Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Permukaan Air Laut Naik 2 Cm Hanya dari Pencairan Gletser

Kompas.com, 20 Februari 2025, 11:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Permukaan laut naik hampir 2 sentimeter (cm) pada abad ini karena mencairnya gletser saja.

Temuan tersebut mengemuka berdasarkan studi berjudul Community estimate of global glacier mass changes from 2000 to 2023 yang diterbitkan dalam jurnal Nature baru-baru ini.

Dalam penelitian tersebut, didapatkan fakta bahwa 6,542 triliun ton es dari gletser-gletser di seluruh dunia telah mencair antara tahun 2000 hingga 2023.

Baca juga: PBB Tetapkan 2025 Jadi Tahun Internasional Pelestarian Gletser

Kondisi tersebut menyebabkan kenaikan permukaan laut global sebesar 18 milimeter (mm), sebagaimana dilansir The Guardian, Rabu (19/2/2025).

Gletser dunia kehilangan rata-rata 273 miliar ton es setiap tahunnya, setara dengan konsumsi air selama 30 tahun oleh seluruh populasi global.

Selama seabad ini, penelitian tersebut mengungkapkan gletser yang mencair sudah sebanyak 5 persen dari total volumenya. 

Di masing-masing wilayah yang memiliki gletser, laju pencairannya sangat bervariasi. 

Baca juga: Gletser Terluas di Dunia Mencair Cepat, Permukaan Laut Bisa Naik 3 Meter

Contohnya pulau-pulau di Antarktika dan subantartika kehilangan 2 persen dari volumenya. Sementara itu, gletser di Eropa tengah sudah kehilangan 39 persen.

Salah satu penulis utama studi tersebut, Profesor Noel Gourmelen dari Universitas Edinburgh, menyampaikan temuan tersebut sangat mengejutkan.

"(Angka-angka pencairan gletser) itu sebagai pengingat bahwa keadaan berubah dengan cepat di beberapa wilayah," kata Gourmelen.

Dia menambahkan, pencairan gletser memiliki dampak nyata.

"Gletser merupakan biometer untuk perubahan iklim, jadi temuan ini merupakan ukuran dampak perubahan iklim selama 20 tahun terakhir," ucap Gourmelen.

Baca juga: Gletser Marmolada Italia Diprediksi Hilang 2040 karena Pemanasan Global

Laju pencairan makin cepat

Laju pencairan gletser juga semakin cepat karena pemanasan global. Hanya dalam kurun waktu 11 tahun saja, 36 persen gletser mencair antara 2012 sampai 2023.

Andrew Shepherd dari Universitas Northumbria menuturkan, temuan tersebut mengonfirmasi bahwa laju pencairan gletser semakin cepat dari waktu ke waktu.

"Bahkan kenaikan permukaan laut dalam jumlah kecil pun penting karena menyebabkan banjir pesisir yang lebih sering. Setiap cm kenaikan permukaan laut menyebabkan 2 juta orang lainnya terpapar banjir tahunan di suatu tempat di planet kita," ucap Shepherd.

Hilangnya gletser juga menyebabkan menipisnya persediaan air tawar bagi masyarakat terpencil di wilayah tersebut.

Shepherd berujar, sekitar 2 miliar orang bergantung pada air lelehan gletser. Sehingga penyusutannya menjadi masalah besar bagi masyarakat setempat.

Baca juga: Pemanasan Global: Venezuela Kehilangan Gletser Terakhirnya

"Bukan hanya karena kita kehilangannya dari lanskap kita, gletser merupakan bagian penting dari kehidupan kita sehari-hari," jelasnya.

Penelitian terbaru tersebut merupakan bagian dari proyek studi Glacier Mass Balance Intercomparison Exercise (Glambie). 

Penelitian ini menggabungkan dan menganalisis data yang tersedia dari pengukuran lapangan serta data-data dari satelit optik, radar, dan laser.

Martin Siegert, profesor geosains di Universitas Exeter, bertutur penelitian ini mengkhawatirkan karena memprediksi hilangnya gletser lebih lanjut.

"2 cm mungkin kedengarannya tidak banyak, tetapi ini merupakan kontribusi dari gletser, bukan seluruh es di planet ini atau yang berasal dari Greenland dan Antarktika," jelasnya.

Baca juga: Lebih dari Separuh Gletser Tropis di Peru Mencair karena Perubahan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau