Penulis
Mereka kerap kembali kunjungi RS kapal hanya untuk mengirimkan buah-buahan sebagai ucapan terima kasih.
Inspirasi menjadi relawan di pedalaman juga menyentuh seorang dokter muda dari Jakarta, Gavriel Gregorio Singgih (26 tahun). Keinginannya untuk mengabdi sudah ia pendam sejak 2019.
"Waktu itu saya masih Koas kedokteran, dan melihat bagaimana RS kapal ini berlayar ke pelosok menghampiri masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan. To reach and reachable menjadi motivasi saya bergabung," katanya.
Josepha, Parlin, dan Gavriel adalah sebagian dari 35 relawan tenaga medis yang rela meninggalkan kenyamanan untuk mengabdi di RS Kapal. Termasuk di antaranya dokter spesialis, dokter umum, perawat, apoteker, dan bidan.
Di tengah desiran angin laut dan debur ombak yang tak pernah berhenti, Josepha dan relawan lainnya belajar satu hal, bahwa pengabdian sejati kadang datang lewat perjalanan yang tidak tenang, namun penuh makna.
RS Kapal Nusa Waluya II hadir di Waigeo Utara, Papua Barat Daya dan beroperasi selama 60 hari, sejak 10 Juni 2025 hingga Agustus mendatang, dengan target melayani hingga sebanyak 10 ribuan warga dari tujuh distrik di area tersebut tanpa biaya sama sekali.
Josepha, Parlin, dan Gavriel relawan tenaga kesehatan di RS Kapal Nusa Waluya IIRS Kapal ini beroperasi dari hasil kolaborasi PT Pertamina International Shipping (PIS) dan doctorSHARE.
"Ini merupakan kedua kali kami bekerja sama dengan doctorSHARE untuk hadirkan RS kapal ke pelosok nusantara. Kerja sama ini berangkat dari keyakinan kami bahwa setiap orang, dimanapun berada, berhak atas layanan akses kesehatan yang layak," ujar Corporate Secretary PIS Muhammad Baron, Jumat (11/7/2025).
Baca juga: Beruntungnya Siswa Sekolah Rakyat, Dapat Cek Kesehatan Gratis dan Fasilitas Boarding School
Bagi PIS, lanjutnya, program CSR yang berada di bawah payung "BerSEAnergi untuk Laut" ini merupakan cerminan semangat perusahaan untuk senantiasa menyalurkan energi kebaikan ke penjuru negeri, melalui lautan.
"Kami percaya, untuk mendorong kemajuan bangsa tak hanya soal pelayanan logistik dan kapal untuk menggerakkan ekonomi. Tapi juga hadir secara nyata ke masyarakat, untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama," kata Baron.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya