Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Korea Selatan dan China Perluas Kerja Sama Terkait Krisis Iklim

Kompas.com, 8 Januari 2026, 16:38 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Korea Selatan dan China memperluas kerja sama di bidang industri, teknologi, dan penanganan krisis iklim. Hal itu diputuskan setelah para pemimpin kedua negara itu menandatangani serangkaian perjanjian pada Senin (5/1/2026).

Polusi udara dan krisis iklim menjadi isu lingkungan yang sensitif secara politik di Asia Timur. Debu halus lintas batas, cuaca ekstrem, dan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) telah memaksa negara-negara di wilayah tersebut untuk berkoordinasi secara regional, khususnya Korea Selatan dan China sebagai negara penghasil emisi GRK terbesar di dunia.

Baca juga:

Korea Selatan dan China kerja sama tangani krisis iklim

Isu yang diangkat dari krisis iklim hingga pasar karbon

Kerja sama Korea Selatan dan China saat ini mencakup krisis iklim, ekonomi sirkular, hingga pengembangan pasar karbon Asia Timur.PIXABAY Kerja sama Korea Selatan dan China saat ini mencakup krisis iklim, ekonomi sirkular, hingga pengembangan pasar karbon Asia Timur.

Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Ekologi dan Lingkungan China mengenai kerja sama di sela-sela pertemuan puncak antara para pemimpin kedua negara, dilansir dari Eco-Business, Kamis (8/1/2026).

MoU ini memperbarui perjanjian kerja sama tahun 2014 untuk pertama kalinya dalam 12 tahun utnuk memperluas kolaborasi di luar isu kualitas udara.

Isu yang diangkat, di antaranya, debu halus dan pasir kuning, penanganan krisis iklim, kebijakan ekonomi sirkular, konservasi keanekaragaman hayati, serta pasar karbon.

Korea Selatan dan China sepakat mengadakan pertemuan para menteri lingkungan hidup dan dialog kebijakan tahunan secara bergantian di tingkat direktur jenderal.

Hal itu untuk meninjau tren kebijakan dan mengembangkan inisiatif bersama berdasarkan kesepakatan tersebut.

Kedua pihak akan menggunakan Pusat Kerja Sama Lingkungan Korea-China sebagai badan pelaksana utama dan penyusun rencana aksi reguler yang menetapkan area prioritas, tujuan jangka menengah, serta proyek-proyek spesifik.

Perjanjian tersebut meliputi penelitian bersama tentang polutan yang memengaruhi kualitas udara dan krisis iklim.

Perjanjian tersebut juga membangun kerja sama dalam penilaian dampak iklim, serta respons terhadap polusi suara dan cahaya.

Pertemuan di tingkat menteri antara Korea Selatan dengan China tersebut telah memperkuat fondasi kerja sama bilateral di bidang iklim dan lingkungan menuju peradaban hijau global yang bebas karbon.

Menteri Iklim Korea Selatan, Kim Sung-hwan mengatakan, pihaknya akan terus memajukan kerja sama dengan China di bidang lingkungan dan iklim untuk menciptakan hasil nyata yang bisa dirasakan masyarakat.

Baca juga:

Perkuat kerja sama antar-kompleks industri

Kedua negara akan promosi kerja sama antar-daerah

Kerja sama Korea Selatan dan China saat ini mencakup krisis iklim, ekonomi sirkular, hingga pengembangan pasar karbon Asia Timur.Xinhua/Chen Yehua Kerja sama Korea Selatan dan China saat ini mencakup krisis iklim, ekonomi sirkular, hingga pengembangan pasar karbon Asia Timur.

Secara terpisah, Kementerian Perindustrian Korea Selatan menyatakan telah menandatangani MoU dengan Kementerian Perdagangan China untuk memperkuat kerja sama antar-kompleks industri.

Kerja sama ini akan berfokus pada peningkatan investasi dan stabilitas rantai pasokan.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, kedua negara akan mempromosikan kerja sama antara kawasan Saemangeum di Korea Selatan dan pusat-pusat industri China di Provinsi Jiangsu, Shandong, dan Guangdong. 

Langkah itu mendukung kolaborasi di bidang komponen dan material, energi hijau, serta sektor bio dan farmasi.

China diperkirakan akan mengirimkan delegasi investasi ke Saemangeum pada 2026.

Baca juga: 

Kerja sama Korea Selatan dan China saat ini mencakup krisis iklim, ekonomi sirkular, hingga pengembangan pasar karbon Asia Timur.Dok. Unsplash/Linda Yuan Kerja sama Korea Selatan dan China saat ini mencakup krisis iklim, ekonomi sirkular, hingga pengembangan pasar karbon Asia Timur.

Di bidang sains dan teknologi, Kementerian Sains dan Teknologi Informasi Korea Selatan menandatangani perjanjian dengan Kementerian Sains dan Teknologi China.

Kerja sama ini bertujuan menghadapi berbagai tantangan global, seperti krisis iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China juga memperluas kolaborasi di bidang teknologi digital. Termasuk, kolaborasi dalam inklusi digital, dengan dialog strategi bilateral yang dijadwalkan akan diadakan di Beijing tahun 2026.

Pemerintah Korea Selatan menyebut perjanjian-perjanjian itu ditandatangani sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperdalam hubungan bilateral.

Terdapat sembilan MoU tambahan yang disimpulkan antara perusahaan-perusahaan dari kedua negara di sektor barang konsumsi, konten, dan rantai pasokan.

Korea Selatan dan China telah bekerja sama dalam isu-isu lingkungan sejak awal tahun 1990-an. Salah satunya, perjanjian kerja sama lingkungan tahun 1993 dan inisiatif selanjutnya, seperti rencana "Langit Biru" yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara lintas batas.

Namun, kemajuannya sering kali tidak merata, dengan perselisihan mengenai tanggung jawab atas polusi debu halus dan transparansi yang terbatas dalam berbagi data.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau