KALIMANTAN BARAT, KOMPAS.com – Minggu lalu, saya menempuh perjalanan darat selama enam jam dari Pontianak menuju Sekadau, Kalimantan Barat.
Dari pusat Kabupaten Sekadau, perjalanan bersama rombongan Media Trip Wahana Visi Indonesia (WVI) masih berlanjut sekitar dua jam menuju salah satu desa yang letaknya tak jauh dari objek wisata Batu Jato.
Jalan yang berliku dan tidak mulus membuat perut terasa terkocok. Sementara di kiri-kanan jalan terhampar ratusan pohon kelapa sawit bercampur dengan jenis pohon lainnya.
Sesampainya di lokasi, sebuah kantor desa sederhana tampak menghadap ke arah pegunungan. Dari sinilah cerita dimulai, tentang sebuah desa yang bergotong-royong membangun toilet untuk setiap rumah warganya.
Kepala Desa Anto mengenang, selama puluhan tahun warga masih buang air besar, mencuci, hingga mandi di sungai. Kondisi ini kerap memicu penyakit menular, salah satunya muntah-berak (muntaber). Dari situlah, gagasan pembangunan satu rumah satu WC mulai digelorakan.
"Saya berpikir bagaimana saya bisa membantu masyarakat memiliki jamban sehat. Menurut data kami pada 2012–2013, dari 530-an KK yang punya WC baru 40 KK, sehingga periode kepemimpinan saya selanjutnya saya menggalakkan (pembangunan) WC," ujar Anto saat ditemui di kantornya, Kamis (25/9/2025).
Ia menambahkan, “Daerah-daerah yang memang rentan, yang banyak dikunjungi, itu yang kami bantu dari APBD Desa.”
Namun, karena keterbatasan anggaran, pembangunan akhirnya dilakukan secara swadaya lewta program yang disebut Arisan WC.
Anto menyebut, dalam inisiatif itu, setiap warga dalam satu RT diwajibkan menyumbang dana sesuai kebutuhan sekaligus bergotong royong dalam pembangunannya.
"Sulit memang, ibarat pribahasa menarik kambing ke sungai, itulah istilahnya. Jadi, susah sekali mengajak masyarakat, mulai dari yang awam sampai yang berpikiran maju juga kami punya tantangan," tuturnya.
Baca juga: Cerita Sekadau Turunkan Stunting lewat Program Stop BAB di Sungai
Agar program berjalan, pemerintah desa menggandeng kepolisian, pihak kecamatan, hingga WVI. Kelompok-kelompok warga dibentuk untuk mendorong tercapainya desa Open Defecation Free (ODF), atau Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
Kepala Desa di Kabupaten Sekadau, Anto, menjelaskan soal program ODF, Kamis (25/9/2025). "Kami memainkan isu, bahwa nanti kalau tidak punya WC begini, akhirnya mereka ada kesadaran tersendiri. Selain itu juga ada sedikit mengancam, bagi warga yang tidak bikin WC nanti perlakuannya akan kami tindak tegas sedikit," papar Anto.
Perlahan, hasilnya tampak. Dalam sepekan, hingga 20 toilet baru bisa dibangun. Pada 2023, status ODF berhasil diraih di tingkat kecamatan. Lalu pada 7 Agustus 2025, giliran Kabupaten Sekadau mendeklarasikan diri sebagai wilayah ODF.
Manager Cluster Hulu Kapuas WVI, Margaretta Siregar, menambahkan bahwa sejak 2012 pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) mendorong warga membangun WC secara swadaya. Meski awalnya sederhana, pada 2015 Pemerintah Kabupaten Sekadau mulai mengalokasikan anggaran sehingga fasilitas sanitasi menjadi lebih layak.
Dalam prosesnya, warga yang sudah berubah perilakunya dilatih menjadi fasilitator STBM. Mereka menggerakkan masyarakat lewat metode pemicuan, yakni menumbuhkan rasa malu atau takut agar warga lain mau meninggalkan kebiasaan BABS.
"Jadi pada saat pemicuan, siapa yang terpicu, mereka mau mengubah perilaku, mereka komitmen untuk gotong royong, biasanya per minggu, minimal gali lubang untuk septic tank-nya," jelas Margaretta.
Selain itu, warga juga diajari membuat kloset sederhana. Hanya dengan satu sak semen seharga Rp 90.000, mereka bisa mencetak 4–5 unit kloset, sehingga biaya pembangunan lebih hemat.
"Tetapi mereka yang gotong-royong. Jadi Wahana Visi lebih kepada memberikan pelatihannya," tutur Margaretta.
Baca juga: 42 KabupatenKota Sabet Penghargaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya