KOMPAS.com - Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2024, industri bahan bakar fosil menyumbang 389 juta ton polusi karbon ke atmosfer karena praktik pembakaran gas yang tidak perlu.
Ini merupakan pemborosan energi yang sangat besar dan dampaknya pada pemanasan global setara dengan emisi karbon seluruh negara Prancis.
Pembakaran gas (flaring) adalah cara untuk menghilangkan gas seperti metana yang muncul saat memompa minyak dari dalam tanah.
Praktik ini rutin dilakukan di banyak negara karena seringkali lebih murah membakar gas daripada menangkap, mengangkut, memproses, dan menjualnya.
Menurut laporan, dikutip dari Guardian, Jumat (18/7/2025), praktik pembakaran gas secara global terus meningkat dan mencapai rekor tertinggi sejak 2007, meskipun ada kekhawatiran yang meningkat tentang keamanan energi dan krisis iklim.
Laporan kemudian menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sebanyak 151 miliar meter kubik gas dibakar selama proses produksi minyak dan gas, jumlah ini meningkat 3 miliar meter kubik dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Pertamina Kembangkan Aplikasi Greenomina untuk Dorong Gaya Hidup Rendah Emisi
"Pembakaran gas itu pemborosan yang tidak perlu dan merupakan peluang terlewatkan untuk memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan akses terhadap listrik yang andal," kata Zubin Bamji, manajer kemitraan Global Flaring and Methane Reduction (GFMR) Bank Dunia, yang menyusun laporan tersebut.
Ia juga mengungkapkan, seringkali aturan untuk menghentikan pembakaran gas itu lemah dan tidak ditegakkan dengan baik. Akibatnya, perusahaan tidak punya motivasi untuk berhenti karena mereka tidak dikenakan biaya atas polusi yang mereka ciptakan.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa sembilan negara yakni Rusia, Iran, Irak, AS, Venezuela, Aljazair, Libya, Meksiko, dan Nigeria bertanggung jawab atas tiga perempat dari seluruh pembakaran gas pada tahun 2024. Sebagian besar dari pelanggar terburuk adalah negara-negara dengan perusahaan minyak milik negara.
Meskipun ada upaya untuk menghentikan pembakaran gas, laporan menunjukkan bahwa jumlah gas yang dibakar untuk setiap barel minyak yang dihasilkan tetap tinggi selama 15 tahun terakhir.
Andrew Baxter, seorang ahli minyak dan gas dari organisasi nirlaba Environmental Defense Fund, yang tidak terlibat dalam laporan tersebut, mengatakan sangat kecewa karena tingkat pembakaran gas saat ini kembali tinggi seperti tahun 2007.
Menurutnya, membakar gas sebanyak itu adalah pemborosan sumber daya yang parah dan berdampak sangat buruk bagi iklim serta kesehatan manusia.
Badan Energi Internasional (IEA) mendesak agar praktik pembakaran gas dihentikan total pada tahun 2030, kecuali dalam kondisi darurat. Gas yang dibakar tahun lalu itu senilai 63 miliar dolar AS, jumlah ini lebih dari separuh biaya yang dibutuhkan untuk menghentikan flaring secara keseluruhan.
Jonathan Banks dari Clean Air Task Force, yang juga tidak terlibat dalam laporan, menyatakan bahwa solusi untuk masalah pembakaran gas sudah diketahui dan seringkali tidak mahal. Namun, hambatan utamanya adalah kurangnya kemauan politik dan tekanan regulasi untuk menerapkan solusi tersebut secara luas.
Baca juga: Pulihkan Kondisi Tanah dan Tekan Emisi, PUM Tawarkan Pengolahan Sekam Jadi Biochar
Lebih lanjut, laporan menunjukkan pula adanya kemajuan, dengan menyebutkan negara-negara seperti Angola, Mesir, Indonesia, dan Kazakhstan sebagai contoh produsen minyak dan gas yang berhasil mengurangi praktik pembakaran gas.
"Kita butuh lebih banyak tindakan semacam ini dan lebih banyak dukungan untuk membantu negara-negara berpenghasilan rendah yang banyak melakukan pembakaran gas mengatasi hambatan infrastruktur dan tata kelola," kata Banks.
"Kita juga membutuhkan koordinasi global, terutama dari importir minyak besar, untuk menciptakan insentif yang memberi penghargaan kepada produsen yang bertanggung jawab dan meningkatkan standar bagi semua orang," tambahnya.
Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa negara-negara yang berkomitmen untuk mengakhiri pembakaran gas pada 2030 berhasil mengurangi intensitas pembakaran gas mereka rata-rata 12 persen sejak 2012.
Sebaliknya, negara-negara yang tidak berkomitmen malah meningkatkan intensitas pembakaran gas mereka sebesar 25 persen. Ini menunjukkan perbedaan signifikan antara negara yang berkomitmen dan tidak berkomitmen.
“Mengurangi pembakaran gas bakar bukan tanpa tantangan. Hal ini membutuhkan investasi awal, infrastruktur yang memadai, kerangka regulasi yang kuat, dan kemauan politik yang berkelanjutan," kata Bamji.
Jika syarat-syarat seperti investasi, infrastruktur, regulasi kuat, dan kemauan politik terpenuhi, negara-negara bisa jauh mengurangi pembakaran gas. Ini juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru dan memperbaiki akses energi.
Baca juga: Ekspansi Pembangkit Listrik Gas Dikhawatirkan Bikin Energi Terbarukan Jalan di Tempat
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya