KOMPAS.com - Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan investasi yang kuat dalam infrastruktur energi pada tahun 2024 telah mendorong peningkatan 2,2 persen lapangan kerja di sektor energi.
Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dari rata-rata tingkat pertumbuhan lapangan kerja di ekonomi global. Namun di sisi lain, peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan jumlah tenaga terampil di sektor energi.
Laporan World Energy Employment menganalisis bagaimana kebutuhan dan kekurangan tenaga kerja terampil telah berubah sejak laporan pertama pada tahun 2022.
Data tersebut berasal dari Survei Ketenagakerjaan Energi IEA, yang mengumpulkan tanggapan dari lebih dari 700 perusahaan energi, serikat pekerja, dan pendidik.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sejak tahun 2015, sektor energi telah menambah lapangan kerja bagi lebih dari 1,6 juta pekerja terampil.
Baca juga: Kementerian ESDM: Sektor Panas Bumi Serap 1.533 Tenaga Kerja Hijau
“Energi telah menjadi salah satu penggerak penciptaan lapangan kerja terkuat dan paling konsisten dalam ekonomi global selama periode yang ditandai dengan ketidakpastian yang signifikan," kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, dikutip dari Sustainability Magazine, Selasa (16/12/2025).
Namun momentum ini tidak dapat dianggap remeh. Pasalnya, kemampuan dunia untuk membangun infrastruktur energi yang dibutuhkannya bergantung pada ketersediaan tenaga kerja terampil yang cukup.
“Pemerintah, industri, dan lembaga pelatihan harus bekerja sama untuk menutup kesenjangan tenaga kerja dan keterampilan. Jika tidak ditangani, kekurangan ini dapat memperlambat kemajuan, meningkatkan biaya, dan melemahkan keamanan energi,” ungkap Fatih.
Salah satu faktor pendorong meningkatnya kebutuhan akan tenaga kerja berkelanjutan adalah peningkatan elektrifikasi.
Sejak tahun 2020, lapangan kerja di sektor listrik telah meningkat sebesar 3,9 juta, yang mewakili hampir tiga perempat dari semua penambahan lapangan kerja di sektor energi.
Sektor listrik kini menjadi sektor energi dengan jumlah tenaga kerja terbesar, melampaui pasokan bahan bakar untuk pertama kalinya.
Baca juga: Tenaga Kerja Bidang Keberlanjutan Makin Diminati di Indonesia
Peran-peran ini meliputi pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penyimpanan listrik.
Laporan IEA kemudian mengungkapkan bahwa pergeseran global menuju elektrifikasi mengubah sifat lapangan kerja.
Misalnya saja, lapangan kerja di sektor manufaktur kendaraan listrik terus meningkat, angkanya hampir 800.000 pada tahun 2024.
Sayangnya, lebih dari setengah dan serikat perusahaan dan serikat pekerja yang disurvei melaporkan adanya hambatan perekrutan tenaga kerja terampil berkelanjutan.
Kekurangan tenaga kerja ini paling menonjol di peran teknis terapan, yang mencakup lebih dari setengah tenaga kerja di sektor energi.
Peran di sektor energi yang paling kekurangan tenaga kerja meliputi teknisi listrik, tukang pipa, pekerja saluran listrik, dan insinyur.
Sementara IEA menyatakan bahwa kemampuan suatu negara untuk menjaga keamanan energi, memperluas jaringan listrik, meningkatkan energi bersih, atau menarik investasi bergantung pada ketersediaan tenaga kerja yang tepat.
Survei juga menemukan bahwa sekitar 60 persen perusahaan melaporkan kekurangan tenaga kerja.
Namun, laporan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan pekerja energi yang ada dapat membantu mengisi beberapa kesenjangan tenaga kerja terampil.
Contohnya, sekitar dua pertiga pekerja pasokan minyak dan gas memiliki keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk beralih ke bidang energi lainnya.
Baca juga: Potensi Green Jobs dari RUPTL 2025 - 2034 Perlu Dibarengi Peningkatan Kapasitas Tenaga Kerja
Survei Ketenagakerjaan Energi IEA menunjukkan bahwa biaya pelatihan, hilangnya pendapatan dan rendahnya kesadaran akan program-program yang tersedia merupakan hambatan utama untuk mengikuti pelatihan di bidang energi.
Perubahan kebijakan dapat sangat penting untuk membantu menarik lebih banyak pekerja ke pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan.
Respons kebijakan yang paling efektif meliputi insentif keuangan, program magang, dan kampanye yang mempromosikan karier kejuruan di bidang energi.
Perusahaan energi juga perlu terlibat langsung dengan lembaga pendidikan untuk membantu mengatasi kesenjangan keterampilan dengan mensponsori siswa atau menyediakan pelatihan untuk peran tertentu.
Sedangkan upah yang kompetitif juga merupakan faktor kunci dalam mempertahankan pekerja terampil.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya