Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Taiwan Ubah Strategi Pengurangan Plastik Sekali Pakai

Kompas.com, 6 Januari 2026, 11:37 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Taiwan mengubah aturan pengurangan plastik sekali pakai agar lebih realistis. Pemerintah Taiwan menetapkan pengurangan plastik lima persen pada tahun 2030, serta 10 persen pada tahun 2035, yang diumumkan pada Senin (29/12/2025).

Adapun pendekatan lama yang mengandalkan larangan penuh dinilai tidak lagi efektif. Taiwan pun memilih jalur insentif ekonomi dan penguatan ekonomi sirkular, dilansir dari Eco-Business, Senin (6/1/2026). 

Baca juga:

Taiwan mengubah aturan pengurangan plastik

Target sebelumnya tidak tercapai

Taiwan mengubah kebijakan plastik sekali pakai dengan target baru hingga 2035. Simak selengkapnya.SHUTTERSTOCK Taiwan mengubah kebijakan plastik sekali pakai dengan target baru hingga 2035. Simak selengkapnya.

Sebelumnya pada tahun 2018, Taiwan berkomitmen menghapus empat jenis plastik sekali pakai yaitu sedotan, gelas minuman, kantong belanja, dan perlengkapan makan sekali pakai.

Pemerintah menargetkan pelarangan penuh pada tahun 2025 dan penghapusan total pada tahun 2030. Namun, target tersebut saat ini resmi direvisi.

Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan mengakui target lama tidak tercapai. Dalam kebijakan baru, pemerintah menargetkan pengurangan plastik petrokimia sekali pakai sebesar lima persen pada tahun 2030. Angka tersebut naik menjadi 10 persen pada 2035.

Adapun tahun 2024 dijadikan sebagai titik acuan penghitungan.

Aturan baru ini juga memperluas kategori plastik yang diatur. Dari sebelumnya empat jenis, saat ini bertambah menjadi enam kategori. Dua tambahan utama adalah kemasan ritel dan kemasan e-commerce.

Kedua sektor tersebut dinilai berkontribusi besar terhadap lonjakan sampah plastik.

Baca juga:

Pemerintah sudah berupaya, tapi..

Permintaan kemasan makanan dan belanja online meningkat

Menteri Lingkungan Hidup Taiwan, Peng Chi-ming, mengatakan, pemerintah sudah berupaya selama tujuh tahun terakhir.

Namun, perubahan perilaku konsumen pasca-pandemi Covid-19 membuat target lama sulit tercapai. Permintaan kemasan makanan dan belanja online (daring) justru terus meningkat.

Peng menilai pendekatan berbasis larangan saja tidak cukup. Maka dari itu, strategi baru menitikberatkan pada insentif ekonomi.

Pemerintah juga memprioritaskan enam sektor utama meliputi instansi pemerintah, perusahaan besar, peritel, ruang publik, pasar, dan pusat grosir.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pemerintah
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Pemerintah
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Swasta
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
BUMN
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau