KOMPAS.com - Inisiatif dan komitmen untuk mengurangi metana, seperti yang dilakukan untuk CO2, belum membuahkan hasil yang signifikan karena emisi kedua gas tersebut masih belum terkendali.
Kendati demikian, PBB optimis bahwa tindakan yang lebih fokus dalam lima tahun ke depan dapat mengurangi emisi metana yang signifikan.
Martina Otto, kepala komisi iklim dan udara bersih PBB untuk polusi metana mengungkapkan pengurangan metana adalah salah satu cara tercepat dan paling efektif yang dimiliki dunia untuk memperlambat pemanasan global dalam jangka pendek.
Metana dari bahan bakar fosil memerangkap hampir 30 kali lebih banyak panas daripada karbon dioksida yang lebih umum, tetapi metana tidak bertahan lama di udara.
Baca juga: Emisi Metana: Yang Penting Bukan Datanya, Tapi Menghentikannya
Itu mengapa, tindakan cepat untuk memotong metana dapat memiliki efek besar dalam mengendalikan pemanasan.
Jika negara-negara menepati janji dalam rencana memerangi iklim mereka, emisi metana global pada 2030 akan mengalami penurunan hingga 8 persen. Namun tanpa upaya sama sekali, emisi metana diperkirakan akan benar-benar naik sebesar 13 persen.
Namun itu belum cukup. Target janji metana global PBB tahun 2021 adalah pengurangan sebesar 30 persen.
"Kita masih bisa mencapainya, tetapi membutuhkan upaya tambahan yang jauh lebih besar," kata Otto dikutip dari Phys, Selasa (18/11/2025).
Berbeda dengan harapan PBB. Pakar eksternal Bill Hare, CEO Climate Analytics, mengatakan proyeksi Climate Action Tracker miliknya menunjukkan, alih-alih turun 8 persen, emisi metana akan tetap stagnan antara sekarang hingga tahun 2030.
Akan tetapi baik stagnan atau penurunan 8 persen seperti yang diprediksi PBB, masih lebih baik daripada proyeksi peningkatan karbon dioksida.
Selama enam tahun terakhir, emisi karbon dioksida dan metana telah tumbuh pada tingkat yang kurang lebih sama, sekitar 4 persen.
Baca juga: IESR : Metana Sektor Energi Belum Terkontrol, Indonesia Harus Bergerak Lebih Cepat
Metana bertahan di atmosfer sekitar belasan tahun, dibandingkan dengan karbon dioksida yang dapat bertahan ratusan tahun.
Lebih lanjut, perusahaan sebenarnya bisa menghemat uang dengan menangkap dan menggunakan gas metana ini. Tetapi perusahaan memilih cara yang lebih mudah dengan membakarnya karena kurangnya investasi awal pada infrastruktur penangkapan dan juga transportasi.
Selain itu, perusahaan juga bisa menghasilkan keuntungan dari upaya penangkapan metana. Namun lagi-lagi, keuntungan finansial dari investasi baru di eksplorasi bahan bakar fosil yang masih menghasilkan metana jauh lebih besar.
"Laporan ini menunjukkan beberapa kebenaran yang sangat pahit tetapi juga secercah harapan," kata Paul Behrens dari Universitas Oxford.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya