Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Abraham Wahyu Nugroho
Pegawai Negeri Sipil

Pemerhati Kebijakan Publik

Mengukur Jejak Karbon dengan Kalkulator Hijau

Kompas.com, 22 November 2024, 17:35 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

NET zero economy menjadi paradigma yang diusung Bank Indonesia (BI), bersama dengan pemangku kebijakan lainnya, dalam penyusunan arah, pedoman dan standar pembangunan ekonomi berkelanjutan, khususnya di industri keuangan.

Intinya, bagaimana kepentingan ekonomi (dalam takaran PDB) tetap selaras dengan kepentingan sosial (equality), tapi tanpa meninggalkan aspek lingkungan (green economy).

Secara harafiah konsep net zero economy diartikan kegiatan perekonomian yang menghasilkan emisi karbon gas rumah kaca (GRK) untuk selanjutnya diseimbangkan/dihilangkan dengan jumlah yang sama dari atmosfer.

Hal ini beralasan, Pristiandaru (2024) dalam Kompas.com menyebutkan Indonesia termasuk dalam 10 negara penghasil emisi GRK (yang disebabkan karbon) terbesar di dunia sepanjang 2023 dari sektor energi.

Menurut Energy Institute, Indonesia menempati peringkat keenam sebagai penghasil emisi GRK terbesar di dunia dari sektor energi yang mencapai 701,4 juta ton karbon dioksida.

Tidak terkendalinya emisi karbon menjadi salah satu penyumbang utama perubahan iklim.

Laporan Risiko Global 2024 menunjukkan bahwa risiko perubahan iklim merupakan risiko terbesar kedua dalam jangka 2 tahun ke depan, dan akan menduduki risiko terbesar dalam 10 tahun ke depan.

Indonesia harus mengantisipasi hal ini. Dari sisi dampaknya terhadap sektor ekonomi dan keuangan, risiko perubahan iklim memiliki potensi besar yang berdampak sistemik karena sifatnya yang tidak dapat dipulihkan (irreversible), multidimensional, simultan dan tidak terduga untuk berbagai sektor ekonomi.

Nah, secara langsung dan tak langsung, dampak perubahan iklim menimbulkan tantangan baru bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas sistem keuangan terlebih dalam menghadapi risiko fisik dan risiko transisi.

Risiko fisik seperti bencana banjir akibat perubahan iklim, yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan perindustrian yang dapat memicu ketidakstabilan harga.

Sementara risiko transisi adalah risiko kerugian akibat perubahan/transisi kebijakan menuju ekonomi rendah karbon seperti kebijakan penghentian penggunaan batu bara dan perubahan preferensi konsumen menuju produk ramah lingkungan yang dapat berdampak pada perubahan struktur ekonomi.

Ahli berpendapat bahwa lembaga penyedia keuangan dapat dikatakan memberikan andil terhadap emisi karbon penyebab perubahan iklim.

Penurunan emisi lembaga penyedia keuangan, dalam hal ini emisi dari kredit/pembiayaan yang diberikan, merupakan kunci keberhasilan penurunan emisi global.

Oleh karena itu, lembaga penyedia keuangan perlu terus meningkatkan porsi pembiayaan rendah emisi dari total portofolio pembiayaannya.

Sementara itu, lembaga penyedia keuangan dituntut lebih selektif dalam memberikan kredit/pembiayaan antara lain dengan melakukan asesmen keberlanjutan dari debitur atau proyek yang akan dibiayai.

Dukungan kredit/pembiayaan ini sangat diperlukan dalam rangka transisi menuju net zero economy. Hal ini harus diiringi dengan ketersediaan data emisi yang reliable agar lembaga penyedia keuangan dapat mengalokasikan pembiayaan dengan tepat sasaran.

Menjadi masalah adalah masih terbatasnya penghitungan emisi oleh lembaga penyedia keuangan dan pelaku usaha yang akuntabel dan sesuai dengan standar/formula penghitungan global dan nasional.

Selain itu, praktik penghitungan dan publikasi emisi GRK cenderung masih terbatas karena proses penghitungan emisi GRK yang rumit dan mahal.

Kalkulator Hijau

Menjawab tantangan tersebut, BI bersinergi dengan kementerian/lembaga terkait, berinovasi menghadirkan kalkulator hijau tahap awal (versi 1.0) yang berbasis ponsel. Inisiasi kalkulator hijau dinilai sebagai langkah nasional dalam mencapai target net zero economy.

Inovasi ini menyediakan pendekatan yang mudah dan sistematis dalam menghitung emisi dari aktivitas ekonomi, sekaligus membantu organisasi memahami dan mengurangi dampak lingkungannya.

Kehadiran kalkulator hijau memiliki peran penting dalam beberapa hal. Pertama, bermanfaat untuk memantau tingkat kehijauan aktivitas ekonomi dan tingkat keberhasilan transisi menuju ekonomi hijau.

Kedua, memberikan kemudahan bagi organisasi dalam pemenuhan kebutuhan pelaporan keberlanjutan (disclosure) yang diprasyaratkan oleh regulator dan pasar global.

Ketiga, membuka akses lebih luas kepada investasi dan pendanaan hijau.

Inovasi pengembangan kalkulator hijau akan disempurnakan secara bertahap. Untuk tahap awal (ruang lingkup pengembangan kalkulator hijau masih difokuskan pada penghitungan emisi dari penggunaan bahan bakar (Scope 1) dan listrik (Scope 2).

Kedepannya, ruang lingkup pengembangan kalkulator hijau akan terus diperluas secara bertahap agar sejalan dengan perkembangan global (scope 3).

Beberapa metode perhitungan kalkulator hijau di antaranya dengan menghitung emisi langsung, tidak langsung, dan pengurang emisi.

Emisi langsung adalah emisi yang langsung dihasilkan oleh lembaga penyedia keuangan dan/atau pelaku usaha dalam rangka melaksanakan aktivitasnya.

Misalnya, emisi mesin bakar tidak bergerak (genset dan boiler), mesin bakar bergerak (kendaraan dinas), penggunaan dan perubahan penggunaan lahan serta kehutanan, serta proses industri.

Sementara, emisi tidak langsung adalah emisi yang berasal dari penggunaan listrik yang tidak langsung dihasilkan oleh lembaga penyedia keuangan dan/atau pelaku usaha.

Misalnya, emisi dari pemakaian listrik yang dibeli dari perusahaan listrik, penggunaan produk oleh organisasi termasuk limbah yang dihasilkan, penggunaan produk yang dihasilkan perusahaan oleh pihak lain termasuk investasi dan pembiayaan.

Selain faktor penambah emisi, kalkulator hijau menyediakan faktor pengurang emisi dalam hal penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dan kendaraan listrik, dan mengakomodasi carbon offset menggunakan Sertifikat Pengurangan Emisi (SPE), baik yang dibeli melalui bursa karbon, blended dengan instrumen keuangan seperti obligasi hijau, atau SPE dari aktivitas perusahaan.

Penutup, bagi pembaca yang tertarik untuk memahami apa itu kalkulator hijau dapat mengunjungi laman BI dan mengeksplorasinya dengan mengunduh aplikasi kalkulator hijau di ponsel.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau