Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Intip Upaya Pupuk Indonesia Menuju Net Zero Emission 2060

Kompas.com, 10 November 2024, 08:30 WIB
Anagatha Kilan Sashikirana,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Mengusung keberlanjutan di Indonesia, PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya untuk mencapai target net zero emission (NZE) pada tahun 2060.

Hal ini disampaikan oleh Vice President Sinerji Teknologi dan Operasi PT Pupuk Indonesia, William Kusnanto, dalam seminar Pra-Munas Kagama XIV bertema “Komitmen Keberlanjutan Korporasi dalam Aspek Sosial dan Lingkungan” di Jakarta, Sabtu (9/11/2024).

Menurut William, Pupuk Indonesia telah merumuskan berbagai inisiatif berkelanjutan dalam upaya pengurangan emisi yang sejalan dengan target pemerintah. Ia menegaskan bahwa industri juga wajib mendukung lingkungan.

Baca juga: Inovasi Sampah Plastik Murah Menjadi Mewah

Maka dari itu Pupuk Indonesia melaksanakan dan mengembangkan inisiatif tersebut untuk mengurangi global emission.

"Dalam rangka mewujudkan net zero emission, jadi seperti yang tadi dibilang, kita sebagai industri juga wajib mendukung lingkungan. Maka dari itu, Pupuk Indonesia sudah mengembangkan inisiatif-inisiatif untuk mengurangi global emission. Ini targetnya di tahun 2030 sesuai dengan target pemerintah yaitu NZE," papar William.

Baca juga: Riset FPCI: Ulama Pegang Peran Penting Aksi Perubahan Iklim di Akar Rumput

Lebih lanjut, William menjelaskan bahwa Pupuk Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 28 persen pada tahun 2030. Untuk mencapai NZE pada 2060, Pupuk Indonesia akan menerapkan langkah-langkah dari efisiensi energi, circular economy, hingga program lingkungan dan penggunaan energi hijau.

"Inisiatif-inisiatif yang kami lakukan dari sisi energi efisiensi, kemudian circular economy, ada carbon capture, juga penanaman program lingkungan, kemudian juga penggunaan energi hijau. Ini yang kami akan lakukan di next selama 2030 sampai 2060," tambahnya.

Baca juga: Studi: Perubahan Iklim Makin Mengkhawatirkan akibat Polusi Plastik

William juga menyoroti pentingnya teknologi hidrogen, khususnya dalam produksi amonia sebagai bahan utama pupuk, yang membutuhkan pemrosesan intensif energi serta menghasilkan emisi CO? yang tinggi.

Ia mengatakan, kedepannya akan banyak dikembangkan teknologi-teknologi terbaru terkait dengan bagaimana mengurangi emisi CO2 dari pembuatan hidrogen tersebut.

“Untuk mencapai hal tersebut, ini yang sedang kami kembangkan. Semua industri, terutama untuk industri pupuk di Pupuk Indonesia, basisnya adalah amonia sebagai sumber bahan bakunya. Teknologi pembuatan amonia itu tidak terlepas dari teknologi hidrogen. Teknologi hidrogen saat ini disebut dengan green hydrogen,” jelasnya.

Baca juga: PLN Luncurkan Pengisian Daya Kendaraan Listrik di Bandung

Green hydrogen dianggap potensial untuk mendukung keberlanjutan, tetapi membutuhkan energi tinggi. William menyampaikan bahwa perusahaan sedang mempelajari metode terbaru, seperti carbon capture dan green hydrogen yang berbasis air sebagai solusi jangka panjang.

Selain itu, Pupuk Indonesia juga merencanakan pengembangan green ammonia yang tak hanya akan digunakan sebagai pupuk, tetapi juga bahan bakar untuk sektor maritim dan pembangkit listrik.

Baca juga: Inovasi Sterilisasi Pangan Teknologi PEF Diklaim Lebih Ramah Lingkungan

“Ini yang kami coba kembangkan terus-menerus, dan tentu saja tidak bisa kami kembangkan sendiri. Untuk itu, di sini kami bekerja sama dengan pihak lain seperti PLN, karena terus terang Pupuk Indonesia tidak punya kompetensi di bidang itu tapi kita akan bekerja sama” ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
Pemerintah
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Pemerintah
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
LSM/Figur
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau