Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 3 Desember 2024, 09:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Degradasi lahan di dunia semakin parah. Menurut Konvensi PBB Melawan Penggurunan atau United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD), 2 miliar lahan di dunia telah terdegradasi.

Degradasi lahan merupakan hasil dari tindakan eksploitasi berlebihan manusia terhadap tanah, terutama aktivitas pertanian, perkebunan, dan peternakan yang tidak berkelanjutan.

Degradasi lahan menyebabkan manfaat, kesuburan, dan kesehatan tanah menurun secara keseluruhan hingga memengaruhi keanekaragaman hayati.

Baca juga: Degradasi Lahan Semakin Cepat, Capai 1 Juta Km Persegi per Tahun

Dalam kasus yang ekstrem, degradasi tanah bisa membuat penggurunan atau desertifikasi di wilayah yang parah.

Di sisi lain, untuk mencukupi pertumbuhan populasi, diperlukan lahan yang sehat dan ekosistem yang baik agar bisa menghasilkan pangan yang berkualitas.

Namun, berbagai praktik eksploitasi saat ini menyebabkan tanah di seluruh dunia terkikis hingga 100 kali lebih cepat daripada proses alami yang memulihkannya. 

Salah satu cara untuk menangkal dan memulihkan degradasi lahan adalah melalui konsep Land Degradation Neutrality (LDN).

Lantas, apa itu LDN? Dilansir dari berbagai sumber, berikut penjelasannya dan janji Indonesia melawan degradasi lahan.

Baca juga: Sektor Swasta Perlu Terlibat Melawan Degradasi Lahan

Pengertian

LDN merupakan konsep yang diusung UNCCD untuk melawan degradasi lahan yang semakin mengkhawatirkan.

Konsep ini menyerukan adanya hierarki aksi melawan degradasi mulai dari penghindaran, minimalisasi, dan penyeimbangan secara berurutan. 

UNDCC mendefinisikan LDN merupakan sebagai suatu kondisi di mana jumlah dan kualitas sumber daya lahan yang diperlukan untuk mendukung fungsi dan layanan ekosistem guna meningkatkan ketahanan pangan tetap stabil, atau meningkat, dalam skala temporal dan spasial serta ekosistem tertentu.

LDN lalu baru diadopsi pada tahun 2015 sebagai bagian dari pencanangan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Developmen Goals (SDGs) 2030.

Sampai saat ini, sudah ada 131 negara yang telah berjanji atau berniat menghentikan degradasi lahan melalui dokumen LDN yang telah dirilis. 

Baca juga: Degradasi Lahan: Pengertian, Akibat, dan Penyebabnya

Tujuan LDN

Setidaknya ada lima tujuan LDN menurut UNDCC

  1. Mempertahankan atau meningkatkan penyediaan layanan ekosistem yang berkelanjutan
  2. Mempertahankan atau meningkatkan produktivitas lahan untuk meningkatkan keamanan pangan global
  3. Meningkatkan ketahanan lahan dan populasi yang bergantung padanya
  4. Mencari sinergi dengan tujuan sosial, ekonomi, dan lingkungan lainnya
  5. Memperkuat dan mempromosikan tata kelola lahan yang bertanggung jawab dan inklusif

Sementara itu, terdapat tiga aksi besar agar LDN dapat tercapai menurut UNDCC.

Pertama, menghindari degradasi lahan baru dengan menjaga kesehatan lahan yang ada. 

Kedua, mengurangi degradasi yang ada dengan mengadopsi praktik pengelolaan lahan berkelanjutan yang dapat memperlambat degradasi sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati, kesehatan tanah, dan produksi pangan.

Ketiga, meningkatkan upaya untuk memulihkan dan mengembalikan lahan terdegradasi ke keadaan alami atau lebih produktif.

Baca juga: Program Persemaian, Langkah KLHK dalam Menanggulangi Degradasi Lahan

LDN Indonesia

Indonesia merilis dokumen LDN pada 2015. Dalam dokumen ini, Indonesia menyebutkan total luas lahan terdegradasi mencapai 24,3 juta hektare pada 2013.

Beberapa penyebab degradasi lahan tersebut pemanfaatan lahan yang tidak tepat dan tidak diterapkannya upaya konservasi tanah dan air di wilayah tersebut.

Sehingga hal tersebut mengakibatkan erosi, sedimentasi, dan penurunan kondisi air di daerah hilir.

Rehabilitasi neto lahan dan hutan ditargetkan 5,5 hektare dalam lima tahun. Untuk mencapai LDN, lahan terdegradasi di Indonesia dapat dikurangi hingga 27,5 juta hektare pada 2040. 

Artinya, LDN dapat dicapai di Indonesia pada tahun 2040 dengan asumsi tidak ada penambahan lahan terdegradasi.

Ada delapan strategi yang dipaparkan Indonesia dalam mencapai LDN, yakni:

  1. Pengembangan pengelolaan hutan di lapangan melalui unit pengelolaan hutan, dibagi menjadi tiga kategori yaitu unit pengelolaan hutan konservasi, produksi, dan lindung.
  2. Dukungan dan partisipasi publik sangat penting untuk penerapan dan implementasi metode pencegahan dan pengendalian rehabilitasi.
  3. Mengembangkan kemitraan dengan lembaga lokal dan masyarakat serta organisasi nonpemerintah untuk implementasi pengendalian degradasi lahan yang efektif.
  4. Koordinasi dengan implementasi UNCCD untuk sinergi dan efektivitas dukungan dan sumber daya yang dibutuhkan.
  5. Memperkuat kerja sama dengan lembaga regional terkait, jaringan program tematik UNCCD regional dan organisasi internasional.
  6. Mengembangkan kapasitas untuk mengkonsolidasikan, mengelola dan menggunakan sumber daya keuangan yang ada dan memperkuat kapasitas untuk bernegosiasi dengan lembaga internasional dan nasional untuk peningkatan dukungan keuangan.
  7. Menetapkan prioritas dan pengembangan rencana aksi melalui keterlibatan aktif dalam pengambilan keputusan oleh masyarakat lokal dalam implementasi, pemantauan dan evaluasi.
  8. Partisipasi penuh dari masyarakat yang representatif harus dilibatkan dalam semua kegiatan tingkat dari perencanaan, implementasi, pemantauan, hingga evaluasi.
  9. Memanfaatkan pengetahuan praktik terbaik dan teknologi yang kuat termasuk pengetahuan dan kearifan lokal.
  10. Meningkatnya kesadaran tentang lingkungan berkualitas baik dan pengembangan pertanian berkelanjutan.
  11. Proyek harus secara holistik memperhatikan karakteristik unik masyarakat di lahan terdegradasi masing-masing.
  12. Proyek harus memperhatikan keamanan investasi jangka panjang melalui sistem penguasaan lahan yang baik dan menarik.

Baca juga: Konferensi Melawan Penggurunan COP16: Tempat, Waktu, dan Agenda Utama

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanaman Bisa Berhenti Tumbuh Sementara agar Tetap Hidup Saat Cuaca Ekstrem
Tanaman Bisa Berhenti Tumbuh Sementara agar Tetap Hidup Saat Cuaca Ekstrem
LSM/Figur
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
LSM/Figur
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
LSM/Figur
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau