Kini, kawasan tersebut telah menjadi wajah baru Pulau Obi dengan 259 unit rumah layak huni, akses listrik dan air bersih 24 jam, sekolah, layanan kesehatan gratis, serta pusat ekonomi terpadu yang menjadi sumber kehidupan baru bagi masyarakat setempat.
Baca juga: Demi Tembus Pasar AS dan Eropa, Harita Nickel (NCKL) Jalani Audit Terketat di Dunia
Salah satu perempuan pelaku UMKM di Desa Kawasi, Suryani Joronga, menjadi saksi perubahan tersebut. Ia mengaku kehidupan ekonomi masyarakat kini jauh lebih baik dibandingkan sebelum industri nikel berkembang.
“Perekonomian kami meningkat pesat, terutama dari sisi pemberdayaan ibu-ibu. Dulu kami belum berdaya. Setelah ada program binaan UMKM, kami merasakan dampak besar bagi kesejahteraan dan pola pikir,” ujarnya lewat jawaban tertulis kepada Kompas.com, Senin (20/10/2025).
Suryani kini mengelola usaha makanan olahan bersama sejumlah ibu di desanya. Mereka mendapatkan pelatihan pengemasan, pengawetan, dan pemasaran produk. Selain itu, perusahaan juga membantu membuka akses pasar bagi produk-produk lokal, termasuk dari tangan Suryani.
Ia mengenang masa ketika listrik terbatas dan air bersih sulit diakses. Kini, warga menikmati fasilitas dasar yang lebih baik, seperti jaringan listrik, air bersih, dan internet, serta disertai peluang ekonomi baru di sekitar kawasan industri.
Baca juga: Strategi Harita Nickel (NCKL) Genjot Laba dan Pendapatan di Tengah Penurunan Harga Nikel
“Kalau dulu ekonomi kami berjalan tersendat, kini hasilnya benar-benar terasa,” katanya.
Menurut Suryani, pembangunan permukiman baru Desa Kawasi mengubah wajah kampung mereka. Jalan desa lebih lebar dan bersih, got tertata, dan rumah-rumah kini memiliki lantai tegel serta fasilitas sanitasi yang layak.
“Perkembangannya luar biasa. Saya lahir dan besar di Kawasi, jadi tahu betul bagaimana dulu Pulau Obi sangat terpinggirkan,” ujarnya.
Transformasi Pulau Obi tidak hanya terlihat pada infrastruktur dan ekonomi lokal, tetapi juga di bidang ketenagakerjaan. Banyak warga Maluku Utara kini memiliki kesempatan meniti karier di industri strategis.
Salah satunya adalah Rudi Sapsuha yang bekerja di divisi Fire Emergency Service (FAS) sejak 2022. Baginya, bekerja di industri nikel menjadi titik balik dalam hidup.
“Perubahan terbesar tentu soal kepastian dan rasa aman. Keluarga jadi lebih tenang karena saya punya pekerjaan tetap,” tuturnya.
Ia menyebut perusahaan menyediakan berbagai pelatihan dan sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja, termasuk pelatihan keselamatan bersama Basarnas.
“Saya sudah ikut pelatihan pemadam kebakaran, Water Rescue bersama Basarnas di Ternate, hingga sertifikasi yang mendukung tugas di lapangan. Semua itu membuat saya lebih percaya diri dan siap menghadapi situasi darurat,” kata Rudi.
Baca juga: Komitmen Keberlanjutan, Harita Nickel Bakal Diaudit IRMA
Menurutnya, industri yang tumbuh di Pulau Obi memberi ruang besar bagi tenaga kerja lokal untuk berkembang, tidak hanya di lapangan, tetapi juga di jenjang strategis.
“Sekarang, tinggal bagaimana kita sendiri, apakah mau belajar dan berkembang, atau berpuas diri di kondisi yang ada,” ujarnya.
Rudi melanjutkan, kemajuan industri di Pulau Obi menjadi contoh bahwa kegiatan ekstraksi dan pemurnian logam kritis dapat menggerakkan ekonomi daerah dan sekaligus membuka ruang sosial baru.
Ia berharap, pembangunan di Pulau Obi terus berjalan seiring upaya menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
“Saya melihat kemajuan perusahaan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai warga Maluku Utara, saya tertantang untuk terus belajar agar selalu relevan dengan perkembangan industri ini,” ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya