Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IEA: 60 Persen Perusahaan Global Kekurangan "Tenaga Kerja Hijau"

Kompas.com, 18 Desember 2025, 19:18 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan investasi yang kuat dalam infrastruktur energi pada tahun 2024 telah mendorong peningkatan 2,2 persen lapangan kerja di sektor energi.

Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dari rata-rata tingkat pertumbuhan lapangan kerja di ekonomi global. Namun di sisi lain, peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan jumlah tenaga terampil di sektor energi.

Laporan World Energy Employment menganalisis bagaimana kebutuhan dan kekurangan tenaga kerja terampil telah berubah sejak laporan pertama pada tahun 2022.

Data tersebut berasal dari Survei Ketenagakerjaan Energi IEA, yang mengumpulkan tanggapan dari lebih dari 700 perusahaan energi, serikat pekerja, dan pendidik.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sejak tahun 2015, sektor energi telah menambah lapangan kerja bagi lebih dari 1,6 juta pekerja terampil.

Baca juga: Kementerian ESDM: Sektor Panas Bumi Serap 1.533 Tenaga Kerja Hijau

“Energi telah menjadi salah satu penggerak penciptaan lapangan kerja terkuat dan paling konsisten dalam ekonomi global selama periode yang ditandai dengan ketidakpastian yang signifikan," kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, dikutip dari Sustainability Magazine, Selasa (16/12/2025).

Namun momentum ini tidak dapat dianggap remeh. Pasalnya, kemampuan dunia untuk membangun infrastruktur energi yang dibutuhkannya bergantung pada ketersediaan tenaga kerja terampil yang cukup.

“Pemerintah, industri, dan lembaga pelatihan harus bekerja sama untuk menutup kesenjangan tenaga kerja dan keterampilan. Jika tidak ditangani, kekurangan ini dapat memperlambat kemajuan, meningkatkan biaya, dan melemahkan keamanan energi,” ungkap Fatih.

Peningkatan elektrifikasi

Salah satu faktor pendorong meningkatnya kebutuhan akan tenaga kerja berkelanjutan adalah peningkatan elektrifikasi.

Sejak tahun 2020, lapangan kerja di sektor listrik telah meningkat sebesar 3,9 juta, yang mewakili hampir tiga perempat dari semua penambahan lapangan kerja di sektor energi.

Sektor listrik kini menjadi sektor energi dengan jumlah tenaga kerja terbesar, melampaui pasokan bahan bakar untuk pertama kalinya.

Baca juga: Tenaga Kerja Bidang Keberlanjutan Makin Diminati di Indonesia

Peran-peran ini meliputi pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penyimpanan listrik.

Laporan IEA kemudian mengungkapkan bahwa pergeseran global menuju elektrifikasi mengubah sifat lapangan kerja.

Misalnya saja, lapangan kerja di sektor manufaktur kendaraan listrik terus meningkat, angkanya hampir 800.000 pada tahun 2024.

Kekurangan tenaga kerja terampil

Sayangnya, lebih dari setengah dan serikat perusahaan dan serikat pekerja yang disurvei melaporkan adanya hambatan perekrutan tenaga kerja terampil berkelanjutan.

Kekurangan tenaga kerja ini paling menonjol di peran teknis terapan, yang mencakup lebih dari setengah tenaga kerja di sektor energi.

Peran di sektor energi yang paling kekurangan tenaga kerja meliputi teknisi listrik, tukang pipa, pekerja saluran listrik, dan insinyur.

Sementara IEA menyatakan bahwa kemampuan suatu negara untuk menjaga keamanan energi, memperluas jaringan listrik, meningkatkan energi bersih, atau menarik investasi bergantung pada ketersediaan tenaga kerja yang tepat.

Survei juga menemukan bahwa sekitar 60 persen perusahaan melaporkan kekurangan tenaga kerja.

Namun, laporan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan pekerja energi yang ada dapat membantu mengisi beberapa kesenjangan tenaga kerja terampil.

Contohnya, sekitar dua pertiga pekerja pasokan minyak dan gas memiliki keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk beralih ke bidang energi lainnya.

Baca juga: Potensi Green Jobs dari RUPTL 2025 - 2034 Perlu Dibarengi Peningkatan Kapasitas Tenaga Kerja

Dukungan kebijakan

Survei Ketenagakerjaan Energi IEA menunjukkan bahwa biaya pelatihan, hilangnya pendapatan dan rendahnya kesadaran akan program-program yang tersedia merupakan hambatan utama untuk mengikuti pelatihan di bidang energi.

Perubahan kebijakan dapat sangat penting untuk membantu menarik lebih banyak pekerja ke pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan.

Respons kebijakan yang paling efektif meliputi insentif keuangan, program magang, dan kampanye yang mempromosikan karier kejuruan di bidang energi.

Perusahaan energi juga perlu terlibat langsung dengan lembaga pendidikan untuk membantu mengatasi kesenjangan keterampilan dengan mensponsori siswa atau menyediakan pelatihan untuk peran tertentu.

Sedangkan upah yang kompetitif juga merupakan faktor kunci dalam mempertahankan pekerja terampil.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
LSM/Figur
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
LSM/Figur
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau