Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI banyak wilayah Indonesia, musim hujan kini sering datang bersama kecemasan. Tanah longsor dan banjir muncul bukan hanya karena sungai yang meluap, tetapi juga dari genangan yang memenuhi jalanan dan permukiman padat. Sebaliknya, musim kemarau membawa kekeringan dan menurunnya cadangan air tanah. Dua ekstrem ini menegaskan satu kenyataan penting, yaitu ketika lingkungan rusak, dampaknya selalu kembali menghantam kehidupan kita sendiri.
Krisis air, banjir, penurunan permukaan tanah, hingga polusi adalah cermin dari tata kelola lingkungan yang belum tertata dan perilaku manusia yang belum berubah. Dalam kondisi seperti ini, pelibatan masyarakat menjadi kunci, namun partisipasi tidak muncul begitu saja. Ia memerlukan ekosistem pendukung yang kuat. Pemerintah harus menghadirkan regulasi, insentif, dan fasilitas. Hal ini perlu didukung lembaga masyarakat yang memberi pendampingan, edukasi, serta pengawasan independen.
Pemerintahan dari desa hingga provinsi perlu memastikan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau diterapkan di wilayahnya. Ketika semua unsur ini bersinergi, tindakan kecil seperti memilah sampah atau menanam pohon, dapat berkembang menjadi gerakan besar yang mengubah cara kita memperlakukan alam.
Pada prinsipnya, pelestarian lingkungan bukan soal proyek mahal, tetapi soal kebiasaan kolektif yang dijalankan secara konsisten. Bangsa kita akan jauh lebih tangguh menghadapi krisis iklim dan mitigasi bencana jika masyarakat menjadi pelaku aktif.
Dari pengelolaan lahan perkotaan, kebun kecil di pekarangan, agroforestri di desa pinggir hutan, sumur resapan di halaman rumah, hingga komunitas sungai yang menjaga daerah aliran air. Jika setiap rumah menanam satu pohon, setiap komunitas merawat satu sungai, dan setiap kampung memiliki ruang hijau bersama, maka kita bukan hanya mewariskan lingkungan yang lebih sehat, tetapi juga budaya baru yang peduli pada bumi.
Baca juga: Konstitusi Ekologis dan Kedaulatan Lingkungan
Setiap perbaikan lingkungan sesungguhnya dimulai dari rumah. Kebiasaan kecil seperti memilah sampah, mengurangi plastik, membuat kompos, tidak membuang limbah ke saluran air, hingga menanam pohon di halaman, merupakan fondasi ekologis yang sering diremehkan. Namun di banyak kampung kota di Jawa dan Sumatra, warga membuktikan bahwa gerakan kecil dapat menghasilkan perubahan nyata.
Program Bank Sampah lahir dari inisiatif warga yang ingin keluar dari lingkungan kumuh, dan dari sana muncul pembelajaran ekologis yang tumbuh dari rumah ke rumah, menguatkan budaya hidup bersih.
Contoh keberhasilan lainnya tampak di Kampung Code, Yogyakarta, yang dahulu dikenal sebagai kawasan rawan dan kumuh. Kini, berkat kedisiplinan warganya membersihkan bantaran sungai, menata tanaman, serta mengelola sampah, kawasan tersebut menjadi rujukan banyak peneliti dan pemerhati lingkungan.
Semangat serupa berkembang melalui urban farming di beberapa kota besar Indonesia. Gerakan menjaga kualitas lingkungan juga tampak dalam upaya sederhana mengelola air tanah. Warga di Semarang dan Depok, misalnya, membangun sumur resapan dan lubang biopori untuk mengurangi genangan, menambah cadangan air tanah, dan mengurangi tekanan pada sistem drainase.
Sementara itu, di banyak wilayah pedesaan, agroforestri menjadi bukti bahwa restorasi ekosistem dapat berjalan berdampingan dengan peningkatan ekonomi. Petani di Jawa Barat, Lampung, dan Sumatra Utara menerapkan pola tanam berlapis (multi strata). Dimana pada satu lahan terdapat pohon tinggi, tanaman buah, semak, dan tanaman semusim, yang tidak hanya menahan erosi dan memperkaya tanah tetapi juga memberikan hasil ekonomi sepanjang tahun.
Di sisi lain, pengawasan lingkungan tidak semata-mata bergantung pada aturan, melainkan juga pada kepedulian warga. Komunitas pemuda pembersih sampah sungai di Indonesia yang terkenal adalah Pandawara Group dari Bandung, yang menginspirasi aksi bersih-bersih sungai dan pantai, serta ada juga komunitas lain seperti Sungai Watch dari Bali yang fokus merawat sungai di berbagai daerah.
Keseluruhan contoh ini menegaskan bahwa masyarakat bukan hanya penerima dampak, tetapi aktor utama yang menentukan masa depan lingkungan hidup kita.
Baca juga: Saatnya Pendidikan Lingkungan Menjadi Mata Pelajaran Wajib
Keberhasilan banyak negara maju dalam mengelola lingkungan tidak lahir semata-mata dari kebijakan yang tertulis rapi di atas kertas, tetapi dari budaya partisipatif yang mengakar kuat di tengah warganya. Ketika masyarakat merasa memiliki lingkungan dan terlibat langsung dalam menjaganya, kebijakan tidak lagi bekerja sendirian; ia didorong oleh jutaan tindakan kecil yang kolektif.
Bagi pembuat kebijakan di Indonesia, pelajaran ini penting, dimana regulasi yang kuat hanya akan berfungsi maksimal jika dibarengi oleh budaya sosial yang mendukung.
Jepang adalah contoh paling konsisten tentang bagaimana perilaku sehari-hari membentuk kualitas lingkungan. Negara ini berada di peringkat atas indeks kebersihan global bukan karena hukuman berat semata, tetapi karena norma sosial yang kuat.
Anak-anak sekolah, dari SD hingga SMA, membersihkan kelas, lorong, dan toilet setiap hari dalam kegiatan o-soji, yang menanamkan rasa tanggung jawab personal. Banyak kota di Jepang juga rutin mengadakan hari bersih-bersih lingkungan, dan tingkat daur ulang mereka mencapai lebih dari 80% untuk beberapa kategori sampah. Kesadaran ini membuat kota-kota tetap bersih meski jumlah tempat sampah publik sangat sedikit.
Denmark dan Belanda menunjukkan bagaimana tekanan warga dapat mendorong transformasi kebijakan. Di Kopenhagen, gelombang protes warga pada 1970-an menuntut kota yang aman bagi pesepeda, sehingga pemerintah membangun jalur sepeda yang kini mencapai lebih dari 375 km, menjadikannya salah satu "kota sepeda" terbaik dunia.
Di Belanda, risiko banjir yang terus meningkat mendorong pemerintah mengadopsi kebijakan Room for the River yang hanya berhasil karena partisipasi warga. Dimana mereka membangun taman resapan, mengubah halaman menjadi ruang hijau, dan memasang atap hijau yang kini jumlahnya diperkirakan melampaui 1 juta meter persegi. Keterlibatan warga memungkinkan Belanda menciptakan sistem pengelolaan air paling adaptif di dunia.
Di Kanada dan Australia, gotong royong warga menjadi tulang punggung konservasi alam. Program Bushcare di Australia melibatkan lebih dari 60.000 relawan yang memulihkan hutan kota, membasmi spesies invasif, dan menanam vegetasi lokal. Kanada memiliki lebih dari 2.000 kebun komunitas yang menjadi pusat pembelajaran, ketahanan pangan lokal, dan ruang hijau yang memperkuat kesehatan mental masyarakat.
Kedua negara ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan meningkat drastis ketika warga tidak hanya dianggap penerima manfaat, tetapi co-creator perubahan.
Dari berbagai contoh tersebut, satu pelajaran menjadi sangat jelas, yaitu pemerintah yang kuat tanpa masyarakat aktif hanya akan menghasilkan program. Namun masyarakat yang aktif dengan dukungan pemerintah akan menghasilkan perubahan yang bertahan lama.
Indonesia memiliki potensi besar melalui tradisi gotong royong hingga tumbuhnya komunitas lingkungan di berbagai kota. Tantangannya kini adalah membangun kebijakan yang membuka ruang bagi partisipasi warga secara lebih luas, lebih mudah, dan lebih bermakna. Karena masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh apa yang ditetapkan pemerintah, tetapi oleh bagaimana warga memilih untuk terlibat setiap hari.
Baca juga: Anomali Pendidikan Lingkungan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya