Skenario tertinggi memproyeksikan kegagalan industri dalam mencapai target emisi nol bersih, di mana hanya 40 persen emisi yang berhasil dikurangi.
Situasi ini menciptakan defisit besar yang harus diatasi oleh teknologi carbon removal, sehingga mengharuskan penghilangan karbon hingga 22 gigaton CO2 per tahun pada 2050 dan tahun-tahun berikutnya.
Jumlah investasi yang diperlukan tersebut yaitu setara dengan 1 persen hingga 6 persen dari PDB global saat ini yang bernilai 100 triliun dolar AS, yang digambarkan sebagai angka yang substansial tetapi masih bisa dilakukan.
Pasalnya, biaya ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kerugian potensial yang diprediksi mencapai 20 persen dari PDB global akibat dampak perubahan iklim jika tidak ada tindakan pencegahan yang diambil.
Lebih lanjut, biaya rata-rata untuk menghilangkan karbon diperkirakan akan mencapai 160 dolar AS per ton pada tahun 2050.
Baca juga: Pertama Kali, China Kenalkan Kapal Minyak dengan Penangkap Karbon
Dengan biaya tersebut, biochar, BECCS, pelapukan batuan buatan, dan penyimpanan biomassa diperkirakan akan menyumbang hampir 50 persen dari total kebutuhan penghilangan karbon.
Laporan ini juga menyoroti bahwa semua jalur utama penghilangan karbon memiliki potensi signifikan untuk ditingkatkan skalanya.
Misalnya saja, Penangkapan Karbon Langsung dari Udara (Direct Air Capture) berpotensi menangkap hingga 40 gigaton per tahun, tetapi akan memerlukan porsi investasi terbesar, sekitar 37 persen.
Bioenergi dengan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (BECCS) memiliki potensi sekitar 11 gigaton per tahun dan menawarkan manfaat sampingan berupa energi.
Sementara itu, peningkatan alkalinitas laut memiliki rentang teoritis terbesar, diperkirakan antara 1 hingga 100 gigaton per tahun.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya