Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Miangas hingga Wamena, FiberStar Genjot Akselerasi Digital di Wilayah 3T

Kompas.com, 4 Desember 2025, 17:18 WIB
Y A Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Warga Desa Barunang, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, masih bergulat untuk mendapatkan akses internet memadai. Terletak di kawasan terdalam Kalimantan, internet bak barang mewah untuk didapat.

Untuk mengakses layanan internet, warga mesti membeli voucer Wi-Fi yang tersedia di warung-warung.

Sosialis (43), misalnya, mesti merogoh kocek Rp 5.000 untuk mendapatkan akses internet berdurasi lima jam. Warga Desa Barunang itu membeli voucer Wi-Fi agar anaknya dapat belajar dan mengerjakan tugas sekolah di rumah.

Apa yang terjadi di Desa Barunang mencerminkan bagaimana akses internet masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat di Tanah Air, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Kondisi tersebut menjadi perhatian banyak pihak, termasuk penyedia infrastruktur digital, seperti FiberStar. Perusahaan ini menegaskan komitmennya untuk menghadirkan akses internet yang lebih setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Baca juga: Pakar Unair: Pemerataan Internet Jadi Tantangan Besar Indonesia

Jangkauan fiber optic masih terbatas

Customer Service Assurance Division Head FiberStar, Wisnu Wardhana, mengatakan, pemerataan akses internet di Indonesia masih menghadapi kendala geografis dan infrastruktur.

Sedari awal, pihaknya mengutamakan pembangunan jaringan kabel fiber optic di Tanah Air.

“FiberStar sudah menggulirkan jaringan fiber optic di Sumatera, Jawa, Bali, sebagian Kalimantan Selatan, dan sebagian Sulawesi Selatan. Namun, untuk menjangkau ribuan desa terpencil masih menjadi tantangan,” ujar Wisnu kepada Kompas.com, Kamis (4/12/2025).

“Indonesia ini sangat luas. Untuk membentangkan fiber sampai ke pelosok membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit,” kata Wisnu.

Head of Division FiberStar Wisnu Wardhana mengatakan, Untuk mengatasi kendala geografis, FiberStar mengadopsi strategi hibrida dengan memanfaatkan teknologi satelit orbit rendah (LEO) milik Starlink. FiberStar mulai bekerja sama sebagai mitra resmi Starlink sejak 2024.KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko Head of Division FiberStar Wisnu Wardhana mengatakan, Untuk mengatasi kendala geografis, FiberStar mengadopsi strategi hibrida dengan memanfaatkan teknologi satelit orbit rendah (LEO) milik Starlink. FiberStar mulai bekerja sama sebagai mitra resmi Starlink sejak 2024.

Keterbatasan tersebut berdampak langsung pada layanan publik di wilayah 3T. Data yang dihimpun FiberStar menunjukkan bahwa sekitar 13.000 desa masih belum memiliki akses internet stabil.

Baca juga: Dukung Visi Digital 2045, FiberStar Modernisasi Jaringan untuk Tingkatkan Kualitas dan Ekosistem Talenta

Bahkan 30 persen sekolah terpencil dan 25 persen puskesmas belum terjangkau layanan internet memadai.

“Kadang anak-anak harus naik bukit atau berjalan jauh ke kota hanya untuk dapat sinyal,” ujar Wisnu.

Integrasi fiber dan Starlink

Untuk mengatasi kendala geografis, FiberStar mengadopsi strategi hibrida dengan memanfaatkan teknologi satelit orbit rendah (LEO) milik Starlink. FiberStar mulai bekerja sama sebagai mitra resmi Starlink sejak 2024.

“Starlink memberi terobosan besar untuk daerah yang sulit dijangkau fiber. Karena satelitnya berada di orbit rendah, latensinya sangat kecil, bahkan bisa di bawah 50 milidetik,” jelas Wisnu.

Menurutnya, unit perangkat Starlink yang ringkas membuat proses instalasi lebih cepat. Di area tanpa listrik, perangkat tersebut bahkan bisa dikombinasikan dengan panel surya.

Baca juga: Pakar Unair: Jaringan 5G dan Pemerataan Internet Jadi Hal Penting

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau