Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ESG dan Potret Kecil Paradoksnya di Dunia Korporasi

Kompas.com, 11 September 2025, 08:41 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Apa sebenarnya motivasi korporasi menjalankan inisiatif Environmental, Social, and Governance (ESG)? Apakah murni untuk sosial dan lingkungan?

Konsultan ESG United Nations Development Programme (UNDP) dan Sekretariat SDGs, Hendri Yulius Wijaya, mengatakan inisiatif ESG di korporasi sebenarnya penuh paradoks.

Di satu sisi, korporasi ingin memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungannya. Pada saat yang sama mereka juga memikirkan bagaimana cara mendapatkan keuntungan lebih.

"Apakah baik-baik saja jika memiliki keduanya? Tidak apa-apa, karena hidup ini selalu bertemu dengan kontradiksi dan paradoks," kata Hendri.

"Justru dengan paradoks ini, kita bisa menemukan jalan tengahnya, apa yang mungkin untuk saat ini," tegasnya dalam Kopi Darat Komunitas ESG di Menara Kompas, Rabu (10/9/2025).

Paradoks Kepatuhan

Hendri menuturkan kepatuhan masih menjadi persoalan utama dalam membahas penerapan ESG di dalam perusahaan.

Dari budaya kepatuhan menuju implementasi ESG yang baik dan bermakna membutuhkan proses yang cukup lama.

Penelitiannya pada lembaga jasa keuangan di Jakarta yang masih berusia di bawah 7 tahun mengungkap bahwa pekerja Gen Z diberi tugas membuat beragam inisiatif keberlanjutan.

Ketika menjalankan inisiatifnya, pekerja Gen Z yang punya kepedulian terhadap iklim kerap terbentur karena alasan kepatuhan.

Baca juga: Survei Bloomberg Sebut Investor Percaya dengan Masa Depan Investasi ESG

Sebabnya, lembaga jasa keuangan harus berhati-hati dalam menggunakan sumber daya, termasuk dalam menjawab tantangan iklim yang tergolong baru.

Akhirnya, alih-alih membuat inisiatif yang maksimal dalam upaya, lembaga jasa keuangan masih menganut paradigma "yang penting kita patuh dulu, yang penting kita serahkan dulu."

Paradoks Pemberdayaan Perempuan

Masalah pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari inisiatif keberlanjutan juga penuh paradoks.

Lembaga jasa keuangan sebenarnya melayani komunitas yang tak terjangkau bank dan yang tertarik pada isu perempuan kerap melayani ibu-ibu dari kelompok terpinggirkan.

Hendri menceritakan, para anak magang Gen Z membuat kegiatan seminar soal pemberdayaan ekonomi perempuan, anti-pelecehan seksual di tempat kerja, serta kepemimpinan perempuan.

Namun paradoksnya, beban melaksanakan semua kegiatan pemberdayaan perempuan tersebut harus dibebankan kepada pekerja magang Gen Z yang banyak perempuannya.

"Akhirnya yang terjadi adalah, ketika kita harusnya memberdayakan orang, tetapi dalam kasus ini malah orang yang harusnya diberdayakan, malah harus memikul beban untuk menciptakan pemberdayaan itu sendiri di dalam kantor. Ini menjadi sesuatu yang ironis," ucapnya.

Proses

Ia menilai pergulatan dengan paradoks di dalam korporasi bisa menjadi bagian dari upaya perbaikan inisiatif keberlanjutan.

Hendri menyarankan ESG diterapkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan.

"Jadi, lakukan dulu yang bisa kita lakukan saat ini, karena jangan sampai kita memaksa, akhirnya malah jadi berantakan. Lebih baik kita lakukan langkah demi langkah," ucapnya.

Baca juga: Inquirer ESG Edge Awards 2025: Apresiasi Perusahaan hingga UMKM yang Bawa Dampak Nyata

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau