KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa jumlah desa yang terdampak banjir di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat lebih banyak daripada yang dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Ketua Task Force Reaksi Cepat Tanggap Bencana BRIN, Joko Widodo menjelaskan perbedaan data karena metode yang digunakan BRIN berbasis analisis citra radar dan penginderaan jauh, lalu ditambah peta administrasi desa.
Baca juga:
Menurut dia, Aceh menjadi provinsi paling terdampak banjir dan tanah longsor yang terjadi akhir November 2025 lalu. Disusul Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
"Daerah aliran sungai (DAS) terdampak bencana ada 127 das. Sebanyak 51 DAS di Aceh, 34 DAS di Sumatera Utara dan 42 DAS ada di Sumatera Barat," ujar Joko dalam webinar Badai Belum Berlalu: Merancang Pemulihan Terintegrasi & Tata Ruang Adaptif untuk Mitigasi Bencana Berulang dari BRIN, Kamis (8/1/2026).
Suasana hari pertama masuk sekolah di SD Negeri 01 Percontohan, Kampung Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (5/1/2026)Berdasarkan pendataan BRIN, sekitar 3.028 desa terdampak banjir bandang di Aceh, 552 desa di Sumatera Utara, dan 162 desa di Sumatera Barat.
Dalam pemantauan kondisi pasca-bencana, kata Joko, BRIN menggunakan lebih dari 300 citra resolusi tinggi yang terus diperbarui.
Data tersebut telah dibagikan ke berbagai kementerian dan lembaga, termasuk BNPB, Badan Geologi, Kementerian Pertanian, hingga Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk mendukung analisis kerusakan bangunan, lahan pertanian, maupun perencanaan rehabilitasi serta rekonstruksi.
BRIN juga menyiapkan 228 peta layout estimasi rekonstruksi bangunan, jalan, dan jembatan yang disusun sejak fase tanggap darurat agar bisa dimanfaatkan pemerintah pusat dan daerah.
"Platform kami bernama SPECTRA atau Satelit Platform for Emergency Crisis Tracking and Remote Analytics. Semua hasil analisis kami ada di platform SPECTRA, alamatnya spectra.print.go.id. Jadi silakan di situ sudah ada semua datanya, baik yang bentuknya itu web GIS ya, peta berbasis web, atau yang bentuknya layout PDF," papar Joko.
Baca juga:
Para peneliti turut memetakan area mana saja yang kemungkinan perlu direlokasi untuk memitigasi banjir susulan.
Di wilayah Aceh Tamiang, misalnya, dinilai sangat berisiko mengalami banjir karena lokasi permukiman yang berdekatan dengan DAS.
Joko mengusulkan adanya pembangunan infrastuktur yang bisa mencegah luapan air ke rumah warga.
"Karena di Aceh Tamiang sangat memprihatinkan, banyak bangunan rumah yang tinggal lantai dan fondasi dan bersih tersapu banjir, tidak ada bekas dinding, tidak ada atap, isinya rumah juga tidak tahu ke mana dan sangat banyak area yang mengalami seperti itu. Di area itu sekarang banyak dibangun tenda BNPB untuk pengungsian," jelas Joko.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya