Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Atsarina Luthfiyyah
Dosen

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Duta Bangsa. Memiliki minat penelitian tentang Komunikasi Indonesia dan Literasi Media.

Di Bawah Bayang-Bayang Krisis Iklim

Kompas.com, 28 November 2025, 19:13 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DALAM beberapa hari akhir November 2025, wilayah Sumatra Utara diterjang banjir dan longsor hebat. Curah hujan tinggi memicu luapan sungai dan pergerakan tanah. Sedikitnya 105 orang ditemukan tewas hingga hari ini. (Kompas.com, 28 November 2025). Korban manusia menjadi satu wajah dari duka. Namun, di balik angka itu, terdapat rumah yang hilang, jalan yang tertutup lumpur, mata pencaharian yang musnah, dan ketakutan yang menunggu musibah selanjutnya.

Sementara itu di sisi lain pulau, tragedi berbeda terulang dalam diam. Di Taman Nasional Tesso Nilo, di Provinsi Riau, populasi gajah liar terus menurun. Dari 200 ekor pada 2004, turun menjadi sekitar 150 ekor pada 2025. Habitat alami yang dulu lebat, kini tinggal sebagian kecil karena perambahan hutan dan konversi lahan. Sekitar 60 sampai lebih dari 60 persen hutan alami telah rusak akibat aktivitas ilegal dan perluasan kebun sawit. (Kompas.com, 28 November 2025).

Baca juga: Soal Banjir-Longsor di Sumatera, Bahlil: Ini Kan Awalnya dari Kerusakan Lingkungan

Banjir longsor di Sumatra Utara dan penyusutan populasi gajah di Tesso Nilo seolah menunjukkan dua sisi dari krisis iklim dan krisis lingkungan yang saling terkait. Air meluap di satu sisi. Kehidupan liar diinjak perlahan di sisi lain. Kita tengah berdiri di persimpangan krisis yang menuntut jawaban nyata.

Masalahnya bukan hanya iklim yang makin berubah atau cuaca yang tak bisa ditebak. Masalah berakar pada cara kita memperlakukan alam. Kita menggusur hutan, kita menerabas tanah, kita menanam di tempat tak tepat. Lalu saat hujan deras datang atau siklus alam terganggu, kita terkejut. Seakan lupa bahwa kita dulu ikut merusak penyangga kehidupan.

Contoh kerusakan di Tesso Nilo, hutan yang rusak bukan sekadar soal kehilangan pepohonan. Kehilangan hutan berarti kehilangan rumah bagi makhluk hidup, kehilangan sistem penyerapan air yang bagus, kehilangan penahan longsor, dan kehilangan keseimbangan ekosistem. Saat hujan berlebih atau angin kencang datang, daerah tanpa pepohonan lebih rentan banjir, longsor, erosi dan kerusakan.

Baca juga: Sawit Masuk Tesso Nilo, Gajah–Harimau Terjepit, Reputasi Indonesia Terancam

Di sisi lain, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sepanjang 2025, terjadi 2.942 peristiwa bencana alam. Sekitar 70 persen di antaranya adalah banjir dan cuaca ekstrem. Fakta ini seharusnya tidak membuat kita pasrah tapi justru mendorong kita untuk bergerak untuk melindungi alam. Jika pengerusakan alam terus dibiarkan, masa depan generasi kita akan terbungkus awan abu, lumpur dan kenangan pahit.

Kita perlu pendekatan baru, pendekatan yang tidak hanya bereaksi saat bencana sudah menyerang. Kita butuh gerakan preventif seperti pengelolaan alam secara bijak, penanaman pohon, perlindungan habitat satwa, pemetaan wilayah rawan bencana, pengaturan ulang tata ruang dan pola produksi.

Pemerintah memang memiliki peran penting. Misalnya langkah tegas di Tesso Nilo dengan penguatan operasi penertiban dan pengamanan kawasan, pemasangan portal, pembangunan pos penjagaan, dan proses pengosongan lahan secara persuasif dari penghuni ilegal. Tapi itu saja tidak cukup jika masyarakat, komunitas, dan seluruh elemen tidak ikut aktif.

Kita juga perlu membangun budaya waspada dan adaptasi. Belajar dari korban banjir dan longsor bahwa kita tidak bisa lagi mengabaikan tanda-tanda alam. Kita harus peka saat hujan berkepanjangan, saat tanjakan makin labil, saat sungai mulai naik. Kita harus punya jejaring sosial yang peduli, punya komunitas siaga, punya gotong royong dalam pemulihan dan pencegahan.

Jika kita ingin memperbaiki masa depan, kita harus mulai sekarang. Kita harus melindungi alam dengan mengakuinya sebagai bagian dari kehidupan kita. Bukan sumber daya semata yang bisa dieksploitasi. Bukan objek yang bisa dipaksa sesuai keinginan. Krisis iklim bukan mitos atau wacana jauh. Krisis hadir nyata di depan mata kita.

Ketika tanah longsor menelan rumah, ketika hutan digunduli, ketika satwa liar perlahan hilang. Jika kita diam, generasi mendatang hanya akan mewarisi duka dan penyesalan. Sedikit gerakan dari banyak orang lebih kuat daripada banyak janji dari sedikit orang. Mari kita bangun sikap peduli. Mari kita rawat alam ini untuk kita dan masa depan.

Baca juga: Prabowo Singgung Pembabatan Hutan Saat Bicara Banjir dan Longsor di Aceh hingga Sumbar

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
LSM/Figur
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau