Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemodal Tambang Ilegal Bukit Soeharto di IKN Terancam 10 Tahun Penjara

Kompas.com, 5 Januari 2026, 12:54 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penyidik Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Wilayah Kalimantan menjerat MH (37), salah satu aktor penambangan ilegal di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, Kalimantan Timur, dengan pasal berlapis.

MH dijerat Pasal 78 ayat (2) juncto Pasal 50 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana diubah pada Paragraf 4 Pasal 36 angka 19 Pasal 78 ayat (2) juncto Pasal 50 ayat (2) huruf a UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Baca juga: 

Sebagaimana diubah dalam paragraf 4 Pasal 36 angka 19 Pasal 78 ayat (3) juncto angka 17 Pasal 50 ayat (2) huruf a Undang Undang Nomor 6 tahun 2023 tentang Penetapan PP pengganti UU Nomor 22 tahun 2022 Tentang Cipta Kerja menjadi UU junvto Pasal 55 ayat (1) ke 1 Kitab Undang-Undang Hukup Pidana.

"Dengan ancaman pidana 10 tahun dan denda Rp 5 miliar," kata Kepala Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Kalimantan, Leonardo Gultom dalam keterangannya, Minggu (4/1/2026).

Penambangan ilegal di Tahura Bukit Soeharto

Tersangka masuk daftar pencarian orang selama tiga tahun

Bareskrim Mabes Polri mengungkap kasus tambang ilegal di Tahura Bukit Soeharto pada Oktober kemarin. Kawasan ini masih masuk delineasi IKN. KOMPAS.COM/Erik Alfian Bareskrim Mabes Polri mengungkap kasus tambang ilegal di Tahura Bukit Soeharto pada Oktober kemarin. Kawasan ini masih masuk delineasi IKN.

Leonardo menjelaskan bahwa MH telah masuk daftar pencarian orang selama tiga tahun terakhir.

Tersangka disebut berperan sebagai pemodal, penanggung jawab, serta memerintah operator alat berat berinisial S (47), B (44), AM (32) dan NT (44) untuk menambang batu bara ilegal di Tahura Bukit Soeharto pada tahun 2022 lalu.

Leonardo menyebut, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur mengeluarkan surat pemberitahuan berkas perkara atas nama tersangka MH dinyatakan lengkap atau P21 usai penyidik memeriksa saksi-saksi dan ahli serta pengumpulan alat bukti maupun pemenuhan petunjuk jaksa.

"Selanjutnya tersangka beserta barang bukti berupa empat unit ekskavator diserahterimakan kepada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur dalam rangka proses penuntutan di persidangan," jelas dia.

Baca juga: 

Adapun penyidikan terhadap MH merupakan tindak lanjut dari operasi tangkap tangan tim operasi Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat Brigade Enggang Kalimantan Timur terhadap S, B, AM, dan NT yang kala itu tengah menggali lahan di Bukit Soeharto, tepatnya di daerah green belt Waduk Samboja, Ibu Kota Nusantara (IKN).

"Penangkapan ini merupakan bukti komitmen kami dalam mengungkap jaringan aktivitas penambangan ilegal dalam kawasan hutan. Selain itu sinergitas dengan Subdit V Bareskrim Mabes Polri dan Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur menjadi kunci penting dalam penuntasan kasus ini," papar Leonardo.

Ekskavator ditemukan di Bukit Soeharto, IKN, untuk menanbang batu bara secara ilegal. Dok.KEMENHUT Ekskavator ditemukan di Bukit Soeharto, IKN, untuk menanbang batu bara secara ilegal.

Sementara itu, Direktur Jenderal Gakkum Kehutanan Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho menyampaikan, upaya penegakan hukum terhadap pertambangan ilegal di Hutan Konservasi Tahura Bukit Soeharto akan terus dilakukan secara konsisten.

Hal tersebut bertujuan memberi efek jera, sekaligus menyelamatkan sumber daya hutan dari kerusakan ekologis.

"Kami optimis penegakan hukum kehutanan ke depan akan semakin solid dan kuat untuk menjawab tantangan kejahatan kehutanan yang semakin kompleks," ucap Dwi.

Dilaporkan oleh Kompas.id, Minggu (4/1/2026), Polda Kaltim mencatat, sepanjang 2023-2025 telah memproses hukum enam kasus tambang ilegal di IKN, termasuk di Bukit Soeharto. Sebanyak delapan orang ditetapkan sebagai tersangka pada kasus tersebut. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau