Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
HILIRISASI INDUSTRI

Kebun Gizi Penuhi Kebutuhan Pangan Bernutrisi untuk Cegah Stunting di Morowali Utara

Kompas.com, 15 November 2024, 17:49 WIB
Sheila Respati

Penulis

KOMPAS.com – PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI) melaksanakan Kebun Gizi sebagai upaya pengentasan stunting bagi anak-anak yang berada di Desa Tanauge, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali, Sulawesi Utara. Program ini dilaksanakan bersama PT Stardust Estate Investment (SEI) dengan menanam tanaman yang kaya gizi sebagai salah satu kegiatan corporate social responsibility (CSR).

Head of Corporate Communication PT GNI Mellysa Tanoyo mengatakan, Kebun Gizi merupakan gabungan pendekatan pertanian berkelanjutan dengan program bergizi berbasis komunitas. Kegiatan ini juga merupakan wujud dukungan perusahaan dalam menjaga kesehatan generasi penerus di desa lingkar industri.

“Kami tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga menanam kesadaran dan pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan melalui pangan bergizi,” kata Mellysa dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Jumat (15/11/2024).

Warga Panen Sayuran di Kebun Gizi Desa Bungintimbe.DOK. PT GNI Warga Panen Sayuran di Kebun Gizi Desa Bungintimbe.

Ia melanjutkan, proses edukasi Kebun Gizi juga mengajarkan masyarakat mengenai pentingnya pola makan bergizi dan cara mengolah hasil kebun. Hasil panen dari Kebun Gizi akan diberikan sebagai makanan tambahan kepada balita yang berisiko mengalami stunting.

“Kebun Gizi ini ditanami berbagai sayuran, seperti terong, bayam belang, oyong gambas, dan kangkung. Ada juga ikan lele yang berasal dari budidaya lele yang juga merupakan program bersama PT GNI dan PT SEI,” ujar Mellysa.

Dalam pelaksanaan Kebun Gizi, hasil panen diberikan satu bulan sekali yang menyesuaikan jadwal posyandu di tiga lokasi, yaitu Desa Tanauge, Desa Bungintimbe, dan Bunta. Hasil panen akan diolah menjadi makanan bergizi oleh kader posyandu dan diberikan kepada balita untuk dimakan bersama-sama.

“Kebun Gizi dapat menjadi salah satu cara terbaik dalam menangani stunting. Dari hasil panen Kebun Gizi, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menurunkan angka stunting di sekitar lingkar industri,” jelas Mellysa.

Makanan yang diolah dari hasil panen Kebun Gizi dan Budidaya Ikan Lele di Desa TanaugeDOK. PT GNI Makanan yang diolah dari hasil panen Kebun Gizi dan Budidaya Ikan Lele di Desa Tanauge

Lebih lanjut, ia mengatakan Kebun Gizi bukan hanya sebuah proyek CSR, tetapi komitmen perusahaan dalam membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar wilayah operasional melalui pemenuhan kebutuhan pangan. Dengan adanya kolaborasi dengan PT SEI, ia berharap balita yang berada di sini dapat memperoleh peluang yang lebih besar untuk tumbuh sehat dan optimal.

Mellysa menambahkan, upaya pengentasan stunting dengan Kebun Gizi sangat penting untuk dilakukan. Sebab, stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kualitas generasi mendatang.

Oleh karena itu, Kebun Gizi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan status gizi anak-anak, tetapi juga untuk menciptakan kesadaran lebih luas tentang pentingnya perbaikan gizi ibu hamil dan balita yang merupakan dua kelompok rentan dalam siklus stunting.

“Dari kebun yang semula hanya berupa lahan kosong, kini hadir makanan sehat di piring balita, memberikan secercah harapan untuk mengatasi masalah stunting yang menjadi momok bagi masa depan generasi muda di desa-desa ini. PT GNI dan PT SEI berharap program ini dapat terus berkembang, memberikan manfaat luas, dan menjadi inspirasi bagi inisiatif serupa di berbagai wilayah lain di Indonesia,” ucap Mellysa.

Sebagai informasi, masalah stunting merupakan isu serius yang dihadapi masyarakat di Morowali Utara. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), Kementerian Kesehatan mencatat angka prevalensi stunting di wilayah ini masih 24.7 persen pada 2023. Angkanya sama seperti 2022 dan masih jauh dari target nasional, yakni 14 persen.

Pelaksanaan Kebun Gizi pun mendapat respons positif dari masyarakat. Di Posyandu Desa Tanauge, misalnya, kader memberikan hasil panen yang telah diolah menjadi makanan sehat kepada 10 balita penderita stunting dari Kebun Gizi yang dilaksanakan pada Sabtu (9/11/2024).

Balita menyantap makanan, hasil panen dari Kebun Gizi dan Budidaya Ikan Lele.DOK. PT GNI Balita menyantap makanan, hasil panen dari Kebun Gizi dan Budidaya Ikan Lele.

Bidan Puskesmas Pembantu (PUSTU) Desa Tanauge Asma sangat mengapresiasi kegiatan Kebun Gizi yang diadakan PT GNI dan PT SEI. Ia, yang juga berperan sebagai pendamping, menilai program ini sangat bermanfaat untuk mengatasi masalah stunting masyarakat di sana.

“Mewakili masyarakat Desa Tanauge, kami merasa sangat terbantu dan berterima kasih. Semoga program ini terus berlanjut. Sebab, masyarakat sangat terbantu karena sebelumnya mereka mengalami kesulitan dalam mendapatkan sayur dan ikan segar,” ucap Asma.

Para orang tua dan balita yang hadir pada Kebun Gizi hari itu juga terlihat sangat antusias menyantap hidangan yang telah diolah oleh kader posyandu. Menu makanan yang diberikan adalah nasi, sayur bayam dengan wortel, dan lele goreng atau sup lele. (Rindu P Hestya)

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
BUMN
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
LSM/Figur
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Pemerintah
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
LSM/Figur
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau