Selain itu negara ini telah mengalokasikan lebih dari 1,3 miliar dollar AS untuk proyek tenaga surya dan 142 juta dollar AS untuk upaya panas bumi di lima negara Asia Tenggara.
Korea Selatan memimpin ekspor komponen baterai ke Malaysia dan Indonesia, dan berada di peringkat kedua setelah China dalam memasok baterai kendaraan listrik ke Indonesia.
Peran Australia berbeda. Negara ini tengah mengerjakan Australia-Asia Power Link, yang akan mengirimkan tenaga surya dari Australia ke Singapura melalui Indonesia. Hal ini menunjukkan fokusnya pada infrastruktur transmisi.
Baca juga: Efisiensi Energi Jadi Prioritas, Dua Pertiga Industri Global Tambah Anggaran
Energi bersih kini dilihat bukan hanya sebagai isu iklim tetapi juga sebagai cara meningkatkan ekonomi dan mempererat hubungan.
Di sisi lain meningkatnya permintaan energi hijau juga membuka pintu bagi negara-negara untuk beralih lebih cepat ke energi yang lebih bersih.
Asia Tenggara membutuhkan sekitar 180 miliar dollar AS investasi tahunan untuk memenuhi tujuan energi bersihnya.
Para ahli mengatakan bahwa permintaan yang terus meningkat akan energi hijau di kawasan ini dapat membantu mengirimkan sinyal yang tepat kepada para investor dan pemasok.
“Energi terbarukan dengan cepat menjadi sumber daya termurah di sebagian besar Asia Tenggara,” kata Amy Kong, yang juga merupakan rekan peneliti di Zero Carbon Analytics.
“Memperluas energi bersih regional akan membantu mengamankan energi yang terjangkau untuk mendukung pertumbuhan ekonomi blok tersebut yang pesat. Para investor yang berpartisipasi dalam transisi energi dapat menguasai pangsa pasar yang bersih, memenuhi target nol emisi bersih, dan membangun kerja sama regional dalam menghadapi volatilitas geopolitik,” tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya