Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wamen LH: Banyak Janji Pendanaan Iklim dari Negara Maju Tanpa Realisasi

Kompas.com, 27 Agustus 2025, 14:33 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menyoroti banyak negara maju yang berjanji memberikan pendanaan iklim namun tak semua terealisasi hingga kini.

Salah satunya pada Copenhagen Accord atau Kesepakatan Kopenhagen tahun 2009, di mana negara-negara maju berjanji memberikan dana iklim 100 miliar dollar AS per tahun ke negara berkembang.

Persoalan mandeknya pendanaan ini akan dibahas dalam pertemuan Conference of the Parties atau COP30 di Brasil November mendatang.

"Lalu ada long term finance yang bilang Rp 100 miliar per tahun sampai 2020, tetapi tidak terealisasi atau terealisasi tetapi jumlahnya masih bisa di-dispute. Jadi berapa yang dijanjikan dengan berapa yang terealisasi ini masih ada gap, ini mungkin akan didiskusikan juga," ungkap Diaz dalam acara yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu (27/8/2025).

Baca juga: RI Usulkan Pendanaan Iklim Rp 1,4 T ke GCF untuk Pangkas Emisi

Di samping itu, pemerintah bakal menagih negara maju yang berjanji memberikan bantuan kepada negara berkembang sebesar Rp 1,3 triliun per tahun pada kesepakatan New Collective Quantified Goal (NCQG) COP29. Menurut Diaz, peningkatan biaya adaptasi iklim juga menjadi pembasan dalam COP30 nanti.

"Ini (NCQG) terealisasi atau enggak, kita tidak pernah tahu. Pasti juga akan dibicarakan gap di mitigasi dan adaptasi karena sekarang yang diadaptasi dananya masih sangat kecil hanya sekitar 6 persen kalau dibandingkan dengan mitigasi dan pembiayaan lain," tutur dia.

Selain pendanaan, para delegasi dari berbagai negara rencananya membahas terkait isu kesetaraan gender. Kemudian di ruang paviliun, Indonesia akan mempromosikan perdagangan karbon internasional. 

"Mungkin kami akan menjelaskan dan mendorong agar adanya penjualan karbon di situ. Ada potensinya misalnya Norwegia akan membeli 12 juta ton CO2 by 2035, pembelian ini dengan mekanisme mekanisme subsidi solar panel," ucap Diaz.

Baca juga: RI Dapat Rp 1,7 T untuk Pendanaan Iklim, Saatnya Bikin Aksi Berdampak

Menjelang gelaran COP30, KLH turut menyiapkan Second Nationally Determined Contribution (NDC) versi 3.0. Dokumen ini disebut-sebut memiliki target penurunan emisi yang lebih ambisius dibandingkan NDC sebelumya.

Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq, menyebutkan NDC 3.0 merupakan dokumen transisi menuju periode pelaksanaan 2031–2035 sekaligus mencerminkan arah pembangunan jangka menengah Indonesia.

Saat ini, KLH pun menyusun skenario penurunan emisi pasca 2030 sebagai bagian dari peta jalan menuju net zero emission 2060.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau