Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Berkembang Butuh Pendanaan dari Swasta untuk Transisi Hijau

Kompas.com, 14 November 2024, 17:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Perusahaan swasta juga harus berkontribusi pendanaan bagi negara berkembang untuk transisi hijau.

Hal tersebut diungkapkan oleh presiden COP29 Mukhtar Babayev, Senin (11/11/2024) di acara COP29 yang berlangsung di Baku, Azerbaijan.

Menurutnya tanggung jawab tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada dana pemerintah. Melepaskan pendanaan swasta untuk transisi negara berkembang telah lama menjadi pembicaraan.

"Tanpa sektor swasta, tidak ada solusi iklim. Dunia membutuhkan lebih banyak dana dan membutuhkannya lebih cepat. Sejarah menunjukkan kita dapat memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan," katanya.

Baca juga:

Dalam sebuah pernyataan Babayev juga pernah menuliskan bahwa dengan prioritas yang saling bersaing, tidak ada cukup uang di dunia untuk mendanai transisi negara-negara berkembang menuju energi bersih hanya melalui hibah atau pembiayaan konsesi. Apalagi untuk menutupi adaptasi serta kerugian dan kerusakan.

Mengutip Guardian, Kamis (14/11/2024) pada perhelatan COP29, negara-negara dunia mencoba untuk membentuk kerangka global baru untuk menyediakan dana yang dibutuhkan negara berkembang untuk memangkas emisi gas rumah kaca dan beradaptasi dengan dampak cuaca ekstrem yang memburuk.

Negara-negara berpendapatan rendah menginginkan pendanaan iklim meningkat dari sekitar 100 miliar dollar AS per tahun saat ini menjadi setidaknya 1 triliun dollar AS setiap tahun pada tahun 2035.

Hal tersebut membuat negara-negara maju merasa target pendanaan iklim lebih sulit dipenuhi dan berusaha untuk mengurangi komponen pendanaan yang bersumber dari publik yang membentuk tujuan pendanaan iklim.

Itu berarti perlu peningkatan peran sektor swasta dalam memenuhi target 1 triliun dollar AS.

Namun uang tunai dari sektor swasta diperoleh dengan syarat dan dapat mendorong negara-negara lebih jauh ke dalam utang.

Akses terhadap energi bersih pun dinilai lebih sulit bagi negara-negara termiskin yang sangat membutuhkannya, terutama untuk membantu mereka mengatasi dampak cuaca ekstrem karena hanya sedikit perusahaan swasta yang bersedia mendanainya.

Beberapa kelompok masyarakat sipil juga khawatir dengan peran sektor swasta yang semakin luas.

Baca juga:

"Pendanaan pemerintah jauh lebih baik daripada pendanaan swasta dalam hal mengatasi perubahan iklim. Pemerintah adalah satu-satunya pihak yang mampu menyediakan pendanaan dalam bentuk hibah, yang merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi kebutuhan negara-negara berkembang yang terus meningkat untuk mengatasi krisis iklim," ungkap Mariana Paoli, pemimpin advokasi global di Christian Aid.

Sementara pendanaan swasta hampir selalu berupa pinjaman, sehingga memperburuk krisis utang yang dihadapi banyak negara berkembang.

Di sisi lain, banyak negara berkembang menerima bahwa keuangan swasta harus berperan.

"Fokus utama negara maju adalah penyediaan keuangan publik untuk negara berkembang dan sebagai pilar tambahannya adalah mobilisasi pembiayaan swasta," papar Seorang juru bicara Aliansi Negara-negara Pulau Kecil.

Lebih lanjut, Simon Stiell, kepala iklim PBB mengatakan inflasi akan terjadi akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil sementara mengatasi krisis iklim juga akan membantu mengatasi masalah ekonomi.

“Jika setidaknya dua pertiga negara di dunia tidak mampu memangkas emisi dengan cepat, maka setiap negara akan membayar harga yang sangat mahal. Selain itu jika negara-negara tidak dapat membangun ketahanan dalam rantai pasokan, seluruh ekonomi global akan terpuruk. Tidak ada negara yang kebal,” katanya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau