Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perlu 1 Miliar Hektar untuk Penuhi Janji Iklim

Kompas.com, 17 November 2025, 18:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Analisis baru yang dirilis pada Konferensi Para Pihak ke-30 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP30) di Brasil pada 12 November 2025 mengungkapkan perlu lahan yang sangat besar untuk mencapai target iklim global.

Analisis baru tersebut menyebut negara-negara akan membutuhkan lebih dari satu miliar hektar lahan untuk bisa mewujudkan penghilangan karbon seperti yang dijanjikan.

Para penulis laporan pun memperingatkan bahwa ketergantungan pada proyek-proyek penyerapan karbon berbasis lahan yang luas ini berisiko menggusur masyarakat, merusak ketahanan pangan, dan menunda pengurangan emisi riil karena mengabaikan perlindungan hutan.

The Land Gap 2025 Report yang dipimpin oleh Universitas Melbourne tersebut menunjukkan bahwa alih-alih memprioritaskan perlindungan dan restorasi hutan yang ada, pemerintah justru mengandalkan skema penanaman pohon, bioenergi, dan penangkapan karbon yang tidak realistis untuk mencapai target Net Zero.

Baca juga: Hadapi Triple Planetary Crisis, Uni Eropa Gandeng ASEAN Lestarikan Hutan Mangrove

"Negara-negara mengabaikan perlindungan hutan sebagai pilar utama tujuan iklim mereka," kata Kate Dooley, penulis utama laporan tersebut.

"Beban utang yang besar serta sistem perdagangan dan perpajakan memaksa banyak negara untuk mengeksploitasi hutan hanya agar tetap bertahan. Padahal, hutan yang sehat adalah fondasi sesungguhnya dari ekonomi yang sehat," katanya lagi dikutip dari Down to Earth, Kamis (13/11/2025).

Laporan tersebut kemudian mengidentifikasi dua kesenjangan yang semakin lebar yakni "kesenjangan lahan", area luas yang dibutuhkan untuk penghilangan karbon dan apa yang secara realistis tersedia serta "kesenjangan hutan" yaitu jarak antara komitmen global untuk mengakhiri deforestasi pada tahun 2030 dan kemungkinan hasil dari kebijakan saat ini.

Bahkan di bawah janji yang ada, kerugian tahunan dapat mencapai empat juta hektar hutan pada tahun 2030, dengan 16 juta hektar lainnya terdegradasi.

Selain pendanaan yang tidak memadai, studi tersebut menyalahkan struktur ekonomi global sebagai pendorong hilangnya hutan.

Studi itu menunjuk pada tekanan utang negara, penghindaran pajak, dan aturan perdagangan yang mendorong pertanian dan penebangan skala besar.

"Ancaman terbesar bagi hutan bukanlah kurangnya pendanaan hijau melainkan sistem ekonomi global yang menghargai eksploitasi," kata Rebecca Ray dari Global Development Policy Center di Boston University.

Baca juga: TFFF Resmi Diluncurkan di COP30, Bisakah Lindungi Hutan Tropis Dunia?

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, para penulis mengusulkan reformasi yang menghubungkan ketahanan ekonomi dengan ketahanan ekosistem.

Termasuk di antaranya adalah pengurangan utang untuk memberi negara-negara berkembang ruang fiskal untuk beralih dari deforestasi yang didorong oleh komoditas dan reformasi perpajakan untuk mengekang aliran keuangan gelap dan memperkuat pendapatan publik untuk pembangunan berkelanjutan.

Selain itu juga revisi aturan perdagangan untuk memprioritaskan sistem pangan berkelanjutan dan mata pencaharian petani kecil.

Laporan pun menyimpulkan bahwa jalan menuju Net Zero tidak dapat dipenuhi dengan target lahan yang tidak realistis.

"Hutan adalah infrastruktur garda terdepan untuk planet yang layak huni," tambah Dooley.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Pemerintah
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
LSM/Figur
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Pemerintah
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
LSM/Figur
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau