Berkaca dari pengalaman memimpin operasional perkebunan sawit berskala besar, Muklis menyatakan bahwa komitmen berkelanjutan dan pencapaian target profitabilitas dapat berjalan beriringan.
Di sisi lain, perluasan maupun pengadaan lahan untuk perkebunan sawit di Indonesia semakin susah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan.
Izin baru untuk perluasan lahan perkebunan sawit sulit dikeluarkan pemerintah sejak moratorium berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2018.
Opsi untuk peningkatan pendapatan dari perkebunan sawit hanya melalui strategi intensifikasi atau memperluas lahan dengan kerja sama operasional (KSO) dengan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero).
Intensifikasi menjadi salah satu strategi untuk menyeimbangkan antara profitabilitas dan komitmen perkebunan sawit berkelanjutan.
Strategi intensifikasi dapat meningkatkan pendapatan perkebunan sawit dengan mengoptimalkan produktivitas lahan yang tersedia tanpa memperluas area tanam.
Kunci keberhasilan strategi intensifikasi lahan perkebunan sawit terletak pada pemanfaatan teknologi dan inovasi.
Baca juga: DIgitalisasi Bisa Bantu Petani Sawit Indonesia Hadapi Aturan Ketertelusuran
"Intensifikasi dilakukan dengan memasukkan inovasi-inovasi baru, teknologi berkebun yang lebih baru, yang bahkan dimulai dari memilih bibit yang bagus dan melakukan pembibitan yang benar. Karena kalau salah memilih bibit (bisa) 25 tahun kita rugi," ucapnya.
Salah satu isu yang juga mencuat dalam industri sawit adalah pemanfaatan pupuk. Banyak pihak yang mempertanyakan komitmen industri sawit untuk menggunakan pupuk organik.
Menjawab hal itu, Muklis menyatakan selama masa pembibitan (umur 1-12 bulan), tanaman kelapa sawit biasanya masih tumbuh dengan pupuk organik. Namun setelahnya, pertumbuhan tanaman kelapa sawit harus dipicu memakai pupuk anorganik atau kimia.
"Kalau perusahaan tentu condong ke bisnis. Namun berbicara keseimbangan ekosistem lingkungan, perusahaan akan selalu mengacu pada hasil laboratorium," ujar Muklis.
Kalau perusahaan perkebunan sawit dipaksa menggunakan pupuk organik secara penuh, kata dia, keberlanjutan bisnis justru bisa terancam.
Padahal, tujuan perkebunan sawit berkelanjutan untuk mencapai keseimbangan antara aspek lingkungan, bisnis, ekonomi, dan sosial.
Baca juga: Fragmentasi Regulasi Hambat Keberlanjutan Industri Sawit RI
Pergeseran dari pupuk kimia ke organik harus dilakukan secara perlahan-lahan. "Itu pun bukan hal yang gampang,".
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya