JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan, industri manufaktur menyumbang 17,39 persen produk domestik bruto atau PDB dalam negeri.
Menurut Sekretaris SKJI Kemenperin, Muhammad Taufiq, kontribusi ekspor sektor industri mencapai 167 miliar dollar Amerika Serikat (AS) dari total 209 miliar dollar. Selain itu, menyerap 2 juta atau 13,86 persen tenaga kerja di Indonesia.
Baca juga:
"Tetapi dengan kontribusi ini juga memberikan kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dan berbagai jenis polutan lainnya. Karena itu, dekarbonisasi industri bukan lagi sebagai pilihan melainkan suatu keharusan untuk bisa memastikan masa depan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif," ujar Taufiq dalam ESG Symposium 2025 yang digelar SCG di Jakarta Selatan, Selasa (2/12/2025).
BSKJI Kementerian Perindustrian menyampaikan, industri manufaktur menyumbang 17,39 persen PDB Indonesia. Roadmap industri hijau pun dikembangkan.Saat ini, Kemenperin tengah mengembangkan roadmap (peta jalan) pembangunan industri hijau. Taufiq menuturkan, fokus utamanya agar industri dapat memangkas emisi, ataupun limbahnya.
Untuk pilar pertama, Kemenperin menyiapkan kebijakan dan regulasi terkait standarisasi industri hijau.
"Kami juga melakukan penguatan instrumen seperti standar industri hijau, sertifikasi dan pemberian insentif bagi perusahaan yang melakukan efisiensi energi, pemerhatian sumber energi terbarukan dan pengurangan emisi," jelas Taufiq.
Kedua, mendorong penerapan ekonomi sirkular di sektor industri dari mulai desain produk, pemilihan bahan baku, proses produksi, sampai pengelolaan limbah.
Kemenperin turut mengembangkan limbah hasil industri, yang dapat digunakan sebagai bahan baki industri lainnya, serta mendukung proyek dari sampah menjadi listrik (Waste to Energy).
"Kami juga terus menekankan pentingnya dekarbonisasi melalui inovasi teknologi dan efisiensi. Diharapkan dengan adanya efisiensi energi dan pengembangan proses produksi yang rendah karbon, serta pemanfaat teknologi bersih, termasuk energi terbarukan, elektrifikasi proses, dan teknologi digital untuk optimalisasi penggunaan energi dan bahan baku," papar Taufiq.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya