Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WEF: Transisi Hijau Ciptakan 9,6 Juta Lapangan Kerja Baru pada 2030

Kompas.com, 18 November 2025, 20:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan baru yang dirilis oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF), bekerja sama dengan McKinsey and Company dan Laudes Foundation menemukan bahwa transisi hijau global diperkirakan akan menghasilkan 9,6 juta lapangan kerja pada tahun 2030.

Studi juga memperkirakan bahwa 14,4 juta posisi di seluruh dunia akan terdampak seiring peralihan ekonomi menuju energi yang lebih bersih.

Namun, lima lapangan kerja baru akan tercipta untuk setiap satu lapangan kerja yang dihapuskan, menghadirkan banyak peluang untuk transisi yang inklusif.

Kendati demikian, studi memperingatkan potensi transisi hijau terancam oleh kenaikan biaya, akses keuangan yang tidak merata, dan kesenjangan teknologi yang semakin lebar menciptakan tekanan pada bisnis dan konsumen.

Melansir Edie, Senin (17/11/2025) hampir 37 persen perusahaan di seluruh dunia melaporkan biaya energi dan komoditas yang lebih tinggi.

Angka ini meningkat menjadi 47 persen di negara-negara berpenghasilan rendah. Sekitar 51 persen perusahaan di seluruh dunia mengatakan bahwa kenaikan ini berisiko dibebankan kepada konsumen.

Baca juga: Kemenaker: Ekonomi Hijau Bisa Ciptakan Lapangan Kerja Baru

Selain itu, satu dari tiga bisnis secara global menyatakan kekhawatiran tentang perpindahan pekerjaan di setidaknya satu industri utama.

Akan tetapi kekhawatiran bisa diredam jika ada sistem perlindungan sosial yang kuat. Laporan tersebut mencatat bahwa sistem perlindungan sosial yang lebih kuat dikaitkan dengan tingkat kekhawatiran yang lebih rendah mengenai dampak pada pekerja dan konsumen.

“Dalam konteks sosial dan geoekonomi yang berkembang pesat, bisnis yang ingin bertransisi dengan sukses harus secara eksplisit mempertimbangkan dampak rencana iklim mereka terhadap masyarakat,” ungkap Kepala Transisi yang Berkeadilan WEF, Harsh Vijay Singh.

Studi tersebut menyoroti bahwa, agar transisi hijau dapat berjalan baik bagi masyarakat di berbagai negara dan tingkat pendapatan, pembuat kebijakan perlu meninggalkan klasifikasi negara yang kuno seperti negara maju dan negara berkembang.

Sebaliknya, mereka harus menggunakan model klasifikasi baru yang lebih rinci untuk merancang solusi spesifik dan efektif untuk tantangan sosial ekonomi setiap negara.

Studi ini kemudian mengidentifikasi enam arketipe negara, sebuah kategori atau model baru untuk mengklasifikasikan negara yang lebih relevan untuk merancang kebijakan transisi hijau yang tepat sasaran.

Arketipe 'pengadopsi hijau inklusif' (inclusive green adopters) seperti Australia, Prancis, dan Inggris memiliki sektor jasa dan akses pendanaan yang kuat, tetapi menghadapi biaya regulasi dan energi yang lebih tinggi.

Baca juga: Penetrasi Kendaraan Listrik Bisa Hadirkan 1,7 Juta Lapangan Kerja

Arketipe 'pengembang hijau' (Green developers) termasuk China, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan AS unggul dalam teknologi hijau, namun menghadapi akses yang tidak merata terhadap material kritis.

Arketipe 'pengadopsi hijau yang muncul' (Emerging green adopters) seperti Italia dan Turki menunjukkan tingkat pesimisme yang lebih tinggi mengenai dampak ekonomi.

Arketipe 'ekonomi pertumbuhan' (Growth economies) termasuk Brasil, India, Meksiko, dan Afrika Selatan menghadapi kendala pendanaan dan ekosistem teknologi yang baru muncul.

Arketipe 'ekonomi perbatasan' (Frontier economies) termasuk Bangladesh, Nigeria, dan Pakistan menghadapi tantangan akut terkait pendanaan, keterampilan, dan keterjangkauan, dan diperkirakan akan memerlukan dukungan internasional.

“Aksi iklim yang efektif bergantung pada pemahaman realitas sosial-ekonomi yang unik dari setiap negara dan komunitas lokal. Dengan memanfaatkan data baru dan panduan praktis, kita dapat menyesuaikan strategi iklim untuk memastikan transisi hijau bermanfaat bagi masyarakat dan perekonomian,” tambah Kepala Pertumbuhan dan Transformasi Ekonomi WEF Attilio Di Battista.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau