Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ren Muhammad

Pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain membidani kelahiran buku-buku, juga turut membesut Yayasan Pendidikan Islam Terpadu al-Amin di Pelabuhan Ratu, sebagai Direktur Eksekutif.

Menanam Benih Langit di Bumi: Spirit Ketahanan Pangan Nusantara

Kompas.com, 15 April 2025, 20:44 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sementara negara-negara seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina terus mendorong batas teknologi dengan penerapan GMO, Rusia mengambil posisi berbeda dengan menekankan pada kealamian dan keaslian produk pangan.

Keduanya memiliki keunggulan masing-masing dalam menghadapi tantangan dan peluang di era globalisasi, membuat dunia pertanian semakin dinamis dan beragam.

Dalam perjuangannya menjaga kealamian produk, Rusia menerapkan regulasi ketat yang melarang budidaya GMO di lahan domestik.

Kebijakan ini tidak hanya memastikan bahwa setiap butir gandum, barley, dan biji-bijian lainnya tetap murni, tetapi juga memberikan jaminan kepada pasar internasional akan kualitas dan integritas pangan yang dihasilkan.

Komitmen tersebut merupakan bagian dari strategi nasional yang mendukung kedaulatan pangan serta penguatan industri benih lokal, di mana lembaga-lembaga riset dan universitas bekerja sama untuk mengembangkan varietas unggul melalui teknik pemuliaan konvensional.

Investasi dalam riset dan inovasi di sektor pertanian telah turut mengantarkan Rusia pada peningkatan produktivitas komoditas lain seperti jagung dan barley.

Infrastruktur pendukung—mulai dari fasilitas penyimpanan modern hingga sistem irigasi yang efisien—memastikan bahwa setiap tahap produksi berlangsung optimal.

Semua langkah tersebut membentuk sinergi kuat antara teknologi tradisional dan inovasi terukur, menghasilkan produk pangan yang memenuhi standar global tanpa harus mengorbankan kealamian.

Rusia seolah mengajarkan bahwa dalam menghadapi tantangan global, kedaulatan pangan dapat dicapai dengan tetap menjaga nilai kealamian.

Dengan memaksimalkan potensi alam melalui pengembangan varietas lokal dan menerapkan kebijakan rigor dalam pelarangan GMO, Rusia berhasil menciptakan sistem pertanian yang tidak hanya mempertahankan identitasnya, tetapi juga mampu bersaing di pasar ekspor dunia yang menuntut produk berkualitas tinggi dan murni.

Kontekstualisasi Indonesia kiwari

Di tengah persaingan global tersebut, Indonesia— negara agraris dengan potensi alam yang melimpah—menempa jalannya sendiri melalui program ketahanan pangan yang ambisius.

Pada era Presiden Prabowo, pemerintah telah meluncurkan serangkaian kebijakan strategis demi meningkatkan kemandirian pangan nasional.

Data dari Badan Pusat Statistik mencatat bahwa lahan pertanian Indonesia mencapai sekitar 14 juta hektare, dan produksi beras nasional mendekati 70 juta ton pada musim panen terakhir.

Program ketahanan pangan yang digalakkan tidak hanya berfokus pada peningkatan angka produksi, melainkan juga pada efisiensi penyaluran, pengembangan infrastruktur, dan pelestarian keanekaragaman hayati—sebuah langkah yang mengintegrasikan modernisasi teknologi pertanian dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Guna mencapai transformasi besar dalam sistem pangan, Indonesia perlu mengintegrasikan teknologi modern dengan kearifan lokal yang telah terbukti selama sekian abad.

Modernisasi pertanian melalui pemanfaatan pertanian presisi, Internet of Things (IoT), serta penggunaan drone untuk pemantauan dan analisis lahan dapat memberikan data waktu nyata yang membantu petani mengoptimalkan produktivitas lahan.

Di sisi lain, peningkatan kualitas infrastruktur—mulai dari jalan akses, fasilitas irigasi, hingga gudang penyimpanan berpendingin—akan mengurangi kerugian pascapanen dan memastikan produk pangan sampai ke konsumen dalam kondisi optimal.

Hal ini sejalan dengan upaya global untuk menciptakan rantai pasok yang efisien dan responsif terhadap dinamika pasar.

Sinergi antara inovasi teknologi dan pemberdayaan petani juga menjadi kunci. Indonesia dapat memperkuat kerja sama antara lembaga riset, perguruan tinggi, dan sektor swasta guna menghasilkan varietas tanaman unggul yang tangguh menghadapi perubahan iklim dan serangan hama.

Program pelatihan intensif dan pendampingan langsung kepada petani akan menanamkan keterampilan dalam mengoperasikan teknologi modern sekaligus menanamkan semangat kedaulatan pangan melalui teknik budidaya tradisional yang telah teruji.

Upaya ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya agraris yang menjadi identitas bangsa.

Selain upaya peningkatan produktivitas domestik, diversifikasi produk unggulan untuk pasar ekspor juga merupakan langkah strategis.

Mengembangkan produk-produk agroindustri bernilai tambah tinggi, seperti padi organik, jagung lokal, atau produk turunannya, akan memperluas jangkauan pasar internasional.

Konsumen global kini semakin mencari produk yang otentik, sehat, dan berkelanjutan, sehingga keberadaan produk pangan yang tidak hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas akan memberikan keunggulan kompetitif.

Kebijakan dan insentif pemerintah turut memegang peranan penting dalam transformasi ini. Pemerintah perlu menetapkan regulasi yang mendukung riset dan inovasi di bidang pertanian, memberikan kemudahan permodalan bagi petani, serta menyederhanakan birokrasi agar alur produksi dan distribusi lebih ramping.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
Pemerintah
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
LSM/Figur
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Pemerintah
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
LSM/Figur
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
LSM/Figur
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
LSM/Figur
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Pemerintah
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Swasta
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
LSM/Figur
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Pemerintah
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
BUMN
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Pemerintah
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
LSM/Figur
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau