Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lanskap Sombori-Mekongga di Sulawesi Diusulkan Jadi Taman Nasional

Kompas.com, 6 Januari 2026, 10:51 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga di Sulawesi sebagai taman nasional dan warisan dunia.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Hendra Gunawan menilai bahwa langkah tersebut dapat menjawab krisis iklim dan deforestasi, serta meningkatnya risiko bencana ekologis di wilayah garis Wallacea.

Baca juga: 

“Pengusulan taman nasional dan warisan dunia merupakan langkah preventif berbasis bukti ilmiah, bukan keputusan politis,” kata Hendra dalam keterangannya, dilansir Selasa (6/1/2026).

Hal itu ia sampaikan pada Konferensi Wallacea Expeditions yang membahas usulan pembentukan kawasan konservasi berbasis lanskap seluas sekitar 6.000 kilometer.

Lanskap itu mencakup wilayah Sombori, Matarombeo, Tangkelemboke, dan Pegunungan Mekongga di Sulawesi Tenggara.

Usulan Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga jadi taman nasional

Dinilai punya potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa

Berdasarkan penelitian, kawasan Wallacea kehilangan sekitar 1,37 juta hektar hutan dalam satu dekade terakhir. Sulawesi Tenggara menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak.

Sebagai informasi, dilaporkan oleh Kompas.com, Kamis (2/10/2025), "Wallacea" merujuk pada garis yang mengindikasikan keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya di Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Hendra menyebut, kompleks Pegunungan Mekongga seluas 258 hektar menjadi kawasan yang diusulkan sebagai taman nasional, lantaran berperan bagi tiga daerah aluran sungai (DAS) serta 30 sungai yang menopang sistem hidrologi regional.

Kawasan Wallacea. Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga, Sulawesi diusulkan menjadi taman nasional dan warisan dunia.Wikimedia Commons Kawasan Wallacea. Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga, Sulawesi diusulkan menjadi taman nasional dan warisan dunia.

"Kawasan ini juga menyimpan bentang ekosistem langka, mulai dari hutan sub-montana hingga sub-alpin, yang menjadi habitat berbagai satwa endemik Sulawesi, seperti anoa, babirusa, rangkong sulawesi, hingga tarsius,” papar dia.

Hendra optimistis bahwa hasil riset International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) dan rangkaian Wallacea Scientific Expedition Series mengungkap adanya potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa.

Sejumlah spesies mamalia, flora, serangga, serta ratusan mikroorganisme diduga menjadi spesies baru yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.

Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Halu Oleo, La Ode Santiaji Bande memyatakan bahwa lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga memiliki nilai keanekaragaman hayati, geologi, dan arkeologi yang layak diakui sebagai warisan dunia.

Maka dar itu, dia sepakat dengan usulan lanskap tersebut menjadi taman nasional sekaligus warisan dunia.

Baca juga: 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau