Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

COP16 Riyadh Hasilkan Janji Rp 191 Triliun Atasi Kekeringan dan Degradasi Lahan

Kompas.com, 4 Desember 2024, 13:58 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Pendanaan senilai 12 miliar dollar AS atau sekitar Rp 191 triliun dijanjikan untuk berbagai upaya mengatasi kekeringan, pemulihan lahan, dan penanggulangan degradasi.

Janji tersebut terjalin pada hari kedua Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) Convention to Combat Desertification (UNCCD) di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (3/12/2024).

Dari angka tersebut, forum negara-negara kawasan Arab atau Arab Coordination Group menjadi pihak yang paling besar menggelontorkan dana dengan nilai 10 miliar dollar AS.

Baca juga: COP16 Riyadh: Pembicaraan Tinggi Lawan Degradasi Lahan Dimulai

Pendanaan dari Arab Coordination Group tersebut berasal Kemitraan Ketahanan Kekeringan Global Riyadh yang diluncurkan sebelumnya pada hari pertama COP16 Riyadh, Senin (2/12/2024).

Selain itu, negara-negara eksportir minyak atau OPEC dan Bank Pembangunan Islam masing-masing berkomitmen memberikan pendanaan sebesar 1 miliar dollar AS untuk Kemitraan Ketahanan Kekeringan Global Riyadh.

Deputi Menteri Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup, Air dan Pertanian Arab Saudi sekaligus Penasihat Presidensi UNCCD COP16 Osama Faqeeha mengatakan, besarnya janji pendanaan tersebut akan menambah daya upaya melawan kekeringan dan degradasi lahan.

"Saya berharap ini hanyalah permulaan, dan selama beberapa hari dan minggu mendatang, kita melihat kontribusi lebih lanjut dari mitra sektor publik dan swasta internasional, yang selanjutnya memperkuat dampak dari inisiatif ketahanan kekeringan dan pemulihan lahan yang vital," ucap Faqeeha.

Baca juga: Konferensi Melawan Penggurunan COP16: Tempat, Waktu, dan Agenda Utama

Dia menuturkan, pendanaan internasional untuk mengatasi kekeringan dan degradasi lahan memang membutuhkan biaya tambahan yang mendesak.

"Mengalihkan lebih banyak bantuan asing, seperti dana Bantuan Pembangunan Resmi, untuk memerangi degradasi lahan, kekeringan, dan penggurunan akan menjadi salah satu mekanisme keuangan yang dapat segera dibuka oleh komunitas internasional untuk memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan di negara-negara yang paling terdampak," ucap Faqeeha.

Pada hari kedua COP16 Riyadh, UNCCD juga merilis laporan penilaian kebutuhan keuangan merinci persyaratan pendanaan terbaru untuk mengatasi degradasi lahan, kekeringan, dan penggurunan.

Temuan tersebut mengungkap kesenjangan pendanaan yang cukup besar untuk upaya pemulihan lahan internasional.

Berdasarkan target UNCCD, investasi tahunan yang dibutuhkan untuk tahun 2025–2030 diperkirakan mencapai 355 miliar dollar AS.

Baca juga: Indonesia Akhirnya Dukung Pembentukan Badan Permanen Masyarakat Adat dalam COP16

Namun, investasi yang diproyeksikan untuk periode yang sama hanya berjumlah 77 miliar dollar AS per tahun.

Itu artinya, dunia masih butuh 278 miliar dollar AS yang perlu dimobilisasi untuk memenuhi tujuan UNCCD dalam upaya pemulihan lahan.

Laporan tersebut juga merinci kurangnya investasi dalam pemulihan lahan dan ketahanan kekeringan dari sektor swasta.

Sektor swasta diperkirakan hanya menyumbang 6 dari pendanaan global.

Padahal, UNCCD memperkirakan investasi terhadap pemulihan lebih dari satu miliar hektar lahan dapat menghasilkan hingga 1,8 triliun dollar AS per tahun.

Baca juga: Dunia Butuh 2,6 Triliun Dollar AS Pulihkan Lahan Terdegradasi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
LSM/Figur
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau