JAKARTA, KOMPAS.com - PT Vale Indonesia mengeklaim telah merehabilitasi 2,5 kali lebih banyak lahan dari yang mereka gunakan untuk proyek pertambangan.
Chief Sustainability & Corp Affairs Officer PT Vale Indonesia, Bernadus Irmanto, mengatakan bahwa pihaknya juga menutup sekitar 64 persen lahan pertambangan yang sempat dibuka.
"Kami juga harus menghijaukan, melakukan rehabilitasi di luar wilayah konsesi. Sampai tahun kemarin, kami ini sudah merehabilitasi 2,5 kali lahan yang kami buka untuk tambang," ujar Bernadus dalam acara di Jakarta Pusat, Rabu (26/3/2025).
Dia menjelaskan bahwa proyek PT Vale Indonesia berada di sekitar Danau Matano, Sulawesi Selatan. Air danau mengalir ke tiga PLTA yang dibangun perusahaan untuk penambangan nikel.
"PT Vale adalah perusahaan yang mengoperasikan pabrik pengolahan nikel dengan intensitas emisi karbon paling rendah di Indonesia. Karena kami memiliki tiga PLTA tersebut," ungkap Bernadus.
"Kalau danau ini adalah jantung kehidupan operasi PT Vale, maka adalah sebuah keharusan buat perusahaan untuk menjaga kelestarian danau ini," imbuh dia.
Bernadus tak memungkiri bahwa jika kegiatan pertambangan berdampak langsung terhadap kualitas air. Oleh sebab itu, perusahaan mencari cara agar meminimalisir erosi serta sedimentasi. Hal ini dilakukan dengan reklamasi ataupun rehabilitasi lahan secara progresif.
Baca juga: Smelter Nikel Asal China Terancam Tutup, Bisakah Danantara Jadi Penyelamat?
"Kedua, setelah kami meminimalkan erosi dan sedimentasi, bagaimana kami mengelola air limpasan tambang dengan cara yang komprehensif dengan membangun mungkin ratusan kolam pengendapan," ucap dia.
Lainnya, melakukan inovasi untuk menjaga kualitas limpasan air pertambangan ke danau agar tidak tercemar. Bernadus menyebut, PT Vale Indonesia tidak membuka lahan secara besar-besaran.
"Kami membuka atau membagi lahan pertambangan menjadi kompartemen-kompartemen kecil, kemudian menambah per kompartemen," kata Bernadus.
Ketika menyelesaikan proyek pertambangan, maka pihaknya langsung merehabilitasi kompartemen yang digunakan sebelum berpindah ke lahan lain.
Menurut Bernadus, Danau Matano memiliki kualitas air lebih baik dari standar air minum dalam kemasan meski di sekitarnya berdiri perusahaan tambang.
"Selama 50 tahun kami operasi di Soroako, betul-betul kami menunjukkan komitmen tersebut. Kami menjaga air, kami menjaga danau," tutur dia.
Baca juga: Morowali Jadi Langganan Banjir, Walhi Serukan Moratorium Tambang Nikel
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya