KOMPAS.com - Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa risiko kesehatan reproduksi meningkat seiring dengan perubahan iklim yang terjadi di Asia.
Para ahli pun mendesak agak kesehatan reproduksi dimasukkan ke dalam pendanaan iklim.
Melansir Eco Business, Jumat (19/12/2025) di negara-negara Asia yang paling rentan terhadap perubahan iklim, pemanasan global mengancam kesehatan seksual dan reproduksi masyarakat.
Kebakaran, banjir, dan polusi juga menimbulkan bahaya tambahan bagi kelompok yang paling rentan termasuk di antaranya adalah ibu hamil, remaja putri dan bayi baru lahir.
Namun, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa kebutuhan masyarakat yang menghadapi bahaya kesehatan terkait iklim sering diabaikan.
Bulan lalu, para ahli di Konferensi Internasional tentang Keluarga Berencana menyoroti korelasi yang semakin meningkat antara peningkatan suhu dan hasil yang buruk bagi perempuan dan bayi, dan menyerukan peningkatan pendanaan untuk kesehatan seksual dan reproduksi guna meningkatkan ketahanan.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Berbagai Jenis Penyakit, Ancam Kesehatan Global
Cuaca ekstrem mempersulit perempuan dan anak perempuan untuk mengakses kontrasepsi, perawatan ibu, dan tempat yang aman untuk melahirkan. Hal ini juga mengurangi dukungan yang tersedia bagi orang-orang rentan yang menghadapi diskriminasi atau kekerasan berbasis gender.
Tahun ini terjadi gelombang panas yang memecahkan rekor, gagal panen, dan topan di seluruh Asia, yang kemudian dikaitkan oleh para peneliti dengan peningkatan kelahiran prematur, bayi lahir mati, dan komplikasi kehamilan.
Climate Central, sebuah kelompok independen yang terdiri dari ilmuwan dan komunikator iklim, mempelajari suhu dari tahun 2020-2024 dan menemukan bahwa hampir satu dari tiga negara telah mengalami setidaknya satu bulan tambahan suhu tinggi, tingkat yang menimbulkan risiko bagi kehamilan.
Topan dan banjir juga dapat memengaruhi akses masyarakat ke fasilitas perawatan kesehatan dan menurunkan kualitas perawatan yang mereka terima.
Misalnya saja, di provinsi Sindh, Pakistan, ditemukan angka malnutrisi yang tinggi di antara perempuan hamil dan menyusui di daerah yang terkena dampak kekeringan, yang menyebabkan kematian bayi baru lahir yang berlebihan akibat berat badan lahir rendah, sepsis neonatal, dan asfiksia saat lahir.
Baca juga: Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Namun, masalah belum usai. Masyarakat yang berada di garis depan makin rentan karena adanya pemotongan bantuan global untuk kemanusian.
Saat ini, dana internasional untuk iklim hampir seluruhnya fokus pada hal-hal teknis seperti membangun tanggul atau energi bersih.
Sedangkan isu seperti layanan kontrasepsi, kesehatan ibu hamil, atau hak-hak perempuan sering kali dianggap tidak ada hubungannya dengan iklim, padahal menurut para ahli, keduanya sangat berkaitan.
“Ini adalah kesempatan emas bagi sektor iklim serta komunitas kesehatan global dan hak kesehatan seksual dan reproduksi untuk bersatu,” ujar Nabeeha Kazi Hutchins, pimpinan Population Action International, sebuah organisasi yang mengadvokasi kesehatan seksual perempuan dan hak-hak reproduksi.
Beberapa ahli mengatakan kesehatan seksual dan reproduksi harus dimasukkan dalam kebijakan lingkungan dan rencana aksi lokal untuk menghadapi perubahan iklim.
Menurut Jaringan Global Rencana Adaptasi Nasional (NAP), yang membantu negara-negara berkembang beradaptasi dengan perubahan iklim, menangani masalah seks dan reproduksi akan meningkatkan ketahanan nasional dan memperbaiki hasil bagi masyarakat rentan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya