Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Impor Limbah Plastik Picu Kenaikan Sampah Pesisir, Simak Penelitiannya

Kompas.com, 10 Desember 2025, 19:05 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi baru dari Universitas Illinois Urbana-Champaign menyelidiki bagaimana perdagangan sampah plastik global berkontribusi pada sampah di sepanjang garis pantai dan perairan di negara-negara pengimpor.

Limbah plastik adalah komoditas yang diperdagangkan secara internasional dan dapat didaur ulang menjadi bahan yang digunakan kembali. Sementara itu, sampah plastik yang berserakan adalah polusi yang dihasilkan dari limbah yang tidak diolah.

Baca juga: 

Namun, ada kekhawatiran bahwa ekspor limbah ke negara lain tersebut justru menciptakan peluang terjadinya pencemaran lingkungan dalam perjalanan dan penyimpanan.

"Kami ingin melihat apakah impor plastik menyebabkan peningkatan jumlah sampah plastik yang ditemukan di daerah pesisir," kata asisten profesor di Departemen Ekonomi Pertanian dan Konsumen, Universitas Illinois Urbana-Champaign, Becca Taylor, dilansir dari Phys, Rabu (10/12/2025).

"Secara keseluruhan, kami menemukan bahwa peningkatan 10 persen dalam jumlah limbah plastik yang diimpor suatu negara dikaitkan dengan peningkatan 0,6 persen dalam jumlah botol plastik yang berserakan yang dikumpulkan dari daerah pesisir," tambah dia.

Jumlah limbah plastik bertambah dengan cepat

Jumlah limbah plastik bertambah dengan cepat. Meskipun hanya sekitar dua persen limbah plastik yang diperdagangkan secara global, angka tersebut merupakan jumlah yang substansial mengingat pertumbuhan besar dalam produksi plastik selama 30 tahun terakhir.

Sebagai informasi, perdagangan internasional limbah plastik mencapai puncaknya pada tahun 2014 dengan sebanyak 16 juta Metrik ton.

Perdagangan limbah ini bergerak terutama dari negara di bagian utara ke negara di bagian selatan.

Namun, pergerakan tersebut menimbulkan kekhawatiran dan berpotensi menciptakan ketidakadilan lingkungan.

Sebab, negara pengimpor justru menjadi "surga polusi" akibat regulasi lingkungan yang lemah dan infrastruktur limbah yang buruk membuat mereka tidak mampu menampung limbah impor, yang akhirnya mencemari lingkungan lokal mereka.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Perparah Polusi Plastik, Lebih Mudah Menyebar dan Berbahaya

Metode penelitian

Penelitian terbaru mengungkap negara dengan impor limbah plastik tinggi mengalami lonjakan sampah pesisir. Simak selengkapnya.PIXABAY/BEN KERCKX Penelitian terbaru mengungkap negara dengan impor limbah plastik tinggi mengalami lonjakan sampah pesisir. Simak selengkapnya.

Dalam studi yang diterbitkan di Ecological Economics ini, peneliti bekerja sama dengan The Ocean Conservancy, sebuah organisasi advokasi lingkungan non-pemerintah, yang melakukan acara pembersihan pantai skala global tahunan.

Para peneliti kemudian memperoleh data dari 90 negara mulai tahun 2003 hingga 2022. Mereka fokus pada botol plastik karena merupakan komoditas yang dapat didaur ulang, tidak seperti jenis limbah umum lainnya seperti puntung rokok dan bungkus makanan.

Para peneliti juga menggunakan basis data perdagangan global PBB untuk mengukur impor limbah plastik per negara dan per tahun.

Tak hanya itu, penelitian akademis juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi tingkat pengelolaan sampah plastik yang buruk menurut negara.

Para peneliti menemukan, peningkatan dua kali lipat jumlah limbah plastik yang diimpor suatu negara dikaitkan dengan peningkatan enam persen dalam jumlah botol sampah yang dikumpulkan.

Lebih lanjut, negara-negara yang berjuang dengan sistem pengelolaan sampah yang buruk mengalami peningkatan sampah yang proporsional lebih tinggi.

Baca juga: Sampah Plastik Tanggung Jawab Konsumen Atau Produsen?

Penelitian terbaru mengungkap negara dengan impor limbah plastik tinggi mengalami lonjakan sampah pesisir. Simak selengkapnya.SHUTTERSTOCK/DawSS Penelitian terbaru mengungkap negara dengan impor limbah plastik tinggi mengalami lonjakan sampah pesisir. Simak selengkapnya.

Penelitian juga mencakup perubahan terkini dalam perdagangan limbah internasional, yang bergeser secara signifikan pada tahun 2017 ketika China melarang impor limbah plastik.

Negeri Tirai Bambu diketahui telah menjadi pasar utama untuk limbah plastik, dan perubahan kebijakan tersebut menyebabkan total impor plastik menurun sebesar 73 persen.

Sebagian sampah tersebut kemudian sampai ke negara lain, seperti Thailand dan Malaysia, lokasi impor plastik meningkat secara signifikan setelah larangan China.

Para peneliti mengamati apa yang terjadi pada sampah di negara-negara tersebut, dan menemukan bahwa peningkatan impor limbah plastik sebesar 1.000 ton dari tahun 2016 hingga 2017 dikaitkan dengan peningkatan 0,7 persen botol plastik yang berserakan.

"Singkatnya, kami menemukan bahwa impor limbah plastik menyebabkan peningkatan sampah di pesisir, dan kebijakan yang bertujuan untuk mengatur atau memastikan industri pengimpor mengikuti praktik terbaik akan berdampak," kata Taylor.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau