Namun, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan yang berinvestasi lebih awal dalam adaptasi kesehatan terkait iklim bisa mendapatkan manfaat lebih dari sekadar mitigasi risiko.
Dengan begitu, mereka dapat membuka peluang baru untuk inovasi dan pertumbuhan, sambil memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang. Setiap sektor memiliki posisi unik untuk mengembangkan dan meningkatkan skala solusi untuk tantangan kesehatan akibat iklim.
Baca juga: Perubahan Iklim, Makluk Laut yang Tak Kasat Mata Pun Terancam
Lebih lanjut, berbagai inovasi pun sudah bermunculan, seperti tanaman pangan yang berketahanan iklim untuk melindungi sistem pangan, obat-obatan yang stabil di suhu tinggi, teknologi pendingin untuk menjamin keselamatan pekerja bangunan, dan model asuransi baru yang melindungi masyarakat dari dampak kesehatan iklim.
"Momentum untuk adaptasi kesehatan memang sedang meningkat, namun pendanaan dan implementasinya masih jauh dari yang dibutuhkan," tambah Elia Tziambazis, Managing Director dan Partner di BCG.
"Tantangan sekarang adalah meningkatkan skala solusi yang sudah terbukti dengan cukup cepat agar bisa mengimbangi laju perubahan iklim. Selain itu, juga harus memitigasi dampaknya pada angkatan kerja, dan berinvestasi pada inovasi yang akan menentukan layanan dan produk ketahanan generasi berikutnya," paparnya.
Laporan ini juga menunjukkan bahwa pergeseran global menuju ketahanan kesehatan harus didukung oleh kebijakan yang suportif, sistem data kesehatan dan iklim yang saling terhubung, serta pendanaan yang inovatif untuk memobilisasi modal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya