Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Genetika Tuna Diteliti, Jadi Dasar Kuota Tangkap dan Konservasi

Kompas.com, 10 Juli 2025, 13:03 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meneliti struktur genetika tiga spesies tuna di sepanjang perairan Sumatra sebagai bagian dari upaya mendukung kebijakan pengelolaan kawasan konservasi perairan (Marine Protected Area/MPA) secara berkelanjutan.

Ketua Kelompok Riset Biodiversitas Spesies Endemik Fauna Akuatik BRIN, Gunawan Muhammad, menjelaskan bahwa riset ini berfokus pada yellowfin tuna, skipjack tuna, dan mackarel tuna.

Sebanyak 781 ekor dari ketiga spesies tersebut telah diambil sampelnya di sepanjang garis pantai Sumatra untuk kemudian dilakukan ekstraksi DNA.

“Tujuan utamanya, kami ingin melihat apakah struktur populasi tuna yang didapatkan oleh nelayan di sepanjang pantai Sumatra itu berasal dari populasi yang sama atau berbeda,” ujar Gunawan dalam keterangannya, Kamis (10/7/2025).

Menurutnya, riset genetika populasi ini memainkan peran penting dalam mendukung perencanaan dan pengelolaan MPA. Jika hasilnya menunjukkan bahwa ketiga spesies berasal dari populasi yang sama, maka pendekatan konservasi bisa diseragamkan di berbagai wilayah. Namun jika berasal dari populasi berbeda, maka kebijakan perlu disesuaikan secara spesifik sesuai unit populasinya.

“Data yang kami hasilkan ini nantinya akan membantu pemerintah dalam menyusun kebijakan di MPA itu sendiri,” tambahnya.

Baca juga: Kolaborasi Antar-Organisasi Dibentuk untuk Efektifkan Konservasi Laut

Sampel yang dikumpulkan saat ini masih dalam proses sequencing di Jepang, melalui kolaborasi dengan Prof. Yamahira dari University of the Ryukyus.

Salah satu peneliti Konservasi Indonesia sekaligus Senior Manager Blue Halo S, Rian Prasetia, menyebut belum ada hasil awal yang tersedia, termasuk terkait perbedaan struktur genetik antarspesies.

Meski demikian, Rian pun menegaskan bahwa jika hasil analisis menunjukkan adanya lebih dari satu populasi tuna yang berbeda secara genetik di sepanjang pantai barat Sumatra, maka hal ini menandakan keberadaan unit stok yang berbeda. Artinya, pengelolaan perikanan tidak bisa disamaratakan, melainkan perlu pendekatan spesifik untuk masing-masing unit.

“Setiap unit stok memerlukan pendekatan pengelolaan yang spesifik, karena memiliki karakteristik biologis, distribusi, dan dinamika populasi yang berbeda,” ujar Rian.

Menurut Rian, pengelolaan yang tidak membedakan antarunit stok dapat menyebabkan eksploitasi berlebih pada satu populasi, meskipun stok lainnya masih dalam kondisi sehat.

Karena itu, hasil riset ini akan menjadi dasar ilmiah penting dalam penetapan kuota tangkap, musim penangkapan, dan wilayah konservasi secara lebih tepat, serta mendorong kebijakan lintas wilayah yang mempertimbangkan keragaman struktur genetik populasi.

Ke depan, Rian mengatakan bahwa pihaknya berencana memperluas riset ini ke wilayah timur Indonesia, khususnya di Laut Banda. Rencana ini didorong oleh pentingnya wilayah tersebut dalam distribusi tuna dan kebutuhan untuk melengkapi pemetaan struktur populasi tuna secara nasional.

Selain mendukung pengelolaan perikanan tuna yang berkelanjutan, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat pengembangan kawasan konservasi laut skala besar (Large-Scale Marine Protected Area/LSMPA) di kawasan timur, yang strategis dalam menjaga keanekaragaman hayati dan stok ikan pelagis utama seperti tuna.

Baca juga: Jika Diteruskan, Tambang Nikel Raja Ampat Rugikan Perikanan Tuna

Namun, Rian juga mencatat adanya kendala dalam pengumpulan data, terutama terkait minimnya informasi akurat mengenai lokasi penangkapan. Gap data ini menyulitkan penelusuran asal geografis sampel, yang penting untuk pemetaan populasi.

Adapun, penelitian berbasis darat ini juga dirancang untuk melengkapi data eksplorasi laut dalam program Indonesia OceanX Mission yang berlangsung pada 2024.

Program kolaboratif antara BRIN, OceanX, dan Konservasi Indonesia ini bertujuan memperkuat dasar ilmiah pengelolaan kawasan konservasi laut melalui penggabungan berbagai temuan riset.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
7 Resolusi Tahun Baru 2026 agar Hidup Lebih Ramah Lingkungan
7 Resolusi Tahun Baru 2026 agar Hidup Lebih Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Residu Sulit Diolah di Indonesia, Ada Tisu Bekas hingga Puntung Rokok
Limbah Residu Sulit Diolah di Indonesia, Ada Tisu Bekas hingga Puntung Rokok
Pemerintah
Potensi Tsunami Danau Maninjau, BMKG Jelaskan Peran Segmen Kajai-Talamau
Potensi Tsunami Danau Maninjau, BMKG Jelaskan Peran Segmen Kajai-Talamau
Pemerintah
Hujan Lebat Diprediksi Terjadi Awal Tahun 2026, BMKG Rilis Daftar Daerah Terdampak
Hujan Lebat Diprediksi Terjadi Awal Tahun 2026, BMKG Rilis Daftar Daerah Terdampak
Pemerintah
Dari Tanah “Sakit” ke Lumbung Harapan, Ini Kisah Pengawalan Pertanian Jaga Ketahanan Pangan Desa
Dari Tanah “Sakit” ke Lumbung Harapan, Ini Kisah Pengawalan Pertanian Jaga Ketahanan Pangan Desa
BUMN
Kebijakan Pelarangan Sawit di Jabar Disebut Tak Berdasar Bukti Ilmiah
Kebijakan Pelarangan Sawit di Jabar Disebut Tak Berdasar Bukti Ilmiah
LSM/Figur
Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional 'Waste to Energy' Membengkak
Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional "Waste to Energy" Membengkak
LSM/Figur
Biaya Kelola Limbah Setara Beli Popok Baru, Padahal Fibernya Punya Banyak Potensi
Biaya Kelola Limbah Setara Beli Popok Baru, Padahal Fibernya Punya Banyak Potensi
LSM/Figur
Inovasi Jaring Bertenaga Surya, Kurangi Penyu yang Terjaring Tak Sengaja
Inovasi Jaring Bertenaga Surya, Kurangi Penyu yang Terjaring Tak Sengaja
Pemerintah
Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Pemerintah
 RI Belum Maksimalkan  Pemanfaatan Potensi Laut untuk Atasi Stunting
RI Belum Maksimalkan Pemanfaatan Potensi Laut untuk Atasi Stunting
LSM/Figur
Langkah Membumi Ecoground 2025, Gaya Hidup Sadar Lingkungan Bisa Dimulai dari Ruang Publik
Langkah Membumi Ecoground 2025, Gaya Hidup Sadar Lingkungan Bisa Dimulai dari Ruang Publik
Swasta
Target Swasembada Garam 2027, KKP Tetap Impor jika Produksi Tak Cukup
Target Swasembada Garam 2027, KKP Tetap Impor jika Produksi Tak Cukup
Pemerintah
Kebijakan Mitigasi Iklim di Indonesia DInilai Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput
Kebijakan Mitigasi Iklim di Indonesia DInilai Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput
LSM/Figur
KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau