JAKARTA, KOMPAS.com - Plastik polyethylene terephthalate (PET) telah lama menjadi material pilihan utama dalam industri daur ulang.
Berbeda dengan jenis plastik lainnya, PET memiliki nilai ekonomi tinggi dan rantai pasok daur ulang yang lebih mapan, terutama dalam industri air minum dalam kemasan (AMDK). Hal ini membuat PET lebih diminati dibandingkan plastik jenis lain, termasuk kemasan gelas plastik.
"Plastik PET itu punya rantai daur ulang yang jelas. Nilai ekonominya lebih tinggi," ujar Ahmad Safrudin dari Konsorsium Pengelolaan Sampah Net Zero (NZWMC) dalam acara Kompas.com Talks bertajuk "Mitos Vs Fakta: Benarkah Semua Plastik Adalah Sampah?" yang digelar di Aroem Resto and Cafe Jakarta, Jumat (21/2/2025).
Baca juga: Es Teh Jumbo dan Masalah Sampah Plastik di Soloraya
Sebelumnya, NZWMC bersama Litbang Harian Kompas mempublikasikan hasil audit “Potret Sampah 6 Kota: Medan, Samarinda, Makassar, Denpasar, Surabaya, dan DKI Jakarta”, Rabu (22/11/2023).
Di antara sampah kemasan, botol dan cup AMDK minuman mendominasi di berbagai site dan rantai jalur sampah, yakni menempati posisi keempat.
Meski demikian, ada perbedaan mencolok dalam pola pengelolaannya. Botol PET lebih banyak dikumpulkan oleh pemulung dan masuk ke rantai daur ulang, sementara gelas plastik cenderung tidak diambil karena nilai ekonominya lebih rendah.
Seperti diketahui, dalam audit yang dilakukan NZWMC, tidak ditemukan galon PET AMDK. Ini tandanya, kemasan besar, termasuk dalam bentuk galon terserap oleh industri daur ulang.
Selain faktor ketahanan, galon PET juga lebih menarik bagi industri daur ulang karena bobotnya lebih berat dan nilainya lebih tinggi dibandingkan botol PET kecil atau gelas plastik. Hal ini membuat pemulung dan bank sampah lebih tertarik untuk mengumpulkannya.
CEO Kita Bumi Global, Hadiyan Faris Azhar, menjelaskan bahwa plastik jenis PET dan high density polythylene (HDPE) memiliki nilai ekonomi tinggi dalam industri daur ulang karena lebih mudah diproses.
Baca juga: Murah tapi Sulit Didaur Ulang, Alasan Sampah Gelas Plastik AMDK Membludak
Sebaliknya, kemasan cup dalam industri AMDK kerap kali menjadi tantangan dalam proses daur ulang.
“Dalam proses daur ulang itu kemasan gelas (berbahan popipropilena atau PP) sebetulnya bisa didaur ulang, tapi nilai ekonominya sudah pasti menyusut. Tak main-main, susutnya bisa sampai 60 persen,” tambahnya.
Ukurannya yang kecil juga menyulitkan proses pengumpulan dan daur ulang yang efektif.
Selain itu, dalam praktiknya, kata Faris, plastik cup sering kali tercampur dengan sisa cairan, sedotan atau tutup gelas yang menempel. Tiap komponen harus dipilah dan dibersihkan.
Baca juga: Saset dan Gelas Plastik Sekali Pakai Dominasi TPA di 6 Kota Indonesia
Tiap proses itu membutuhkan biaya. Pada akhirnya hasil daur ulang yang bisa dihargai sejumlah tertentu harus menyusut karena pelaku perlu mengeluarkan biaya. Inilah yang membuat plastik jenis ini tidak menarik bagi pemulung atau bank sampah.
Namun, pada akhirnya, tantangan dalam daur ulang akan tetap ada. Untuk itu, dorongan regulasi dalam pengelolaan sampah plastik (waste management) juga menjadi faktor penting.
Beberapa negara telah mewajibkan produsen untuk mengelola siklus hidup produk plastik mereka, termasuk skema pengumpulan kembali (take-back scheme) untuk produk kemasan plastik yang diproduksinya.
Di Indonesia, pemerintah mulai mendorong konsep extended producer responsibility (EPR), di mana produsen bertanggung jawab atas pengelolaan sampah plastik mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya