya. Membakar adalah upaya pembangkitan energi yang terbukti paling stabil, andal, dan paling mudah.

Dengan membakar, manusia bisa menghasilkan listrik yang bisa dipakai untuk apa saja. Sebut apa aktivitasnya, semua bisa dilakukan dengan listrik.

Kita bisa memasak nasi tanpa memakai api di rumah, kita bisa mengeringkan rambut tanpa perlu bau sangit, kita bisa membuat es meski di iklim tropis, atau kita bisa masuk rumah yang dingin saat udara sedang terik-teriknya membakar kulit.

Tak hanya listrik, industri juga memanfaatkan pembakaran untuk menggerakkan mesin-mesin mereka. Bahkan Eropa bisa semaju sekarang karena mereka melakukan pembakaran lebih dulu di perindustrian mereka.

Selain itu, transportasi yang mempermudah kehidupan manusia saat ini juga memanfaatkan sistem pembakaran.

Dan mayoritas bahan bakar yang dimanfaatkan untuk menghasilkan energi di dunia ini, sekaligus menggerakkan perekonomian global, berasal dari dalam perut bumi: batu bara, minyak, dan gas bumi --biasa disebut bahan bakar fosil.

Bumi semakin panas

Namun di balik semua kemudahan dan kenyamanan dari keseluruhan proses pembakaran untuk menghasilkan energi, ada konsekuensi besar yang menanti di depan mata: kenaikan suhu Bumi yang luar biasa tinggi.

Pembakaran bahan bakar fosil melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) yang sangat besar ke atmosfer. Emisi GRK ini memerangkap panas matahari yang seharusnya bisa dipantulkan Bumi kembali ke angkasa.

Semakin banyak konsentrasi emisi GRK di atmosfer, semakin besar pula panas yang terperangkap di permukaan Bumi.

Kebutuhan manusia akan energi, apa pun itu bentuknya, dituding sebagai biang keladi utama kenaikan konsentrasi emisi GRK yang menyebabkan suhu Bumi melonjak.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau