Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Energi Terbarukan Diklaim Lebih Menguntungkan Dari Teknologi Penangkapan Karbon

Kompas.com, 24 Februari 2025, 19:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ecowatch

KOMPAS.com - Sebuah studi mengungkapkan berinvestasi di energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, panas bumi, dan tenaga air menjadi opsi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan teknologi penangkapan karbon (CC).

Menurut Badan Energi Internasional (IEA) penangkapan karbon adalah teknologi yang menangkap dan menyimpan karbon dioksida, biasanya dari lokasi-lokasi yang sangat berpolusi seperti pembangkit listrik atau fasilitas industri.

IEA mencatat, meskipun penerapan penangkapan karbon secara global semakin meningkat, angka-angka tersebut masih jauh di bawah apa yang diperlukan untuk mencapai emisi nol bersih.

Baca juga: Pemerintah Komitmen Tekan Emisi meski Target EBT Tak Tercapai Tahun Ini

Namun, Penelitian baru yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science and Technology ini menemukan biaya investasi dalam penangkapan karbon dibandingkan energi terbarukan kurang menguntungkan dibandingkan fokus pada sumber energi bersih.

Temuan itu didapat setelah peneliti melakukan studi terhadap dua skenario kebijakan di 149 negara hingga tahun 2050.

Skenario pertama mencatat di mana negara-negara mengubah 100 persen energi menjadi energi terbarukan atau tenaga angin-air-tenaga surya (WWS).

Skenario kedua adalah negara-negara yang menerapkan kebijakan dalam penangkapan karbon (CC) dan penangkapan karbon udara langsung sintetis (SDACC).

Dalam skenario kedua tersebut, juga tetap digunakan campuran energi yang mencakup bahan bakar fosil dan energi terbarukan.

Kedua skenario kemudian memperhitungkan peningkatan yang sama dalam efisiensi energi lalu membandingkan biaya energi, dampak kesehatan masyarakat dan perubahan emisi pada masing-masing skenario.

Baca juga: Indonesia-Turkiye Teken MoU Energi, Kerja Sama EBT hingga Nuklir

Hasilnya, dikutip dari Eco Watch, Senin (24/2/2025) dalam skenario penangkapan karbon, negara-negara akan menanggung biaya sosial sebesar 60 triliun dollar AS hingga 80 triliun dollar AS per tahun atau biaya yang terkait dengan energi, kesehatan, dan iklim yang muncul dengan setiap ton tambahan emisi karbon dioksida.

Bahkan, jika semua karbon ditangkap dan disimpan, skenario ini akan mengakibatkan peningkatan emisi non-karbon dioksida, peningkatan polusi udara, kebutuhan energi serta biaya infrastruktur yang lebih tinggi.

Sementara, dalam skenario WWS, peneliti menemukan ada penurunan biaya energi tahunan sekitar 59,6 persen dan penurunan biaya sosial tahunan sebesar 91,8 persen.

Baca juga: Cara Produksi Hidrogen Berkelanjutan Dikembangkan, Bebas Emisi Karbon

"Jika Anda menghabiskan 1 dollar AS untuk penangkapan karbon, Anda meningkatkan CO2, polusi udara, kebutuhan energi, biaya energi, jaringan pipa, dan biaya sosial," kata penulis utama studi Mark Jacobson, profesor teknik sipil dan lingkungan di Universitas Stanford di California, AS.

Berinvestasi pada energi terbarukan daripada bergantung pada bahan bakar fosil yang dipadukan dengan penangkapan karbon juga lebih bermanfaat terhadap kesehatan masyarakat.

Seperti yang dilaporkan oleh Universitas Stanford, skenario WWS akan menghindari 5 juta kematian setiap tahunnya dan ratusan juta penyakit lain yang terkait dengan polusi udara.

Hal itu membuat peneliti menekankan solusi energi bersih dibandingkan teknologi CC dan SDACC.

“Satu-satunya cara untuk menghilangkan semua gas dan partikel pencemar udara dan pemanasan iklim dari energi adalah dengan menghilangkan pembakaran,” tulis para penulis dalam makalahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau