Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tantangan Menggeser Paradigma Bisnis Sawit dari Produktivitas ke Keberlanjutan

Kompas.com, 18 November 2025, 19:32 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

DENPASAR, KOMPAS.com - Eksploitasi hutan berskala besarpernah terjadi di Indonesia ketika Indonesia menjadi eksportir kayu mentah terbesar di dunia pada 1980.

Menurut Frederic Durand dalam Hutan dan Lingkungan Hidup di Indonesia, Menuju Kesadaran Atas Batas-batas Eksploitasi di buku 'Revolusi Tak Kunjung Selesai; Potret Indonesia Kini', rezim Orde Baru tidak menyampaikan tingkat deforestasi yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu dalam artikel Is It True that Oil Palm Plantations are the Main Driver of Indonesia's Tropical Forest Deforestation?, Yanto Santosa dkk (2020) menyebut, perkebunan sawit mengonversi lahan transmigrasi, agroferostry karet, semak belukar, sampai bekas hak guna usaha (HGU) dan hak penguasaan hutan (HPH) perusahaan lain.

Baca juga: Masa Depan Keberlanjutan Sawit RI di Tengah Regulasi Anti Deforestasi UE dan Tekanan dari AS

Paradigma bisnis perkebunan sawit pada akhir masa Orde Baru juga berorientasi ekploitasi demi meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Namun, apakah saat ini industri perkebunan sawit masih menerapkan paradigma meraup untung yang sebesar-besarnya?

"Kalau dulu, dari 1996 sampai tahun 2000-an itu memang berorientasi pada keuntungan saja. Bagaimana lahan itu dikeruk semaksimal mungkin untuk bisa menghasilkan produktivitas yang tinggi. Hasilnya, rendemennya bagus, tata kelolanya jarang memperhatikan dampak lingkungan," ujar Direktur Utama Enerplant Plantation & Consultant, Muklis Badawi di Bali, Kamis (13/11/2025).

Tekanan dari NGO, kata Muklis, menguatkan kesadaran atas pentingnya keberlanjutan (sustainability) dalam pengelolaan perkebunan sawit.

Apalagi, pengelolaan perkebunan sawit secara berkelanjutan ternyata juga turut meningkatkan produktivitas.

Namun, sebenarnya pergeseran paradigma bisnis perkebunan sawit dari berorientasi produktivitas menuju keberlanjutan, sudah muncul sejak adanya sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Tanpa sertifikasi RSPO, kata dia, minyak sawit sulit dijual dengan harga premium.

Kunci keberlanjutan sawit: dari pimpinan perusahaan

Menurut Muklis, inisiatif keberlanjutan perlu dimulai dari 'puncak' kepemimpinan dalam perusahaan perkebunan sawit.

Meski terdengar menjanjikan, jika inisiatif keberlanjutan berasal dari pegawai perkebunan sawit level menajer ke bawah berpotensi, maka yang bersangkutan tetap berisiko dipecat.

"Inisiatif keberlanjutan tidak bisa dijalankan di level medium seperti manajer ke bawah. Ini enggak bisa tanpa manajemen puncak. Kalau enggak ada instruksi, (level manajer ke bawah) enggak melakukannya karena itu berat juga," tutur pria yang telah merintis karir di berbagai perusahaan perkebunan sawit sejak 1996 ini.

Direktur Utama Enerplant Plantation & Consultant, Muklis Badawi menjelaskan perusahaan perkebunan sawit berkelanjutan di sela-sela acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (13/11/2025).Kompas.com/Manda Firmansyah Direktur Utama Enerplant Plantation & Consultant, Muklis Badawi menjelaskan perusahaan perkebunan sawit berkelanjutan di sela-sela acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (13/11/2025).

Ia menganggap konsistensi sebagai tantangan terberat dalam memberlakukan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam perkebunan sawit.

Konsistensi tersebut harus terwujud dalam manajemen pada level puncak, serta di tingkat manajer dan operasional.

Yang tersulit justru memastikan pegawai-pegawai perkebunan sawit di tingkat paling bawah bekerja dengan tetap mengikuti prinsip-prinsip keberlanjutan. Hal ini mengingat perkebunan sawit umumnya sangat luas, yang bahkan bisa mencapai 100.000 hektar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Pemerintah
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Pemerintah
 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Pemerintah
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
Pemerintah
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Pemerintah
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
LSM/Figur
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau