KOMPAS.com - Analisis terbaru menemukan bahwa kerusakan alam dapat merugikan delapan industri global hingga 430 miliar dolar AS per tahun.
Industri-industri yang paling parah terkena dampaknya adalah produksi makanan, ritel, dan kehutanan.
Temuan tersebut merupakan hasil laporan baru dari organisasi nirlaba Ceres.
Organisasi itu juga menyebut jika tidak ada perubahan dalam cara berbisnis saat ini, kerusakan layanan ekosistem dapat mengakibatkan kerugian kumulatif sebesar 2,15 triliun dolar AS selama lima tahun ke depan.
Layanan ekosistem yang dianalisis meliputi retensi tanah, pola curah hujan, dan penyerbukan.
Melansir Edie, Rabu (10/9/2025), untuk mencapai kesimpulan, Ceres menggunakan pemodelan untuk menghubungkan lima pemicu utama rusaknya alam yaitu perubahan tata guna lahan, perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, polusi, dan spesies invasif, dengan penurunan spesifik dalam layanan ekosistem.
Layanan-layanan ini kemudian dihitung dalam bentuk moneter dengan menilai biaya dari fungsi-fungsi yang hilang, seperti pengaturan iklim, retensi tanah, serta pengendalian hama dan penyakit.
Baca juga: Akademisi UI: Giant Sea Wall Bakal Ubah Ekosistem Pesisir Pantura
Pemodelan ini memungkinkan organisasi tersebut untuk memperkirakan kerugian tahunan langsung yang dihadapi oleh setiap sektor di bawah skenario bisnis yang berjalan seperti biasa.
Sektor produksi makanan diproyeksikan akan menanggung beban terberat, dengan perkiraan kerugian sebesar 253 miliar dolar AS per tahun.
Sektor ini sangat rentan terhadap hilangnya layanan-layanan seperti penyediaan biomassa, pengaturan curah hujan, dan penyerbukan.
Khusus penyerbukan, fungsinya menopang nilai ekonomi hampir 25 miliar dolar AS per tahun, namun semakin terancam oleh perubahan tata guna lahan, perubahan iklim, dan polusi.
Tujuh sektor lain yang dinilai juga menghadapi kerugian substansial.
Di antaranya adalah ritel barang konsumsi berpotensi kehilangan 69 miliar dolar AS per tahun, ritel makanan dan minuman serta restoran 54,2 miliar dolar AS, kehutanan dan produk kertas 42 miliar dolar AS, bahan kimia 10 miliar dolar AS, barang rumah tangga dan pribadi 3,8 miliar dolar AS, logam dan pertambangan 2,7 miliar dolar AS serta bioteknologi dan farmasi 786 juta dolar AS.
Ceres mencatat bahwa angka-angka tersebut bersifat konservatif karena hanya mencakup risiko operasional langsung dan tidak menyertakan sebagian besar dampak pada rantai pasokan, yang bisa membuat biaya sebenarnya jauh lebih tinggi.
Meskipun risiko finansial semakin meningkat, Ceres menemukan bahwa sebagian besar perusahaan masih berada di tahap awal dalam mengembangkan strategi untuk mengatasi kerusakan alam.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya