JAKARTA, KOMPAS.com - Maybank Group mengalokasikan RM 80 miliar atau Rp 322 triliun untuk keuangan berkelanjutan atau sustainability finance sepanjang 2025.
Head of Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny Fransiska, menyampaikan pendanaan tersebut merupakan komitmen perusahaan yang terkait lingkungan dan sosial sehingga berdampak terhadap komunitas.
"Secara komitmen global di Maybank Group, kami memang di tahun 2025 memobilisasi sebesar RM 80 miliar. Kalau untuk Maybank Indonesia sendiri, per tahun ini kami memang targetkan akan achieve dari target," kata Maria ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).
Maybank Indonesia sendiri menyediakan 20 persen dari total kredit hijau yang disalurkan untuk sektor keberlanjutan. Menurut Maria, Maybank Indonesia mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 75,23 triliun per Oktober 2025.
Baca juga: Masyarakat Adat Jaga Ekosistem, tapi Hanya Terima 2,9 Persen Pendanaan Iklim
"Kami di Maybank sudah punya sustainable product framework, itu adalah framework yang kami bangun di level Maybank Group dan merupakan standar internasional. Kami bekerja sama dengan Sustainalytics sebagai salah satu lembaga independen di internasional," papar dia.
Sementara itu, porsi pembiayaan sosial yang bukan termasuk kategori sustainable finance mayoritas masih berada pada segmen sosial, terutama pemberdayaan UMKM melalui skema social financing. Namun, pembiayaan hijau atau green financing untuk energi terbarukan menunjukkan tren peningkatan.
"Di bagian lingkungan termasuk energi terbarukan, bangunan hijau dan ekosistem EV kami ada bagian untuk kreditnya juga, jadi ada pembiayaan yang memang ditujukan untuk kategori keberlanjutan," jelas Maria.
Baca juga: Indef: Ambisi B50 Sejalan dengan Transisi Energi, tapi Butuh Stabilitas Pendanaan
Pendanaan itu salah satunya dialokasikan di sektor sosial untuk petani kakao perempuan di Kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Program ini menargetkan 100 petani perempuan dengan luasan 100 hektare kebun kakao melalui pendanaan hingga Rp 1 miliar.
Community Develompment Manager YKAN, Dina Riska, menyampaikan pihaknya menyoroti tutupan lahan di Merasa yang terancam sehingga memilih kampung ini untuk diberdayakan. Lainnya, mengembangkan potensi komoditas kakao yang menghubungkan antara hutan lestari dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
"Kami membantu akurat kelompok internal control system-nya, mengimbangkan dengan pembelinya yang selama ini berkolaborasi dengan Maybank Team, dan mendukung bagaimana mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan. Kemudian nanti seimbang antara manusianya, antara hutannya, dan ekonominya," sebut Dina.
Pada aspek komunitas, YKAN membantu penerapan praktik pertanian berkelanjutan yang dapat meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kualitas lahan. Program ini dirancang agar praktik pertanian yang lebih baik dapat berkontribusi pada perlindungan hutan di Kampung Merasa.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya