Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Desa Sekadau Berjuang Punya WC, dari Arisan hingga Sumbang Tenaga

Kompas.com, 29 September 2025, 17:02 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KALIMANTAN BARAT, KOMPAS.com – Minggu lalu, saya menempuh perjalanan darat selama enam jam dari Pontianak menuju Sekadau, Kalimantan Barat.

Dari pusat Kabupaten Sekadau, perjalanan bersama rombongan Media Trip Wahana Visi Indonesia (WVI) masih berlanjut sekitar dua jam menuju salah satu desa yang letaknya tak jauh dari objek wisata Batu Jato.

Jalan yang berliku dan tidak mulus membuat perut terasa terkocok. Sementara di kiri-kanan jalan terhampar ratusan pohon kelapa sawit bercampur dengan jenis pohon lainnya.

Sesampainya di lokasi, sebuah kantor desa sederhana tampak menghadap ke arah pegunungan. Dari sinilah cerita dimulai, tentang sebuah desa yang bergotong-royong membangun toilet untuk setiap rumah warganya.

“Satu Rumah Satu WC”

Kepala Desa Anto mengenang, selama puluhan tahun warga masih buang air besar, mencuci, hingga mandi di sungai. Kondisi ini kerap memicu penyakit menular, salah satunya muntah-berak (muntaber). Dari situlah, gagasan pembangunan satu rumah satu WC mulai digelorakan.

"Saya berpikir bagaimana saya bisa membantu masyarakat memiliki jamban sehat. Menurut data kami pada 2012–2013, dari 530-an KK yang punya WC baru 40 KK, sehingga periode kepemimpinan saya selanjutnya saya menggalakkan (pembangunan) WC," ujar Anto saat ditemui di kantornya, Kamis (25/9/2025).

Ia menambahkan, “Daerah-daerah yang memang rentan, yang banyak dikunjungi, itu yang kami bantu dari APBD Desa.”

Namun, karena keterbatasan anggaran, pembangunan akhirnya dilakukan secara swadaya lewta program yang disebut Arisan WC.

Anto menyebut, dalam inisiatif itu, setiap warga dalam satu RT diwajibkan menyumbang dana sesuai kebutuhan sekaligus bergotong royong dalam pembangunannya.

"Sulit memang, ibarat pribahasa menarik kambing ke sungai, itulah istilahnya. Jadi, susah sekali mengajak masyarakat, mulai dari yang awam sampai yang berpikiran maju juga kami punya tantangan," tuturnya.

Baca juga: Cerita Sekadau Turunkan Stunting lewat Program Stop BAB di Sungai

Agar program berjalan, pemerintah desa menggandeng kepolisian, pihak kecamatan, hingga WVI. Kelompok-kelompok warga dibentuk untuk mendorong tercapainya desa Open Defecation Free (ODF), atau Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Kepala Desa di Kabupaten Sekadau, Anto, menjelaskan soal program ODF, Kamis (25/9/2025). KOMPAS.com/ZINTAN Kepala Desa di Kabupaten Sekadau, Anto, menjelaskan soal program ODF, Kamis (25/9/2025).

"Kami memainkan isu, bahwa nanti kalau tidak punya WC begini, akhirnya mereka ada kesadaran tersendiri. Selain itu juga ada sedikit mengancam, bagi warga yang tidak bikin WC nanti perlakuannya akan kami tindak tegas sedikit," papar Anto.

Perlahan, hasilnya tampak. Dalam sepekan, hingga 20 toilet baru bisa dibangun. Pada 2023, status ODF berhasil diraih di tingkat kecamatan. Lalu pada 7 Agustus 2025, giliran Kabupaten Sekadau mendeklarasikan diri sebagai wilayah ODF.

Pelatihan Membuat WC

Manager Cluster Hulu Kapuas WVI, Margaretta Siregar, menambahkan bahwa sejak 2012 pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) mendorong warga membangun WC secara swadaya. Meski awalnya sederhana, pada 2015 Pemerintah Kabupaten Sekadau mulai mengalokasikan anggaran sehingga fasilitas sanitasi menjadi lebih layak.

Dalam prosesnya, warga yang sudah berubah perilakunya dilatih menjadi fasilitator STBM. Mereka menggerakkan masyarakat lewat metode pemicuan, yakni menumbuhkan rasa malu atau takut agar warga lain mau meninggalkan kebiasaan BABS.

"Jadi pada saat pemicuan, siapa yang terpicu, mereka mau mengubah perilaku, mereka komitmen untuk gotong royong, biasanya per minggu, minimal gali lubang untuk septic tank-nya," jelas Margaretta.

Selain itu, warga juga diajari membuat kloset sederhana. Hanya dengan satu sak semen seharga Rp 90.000, mereka bisa mencetak 4–5 unit kloset, sehingga biaya pembangunan lebih hemat.

"Tetapi mereka yang gotong-royong. Jadi Wahana Visi lebih kepada memberikan pelatihannya," tutur Margaretta.

Baca juga: 42 KabupatenKota Sabet Penghargaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
7 Resolusi Tahun Baru 2026 agar Hidup Lebih Ramah Lingkungan
7 Resolusi Tahun Baru 2026 agar Hidup Lebih Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Residu Sulit Diolah di Indonesia, Ada Tisu Bekas hingga Puntung Rokok
Limbah Residu Sulit Diolah di Indonesia, Ada Tisu Bekas hingga Puntung Rokok
Pemerintah
Potensi Tsunami Danau Maninjau, BMKG Jelaskan Peran Segmen Kajai-Talamau
Potensi Tsunami Danau Maninjau, BMKG Jelaskan Peran Segmen Kajai-Talamau
Pemerintah
Hujan Lebat Diprediksi Terjadi Awal Tahun 2026, BMKG Rilis Daftar Daerah Terdampak
Hujan Lebat Diprediksi Terjadi Awal Tahun 2026, BMKG Rilis Daftar Daerah Terdampak
Pemerintah
Dari Tanah “Sakit” ke Lumbung Harapan, Ini Kisah Pengawalan Pertanian Jaga Ketahanan Pangan Desa
Dari Tanah “Sakit” ke Lumbung Harapan, Ini Kisah Pengawalan Pertanian Jaga Ketahanan Pangan Desa
BUMN
Kebijakan Pelarangan Sawit di Jabar Disebut Tak Berdasar Bukti Ilmiah
Kebijakan Pelarangan Sawit di Jabar Disebut Tak Berdasar Bukti Ilmiah
LSM/Figur
Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional 'Waste to Energy' Membengkak
Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional "Waste to Energy" Membengkak
LSM/Figur
Biaya Kelola Limbah Setara Beli Popok Baru, Padahal Fibernya Punya Banyak Potensi
Biaya Kelola Limbah Setara Beli Popok Baru, Padahal Fibernya Punya Banyak Potensi
LSM/Figur
Inovasi Jaring Bertenaga Surya, Kurangi Penyu yang Terjaring Tak Sengaja
Inovasi Jaring Bertenaga Surya, Kurangi Penyu yang Terjaring Tak Sengaja
Pemerintah
Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Pemerintah
 RI Belum Maksimalkan  Pemanfaatan Potensi Laut untuk Atasi Stunting
RI Belum Maksimalkan Pemanfaatan Potensi Laut untuk Atasi Stunting
LSM/Figur
Langkah Membumi Ecoground 2025, Gaya Hidup Sadar Lingkungan Bisa Dimulai dari Ruang Publik
Langkah Membumi Ecoground 2025, Gaya Hidup Sadar Lingkungan Bisa Dimulai dari Ruang Publik
Swasta
Target Swasembada Garam 2027, KKP Tetap Impor jika Produksi Tak Cukup
Target Swasembada Garam 2027, KKP Tetap Impor jika Produksi Tak Cukup
Pemerintah
Kebijakan Mitigasi Iklim di Indonesia DInilai Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput
Kebijakan Mitigasi Iklim di Indonesia DInilai Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput
LSM/Figur
KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau