Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Jadikan Idul Adha Momentum Pemberdayaan Peternak Lokal

Kompas.com, 6 Juni 2025, 11:09 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh Afni Regita Cahyani Muis*

KOMPAS.com - Dengan jumlah penduduk 284 juta orang, kebutuhan makanan Indonesia cukup besar. Belum lagi, demografi penduduk yang mayoritas muslim menjadikannya sebagai pasar daging sapi, kambing, atau lembu potensial–terutama di momen perayaan Idulfitri dan Iduladha.

Melansir Badan Pusat Statistik, permintaan daging di Indonesia tahun 2024 mencapai 759.688 ton. Sayangnya, pasokan yang bisa tersedia dari produsen daging dalam negeri hanya mencapai 496.246 ton.

Hal inilah yang menyebabkan publik sering mendengar aksi importasi daging, sapi bakalan, hingga siap potong saban tahun.

Padahal, Kementerian Pertanian mencatat ada hampir 5 juta peternak skala rumah tangga. Namun, secara tren sejak tahun 2020, produksi daging sapi yang dihasilkan para peternak lokal berkurang.

Segudang tantangan perberdayaan peternak sapi lokal

Peternakan sapi di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat memprihatinkan sampai saat ini. Pelaku usaha peternakan di Indonesia saat ini adalah peternakan rakyat yang berkontribusi sebanyak 78 persen dalam pasokan sapi. Usaha peternakan sapi di indonesia yang berfokus pada sapi potong didominasi oleh peternakan rakyat sebesar 4,20 juta orang yang menguasai lebih dari 98 persen ternak di Indonesia

Sayangnya, aktivitas peternakan rakyat belum berdaya. Industri peternakan lokal masih menghadapi tantangan dalam aspek seperti pembiayaan, investasi, hingga kemitraan. Masalah lainnya adalah pengelolaan informasi pemasaran yang tak memadai, kurangnya bimbingan teknis/pelatihan pengolahan hasil peternakan, pembinaan pendampingan sistem organik peternakan, dan pemutakhiran basis data UPH Peternakan.

Selain manajemen peternak, tantangan utama Indonesia untuk mencapai ketahanan suplai hewan kurban adalah pemerataan distribusi. Namun yang terjadi adalah distribusi yang tidak merata. Contohnya, sepanjang tahun 2024, sekitar 60 persen hewan kurban dan daging sapi berada di wilayah perkotaan karena ketimpangan antara desa dengan kota yang memengaruhi daya beli daging.

Akibatnya, secara nasional, rapor positif peningkatan produksi ternak Indonesia pada tahun 2024 masih didominasi ayam—sekitar 31,54 persen dari total produksi ternak nasional. Sementara realisasi pertumbuhan produksi daging sapi hanya tumbuh tipis sebanyak 3,93 persen atau 477 ribu ton.

Distribusi yang tidak merata juga hingga kini masih disebabkan oleh permasalahan klasik yakni mahalnya ongkos kirim. Seperti yang diketahui ongkos logistik di Indonesia kalah kompetitif dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara. Saking mahalnya ongkos logistik intranegeri di Indonesia, masih lebih murah ongkos kirim impor.

Perlunya acuan model bisnis dan logistik yang efektif

Pemerintah sebenarnya sedang berfokus memberdayakan peternak skala rumah tangga melalui banyak aspek.

Baca juga: Harga Serangga untuk Pertanian: Tanpanya, Rp 300 Triliun Melayang

Namun, sebelum melakukan sosialisasi atau langkah teknis pemberdayaan, ada baiknya pemerintah dan pihak terkait menentukan model bisnis yang tepat. Agaknya akan sulit jika peternak rakyat langsung diarahkan skema pasar bebas berorientasi industri.

Sebagai permulaan, pemerintah dapat menggandeng mitra-mitra untuk melakukan pemberdayaan peternak berbasis komunitas. Model pemberdayaan ini akan lebih cocok karena tetap mempertahankan kekhasan peternak rakyat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
LSM/Figur
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau