Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ICSF 2024 Bahas Tantangan Demokrasi dan Kolaborasi Masyarakat Sipil demi Keberlanjutan Sosial

Kompas.com - 27/09/2024, 15:31 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com – Indonesia Civil Society Forum (ICSF) 2024 digelar di Jakarta pada Rabu (25/9/2024) dan Kamis (26/9/2024). Acara dibuat sebagai wadah konsolidasi lebih dari 300 Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) untuk membahas berbagai tantangan demokrasi dan keberlanjutan sosial.

Sebagai informasi, ICSF 2024 menyoroti pentingnya kolaborasi antar OMS dalam menjaga ruang sipil dan demokrasi yang berkelanjutan.

Berdasarkan data The Economist Intelligence Unit (EIU), indeks kebebasan sipil Indonesia turun drastis, dari 6,18 pada 2022 menjadi 5,29 pada 2023. Penurunan ini juga berdampak pada kebebasan pers, yang anjlok 11 peringkat ke posisi 108 dari 180 negara. Kondisi ini mengancam keberlanjutan demokrasi dan kualitas kehidupan sosial di Indonesia.

Penyempitan ruang sipil mengancam keberlanjutan peran masyarakat sipil dalam menjaga demokrasi.

Pendiri Perempuan Hari Ini, Lusty Ro Manna Malau, mengungkapkan bentuk represi dan kekerasan yang dialami OMS, seperti serangan bom molotov yang dialami beberapa organisasi di Medan setelah membahas revisi Undang-Undang (UU) Komisi Pemberantasan Korupsi dan UU Cipta Kerja.

“Pemerintah sebaiknya fokus pada implementasi UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual serta mendukung pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Pekerja Rumah Tangga dan RUU Masyarakat Adat,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (27/9/2024).

Kolaborasi antar-OMS ini menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan sosial, terutama dalam memperjuangkan hak-hak kelompok rentan dan minoritas, serta memastikan implementasi kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial.

Pada kesempatan sama Direktur Eksekutif Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), Tunggal Pawestri, menekankan perlunya keberlanjutan kerja kolektif gerakan masyarakat sipil.

“Ada urgensi memastikan keberlanjutan kerja kolektif gerakan masyarakat sipil dalam menghadapi kondisi ringkihnya demokrasi Indonesia saat ini,” jelasnya.

Dengan menjaga ruang sipil tetap inklusif dan terbuka untuk partisipasi, masyarakat sipil turut berkontribusi pada keberlanjutan tata kelola yang baik (good governance).

Gerakan rakyat seperti "Peringatan Darurat" yang menolak revisi UU Pilkada adalah contoh penting bagaimana konsolidasi OMS dapat menjaga prinsip keberlanjutan dalam sistem demokrasi.

Diskusi dalam ICSF 2024 juga menyoroti skenario masa depan yang memengaruhi keberlanjutan demokrasi Indonesia.

Dengan kerangka kerja dari Civicus, lembaga nirlaba internasional yang fokus pada penguatan masyarakat sipil, ICSF 2024 membahas empat skenario, yakni status quo, optimistis, pesimistis, dan transformasi. Diskusi ini bertujuan untuk mempersiapkan OMS menghadapi berbagai tantangan dan peluang dalam menjaga demokrasi yang berkelanjutan.

Direktur Yappika Fransisca Fitri menyoroti pentingnya refleksi peran dan kontribusi OMS terhadap keberlanjutan sosial.

“Melalui diskusi refleksi dan skenario masa depan, kita bisa melihat kembali peran masing-masing OMS dalam memperkuat demokrasi,” ujar Fransisca.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyampaikan bahwa situasi darurat konstitusi yang tengah terjadi di Indonesia merupakan ancaman bagi keberlanjutan kebebasan ruang sipil.

“Negara harus menjamin peran OMS sebagai aktor yang memberikan kritik dan masukan demi memastikan demokrasi yang sehat dan berkelanjutan,” tambahnya.

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nikel dan Wajah Baru Morowali, dari Tanah Leluhur ke Pusat Industri Dunia
Nikel dan Wajah Baru Morowali, dari Tanah Leluhur ke Pusat Industri Dunia
Swasta
Dukung Pendidikan Inklusif, Garudafood Beri Beasiswa Santri Tunanetra hingga Anak Prasejahtera
Dukung Pendidikan Inklusif, Garudafood Beri Beasiswa Santri Tunanetra hingga Anak Prasejahtera
Swasta
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Swasta
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
LSM/Figur
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
LSM/Figur
Krisis Iklim Makin Parah,  WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
Krisis Iklim Makin Parah, WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
LSM/Figur
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pemerintah
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Pemerintah
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Swasta
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
LSM/Figur
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Pemerintah
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Pemerintah
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Pemerintah
'Circularity Tour', Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
"Circularity Tour", Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau