Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IAI Terbitkan Peta Jalan Standar Pengungkapan Keberlanjutan, Perusahaan Bersiap Patuhi

Kompas.com, 20 Desember 2024, 16:19 WIB
Erlangga Satya Darmawan,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat dalam upaya menurunkan emisi karbon sebagai bagian dari agenda keberlanjutan nasional dan kontribusi terhadap kesepakatan internasional.

Salah satu langkah konkret yang diambil pemerintah adalah mendorong perusahaan-perusahaan di tanah air, khususnya perusahaan publik, untuk mengungkapkan laporan keberlanjutan mereka.

Tak hanya itu, sebagai bagian dari Presidensi G20 pada 2022, Indonesia juga berperan aktif dalam mengarahkan agenda global melalui Deklarasi Bali.

Deklarasi tersebut menyatakan dukungan para pemimpin negara anggota G20 terhadap International Sustainability Standards Board (ISSB) atau Badan Standar Pelaporan Keberlanjutan Internasional.

ISSB bertanggung jawab untuk menyusun International Financial Reporting Standards (IFRS) Sustainability Disclosure Standards atau Standar Pengungkapan Keberlanjutan.

Saat ini, ISSB telah menerbitkan dua Standar Pengungkapan Keberlanjutan, yakni Persyaratan Umum untuk Pengungkapan Informasi Keuangan terkait Keberlanjutan (IFRS S1) dan Pengungkapan terkait Iklim (IFRS S2). Keduanya dinilai punya dampak bagi pemerintah dan perusahaan.

Baca juga: IFRS S1 dan S2 Diberlakukan, Indonesia Masuki Era Baru Pelaporan Keberlanjutan.

Peta Jalan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) sebagai pedoman

Sebagai bukti komitmen Indonesia terhadap pelaporan keberlanjutan, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah menerbitkan Sustainability Disclosure Standard Roadmap atau Peta Jalan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) pada Senin (2/12/2024).

Dokumen itu menjadi langkah awal bagi Indonesia untuk mengadopsi pelaporan keberlanjutan sesuai standar ISSB.

Adapun isi peta jalan tersebut mencakup strategi penerapan standar, assurance untuk laporan keberlanjutan, dan pengembangan ekosistem laporan keberlanjutan.

Sementara itu, strategi penerapan SPK mencakup dua hal utama, yakni tingkat kesesuaian dan tanggal efektif standar.

Adapun tingkat kesesuaian standar merujuk pada kepatuhan terhadap ISSB Standards, yaitu IFRS S1 dan IFRS S2, yang mengatur pengungkapan informasi terkait keberlanjutan dan iklim.

Di dalamnya, SPK yang akan diterbitkan mencakup peryaratan mengenai kewajiban pengungkapan informasi terkait iklim, sedangkan informasi keberlanjutan lainnya bersifat sukarela dengan mempertimbangkan kesiapan perusahaan di Indonesia.

Pemberian tanggal efektif standar bertujuan untuk memberikan waktu yang cukup bagi perusahaan untuk mempersiapkan laporan yang sesuai. Penentuan tanggal efektif didasarkan pada kompleksitas aturan dan kondisi ekosistem keberlanjutan di Indonesia.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, SPK direncanakan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027 dengan opsi untuk menerapkan lebih awal.

Saat SPK diberlakukan, perusahaan wajib menyusun laporan keberlanjutan sesuai standar untuk periode pelaporan 2027 yang akan dipublikasikan awal tahun 2028.

Menurut IAI, urgensi penerapan SPK saat ini adalah untuk perusahaan terdaftar di bursa (publik). Meski begitu, hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai penerapan SPK bagi entitas privat serta mikro, kecil, dan menengah.

Peta Jalan SPK menyatakan bahwa laporan yang berkualitas perlu diaudit atau mendapatkan laporan asurans dari pihak independen.

Walaupun saat ini asurans atas laporan keberlanjutan masih bersifat sukarela, assurance laporan keberlanjutan sangat disarankan demi memastikan kualitas yang setara dengan laporan keuangan.

Selain itu, karena laporan keberlanjutan berdasarkan IFRS S1 dan IFRS S2 merupakan satu kesatuan dengan laporan keuangan bertujuan umum, diharapkan perusahaan memiliki standar kualitas yang sama untuk kedua laporan.

Pentingnya persiapan laporan keberlanjutan

Pilar utama dari IFRS S1 dan S2 mencakup tata kelola, strategi, risiko dan peluang, serta metrik dan target. Dengan mempersiapkan pelaporan berdasarkan IFRS S1 dan S2, perusahaan perlu melakukan analisis risiko dan peluang terkait keberlanjutan serta dampaknya terhadap kondisi keuangan mereka.

EY Climate Change and Sustainability Services (CCaSS) Indonesia Leader, Albidin Linda mengatakan, penerapan awal standar IFRS S1 dan S2 memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, terutama dalam meningkatkan daya saing di mata investor global.

Saat perusahaan mengadopsi standar IFRS S1 dan S2 dalam laporan keberlanjutannya, investor akan mendapatkan informasi berkualitas tinggi yang memungkinkan mereka membandingkan kinerja antar perusahaan.

Selain itu, bursa efek di berbagai negara juga telah mendorong perusahaan untuk mengadopsi standar IFRS S1 dan S2 sebagai bagian dari praktik pelaporan keberlanjutan mereka.

“Untuk adopsi awal, perusahaan dapat mulai mempersiapkan beberapa hal. Perusahaan dapat memulai dengan mengidentifikasi risiko dan peluang yang berhubungan dengan iklim serta menilai dampaknya terhadap kinerja keuangan perusahaan,” ujar Albidin.

Perusahaan, tambah Albidin, juga dapat melakukan pengujian penurunan nilai aset untuk melihat kerentanan aset terhadap perubahan iklim.

Jika sudah merasa siap, perusahaan dapat berusaha untuk mendapatkan laporan assurance dari lembaga independen demi meningkatkan kualitas pelaporan.

“Perlu ada kerja sama dan sinergi antara tim keuangan, tim keberlanjutan dan tim manajemen risiko perusahaan untuk mempersiapkan pelaporan keberlanjutan sesuai standar IFRS S1 dan S2. Penerapan IFRS S1 dan S2 dapat meningkatkan ketahanan perusahaan dalam menghadapi risiko dan peluang yang berhubungan dengan keberlanjutan dan iklim,” kata Albidin.

Sebagai informasi, informasi lebih lanjut mengenai Climate Change and Sustainability Services EY Indonesia dapat dilihat melalui tautan berikut.??

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
LSM/Figur
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
LSM/Figur
Kemenhut Gandeng Ahli Investigasi 11 Subyek Hukum Terkait Banjir Sumatera Utara
Kemenhut Gandeng Ahli Investigasi 11 Subyek Hukum Terkait Banjir Sumatera Utara
Pemerintah
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
Pemerintah
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
LSM/Figur
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
BUMN
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
LSM/Figur
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
LSM/Figur
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
LSM/Figur
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
LSM/Figur
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
LSM/Figur
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Pemerintah
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
LSM/Figur
Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution
Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution
LSM/Figur
Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?
Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau