Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banyak PHK dan Pengangguran, Investasi Industri Hijau Bisa Ciptakan 1,7 Juta Pekerjaan

Kompas.com, 22 Juli 2025, 19:28 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

KOMPAS.com - Institute for Essential Services Reform (IESR) menyatakan investasi di industri hijau berpotensi membuka lapangan kerja untuk 1,7 juta orang hingga 2045 dan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar Rp 638 triliun pada tahun 2030.

Program Manager Dekorbonisasi Industri IESR, Juniko Nur Pratama, di Jakarta, Selasa (22/7/2025), menyampaikan potensi tersebut bisa diwujudkan apabila industri hijau mendapatkan nilai investasi memadai, yang turut bisa memberikan kontribusi terhadap rata-rata pertumbuhan PDB setiap tahun sebesar 6,3 persen hingga 2045.

‎"Dengan investasi memadai industri hijau dapat mengakselerasi pertumbuhan," katanya seperti dikutip Antara.

Menurut dia, untuk nilai investasi yang dibutuhkan industri hijau untuk mencapai Nationally Determined Contribution (NDC) pada 2030 yakni sebesar 285 miliar dolar AS atau Rp 4,65 kuadriliun (kurs Rp16.315).

Saat ini, kebutuhan investasi tersebut sudah dialokasikan melalui sektor keuangan 41,67 miliar dolar AS atau Rp 680 triliun, dan 96,90 miliar dolar AS atau Rp 1,5 kuadriliun dari anggaran perubahan iklim pemerintah.

Baca juga: Potensi Green Jobs dari RUPTL 2025 - 2034 Perlu Dibarengi Peningkatan Kapasitas Tenaga Kerja

Sehingga masih ada gap investasi sebesar 146,43 miliar dolar AS atau Rp 2,3 kuadriliun guna mencapai target tersebut.

Lebih lanjut, dia mengatakan ada lima pilar dalam mewujudkan karbon bersih (net zero emissions/NZE) di sektor perindustrian, yakni dekarbonisasi ketenagalistrikan, subtitusi bahan bakar ramah lingkungan, peningkatan efisiensi energi, efisiensi sumber daya, serta teknologi ramah lingkungan dan penangkapan karbon (CCUS).

‎Menurut PP 33/2023, industri diharapkan dapat menghemat 5,28 MTOE pada tahun 2030. Perkembangannya hingga tahun‎ 2023, hanya 217 dari 450 industri yang telah melaporkan upaya manajemen energinya.

Dari hasil analisis IESR, beberapa industri di Indonesia telah memiliki intensitas‎ energi yang cukup baik dibanding‎ dengan rata-rata global.

Namun, dalam mencapai emisi nol perlu upaya yang lebih ambisius. Menurut International Energy Agency (IEA), efisiensi energi dan intensitas energi harus meningkat dua kali lipat‎ dalam dekade ini, dari 2 persen di tahun 2022 menjadi lebih dari 4 persen setiap tahun hingga 2030.

Target ini lebih tinggi dari skenario NZE pemerintah sebesar 1,8 persen per tahun.

Baca juga: Peluang Green Jobs di Indonesia Besar, tapi Produktivitas SDM Masih Rendah

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau