“Masalah pangan ini ‘kan masalah nasional, jadi perlu bekerja sama dengan banyak pihak, terutama keterlibatan petani-petani kecil di setiap daerah,” jelas Puji.
Kelima, sistem distribusi dan pemasaran pangan harus inklusif. Produk lokal perlu diberi ruang yang adil untuk bersaing di pasar, sekaligus didukung dengan infrastruktur agar hasil panen petani tidak hanya menumpuk di lumbung, tapi bisa sampai ke meja makan masyarakat.
Disisi lain, Puji juga menyoroti bahwa pendekatan praktik pertanian seperti penggunaan varietas unggul dan mekanisasi alat pertanian bisa menopang swasembada dan ketahanan pangan, tetapi pelaksanaannya harus bijak.
Misalnya, varietas unggul harus disesuaikan dengan kondisi iklim yang semakin tidak menentu. Jika tidak, hasil panen justru bisa gagal.
Hal lain yang harus diwaspadai adalah dampak dari fokus yang berlebihan pada satu jenis varietas.
“Kalau tidak hati-hati, pemuliaan bisa mengurangi keragaman genetik tanaman. Padahal, keragaman itu penting sebagai cadangan adaptasi di masa depan,” ujar Puji.
Teknologi pertanian, termasuk alat-alat berat, juga bisa berdampak terhadap lingkungan jika tak digunakan secara hati-hati. Menurut Puji, bahan bakar yang digunakan masih berasal dari energi fosil, sehingga berkontribusi pada emisi karbon.
Dari sisi tata ruang, ekspansi lahan ke wilayah timur Indonesia pun perlu disertai kajian sosial dan ekologis. Harus ada konsultasi dengan masyarakat lokal, termasuk masyarakat adat, agar tidak menimbulkan konflik. Juga harus dipastikan bahwa ekosistemnya mampu mendukung pertanian intensif tanpa merusak lingkungan.
Baca juga: Studi Ungkap Hanya Satu Negara di Dunia yang Bisa Swasembada Pangan
Soal kebijakan pupuk, deregulasi dianggap mempercepat distribusi dan mendukung produksi. Namun, Puji mengingatkan bahwa penggunaan pupuk kimia secara berlebihan bisa menimbulkan pencemaran dan menurunkan kesuburan tanah.
“Kuncinya adalah pengawasan dan pendampingan. Tanpa itu, kita bisa kehilangan kesuburan jangka panjang demi hasil jangka pendek,” tegasnya.
Swasembada pangan bukanlah tujuan akhir, tetapi hanya salah satu sarana untuk mencapai sistem pangan yang tangguh.
Ketahanan pangan yang berkelanjutan hanya bisa terwujud jika kebijakan produksi disertai dengan perlindungan sosial, distribusi yang adil, partisipasi petani kecil, serta keberpihakan pada ekologi dan kearifan lokal.
Sebab, ketahanan pangan sejati bukan hanya tentang cukup makan hari ini, tetapi tentang kemampuan bangsa untuk memberi makan semua orang secara adil, hari ini dan di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya