Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hanya 16 Persen Perusahaan Terbesar Berupaya Capai Net Zero pada 2050

Kompas.com, 14 November 2024, 16:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Laporan terbaru Accenture berjudul “Destination Net Zero” mengungkapkan bahwa hanya 16 persen perusahaan terbesar di dunia yang diproyeksikan akan memenuhi tujuan net zero mereka pada 2050.

Sementara itu, lebih dari setengah (52 persen) telah berhasil mengurangi emisi dan intensitas karbon sejak Perjanjian Paris 2016.

Sedangkan sisanya sebanyak 45 persen mengalami peningkatan emisi yang menunjukkan adanya tantangan substansial di masa mendatang.

Mengutip ESG News, Kamis (14/11/2024) analisis berdasarkan data emisi S&P Global Trucost 2024 ini juga mencatat beberapa temuan penting lainnya.

Beberapa di antaranya adalah sebanyak 55 persen perusahaan G2000 telah mengurangi emisi operasional mereka (Cakupan 1 dan 2) sejak 2016. Angka itu naik 3 persen sejak 2023.

Baca juga: Sebagian Besar Perusahaan Tak Punya Rencana Kurangi Emisi dari Perjalanan Bisnis

Lalu sebanyak 77 persen perusahaan telah menurunkan intensitas emisi, meningkat 2 persen dari 2023.

Sedangkan 30 persen perusahaan telah menerapkan 15 atau lebih strategi dekarbonisasi (decarbonization lever) yang menjadi patokan penting dalam perjalanan menuju emisi nol bersih.

“Mayoritas perusahaan terbesar di dunia sekarang memangkas emisi mereka bahkan ketika ukuran operasi dan pendapatan mereka tumbuh," kata Stephanie Jamison, pemimpin layanan keberlanjutan global di Accenture.

"Meskipun ini merupakan tonggak penting, untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2050, kita semua perlu bergerak lebih cepat bersama-sama," katanya lagi.

Perbedaan Regional dan Sektoral

Analisis tersebut juga mengungkap perbedaan regional dan industri yang penting.

Sebanyak 64 persen perusahaan Eropa memiliki target Cakupan 1-3 yang lengkap, dibandingkan dengan 26 persen di Amerika Utara.

Sektor perbankan memimpin dengan 54 persen dengan memiliki target Cakupan 1-3 yang lengkap, sementara sektor perawatan kesehatan tertinggal di angka 20 persen.

Perusahaan komunikasi dan media, rata-rata, menggunakan 3,7 strategi dekarbonisasi sementara berbeda dengan sektor kesehatan yang hanya menggunakan 6,3.

Baca juga: Studi: Ada Penumpang Jet Pribadi Hasilkan Emisi 500 Kali Lebih Banyak

Lebih lanjut laporan juga menyebut kurangnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam upaya iklim.

Saat ini hanya 14 persen perusahaan yang memanfaatkan AI untuk mengurangi emisi.

Namun, analisis Accenture sendiri memprediksi emisi terkait AI dapat meningkat dari 68 juta ton CO2 pada tahun 2023 menjadi 718 juta ton CO2 pada tahun 2030 tanpa kemajuan teknologi yang besar.

Terlepas dari proyeksi ini, para pemimpin tetap optimis di mana 42 persen perusahaan mengharapkan AI mampu menurunkan emisi dalam jangka pendek.

“Oleh karena itu, sangat menggembirakan melihat bisnis mengambil langkah awal dalam menetapkan target nol emisi karbon yang ambisius dan menggunakan teknologi baru seperti AI untuk mengurangi emisi karbon,” ungkap kata Mauro Macchi, CEO Accenture, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM
Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM
LSM/Figur
Balai Besar TNBTS Identifikasi Temuan 2 Spesies Anggrek Baru
Balai Besar TNBTS Identifikasi Temuan 2 Spesies Anggrek Baru
Pemerintah
Lowongan Kerja Analis Lingkungan Senior untuk Perusahaan di Qatar, Cek Syaratnya
Lowongan Kerja Analis Lingkungan Senior untuk Perusahaan di Qatar, Cek Syaratnya
Swasta
Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
LSM/Figur
Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global
Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global
LSM/Figur
Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan
Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan
Swasta
Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Pemerintah
Waspada Keberagaman Semu, Ini Alasan Representasi Minoritas Sering Disalahartikan dalam Dunia Kerja
Waspada Keberagaman Semu, Ini Alasan Representasi Minoritas Sering Disalahartikan dalam Dunia Kerja
LSM/Figur
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Pemerintah
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Swasta
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
LSM/Figur
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Swasta
Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir
Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?
Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?
LSM/Figur
Ketergantungan Gas Impor ASEAN Bisa Ditanggulangi dengan Tenaga Surya
Ketergantungan Gas Impor ASEAN Bisa Ditanggulangi dengan Tenaga Surya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau